“Ut Omnes Unum Sint – All Together Now, Mewujudkan Sekolah Unggul Katolik di Bumi Nusantara”
KUPANG-MIRIFICA.NET. Perayaan Hari Ulang Tahun ke-50+1 Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) Tahun 2025 yang diselenggarakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar peristiwa seremonial, melainkan sebuah pilihan yang sarat makna dan simbolik. Kupang, sebagai wilayah dengan basis umat Katolik yang kuat sekaligus representasi wajah Indonesia yang majemuk, menjadi ruang perjumpaan yang menegaskan kembali peran strategis pendidikan Katolik dalam membangun harmoni, merawat persaudaraan, dan menumbuhkan harapan di tengah keberagaman sosial, budaya, dan iman.

Dalam semangat syukur dan kebersamaan, MNPK menyelenggarakan rangkaian Hari Studi dan Perayaan HUT ke-50+1 Tahun selama empat hari, Senin–Kamis, 15–18 Desember 2025, bertempat di Kristal Hotel Kupang. Kegiatan ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan pendidikan Katolik dari seluruh Indonesia: Ketua Komisi Pendidikan (KOMDIK) Keuskupan, Sekretaris Eksekutif Komisi Pendidikan KWI, Pengurus Majelis Pendidikan Katolik (MPK) dari 38 keuskupan, pengurus yayasan LPK, serta para kepala sekolah. Kehadiran mereka mencerminkan satu tekad bersama untuk memperkuat sinergi dan memperbaharui komitmen dalam menjawab tantangan zaman melalui pendidikan Katolik yang bermutu, relevan, dan berakar pada nilai Injili.Momentum perayaan ini menjadi ruang refleksi mendalam atas perjalanan panjang MNPK sekaligus peneguhan arah masa depan pendidikan Katolik di Indonesia. Mengusung tema besar “Ut Omnes Unum Sint – All Together Now: Mewujudkan Sekolah Unggul Katolik di Bumi Nusantara”, perayaan ini mengingatkan kembali pada doa Yesus, Sang Guru Kehidupan dari Nazaret: “Supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh. 17:21). Seruan persatuan ini menjadi fondasi spiritual, moral, dan intelektual bagi gerak pendidikan Katolik, sebuah kesatuan yang tidak meniadakan perbedaan, melainkan merangkul keberagaman dalam keharmonisan dan kasih.
Berangkat dari spiritualitas tersebut, MNPK menegaskan panggilannya untuk mengembangkan pendidikan Katolik yang holistik, humanis, dan berwawasan ekologis. Pendidikan Katolik dipanggil untuk membentuk manusia seutuhnya, mengintegrasikan kecerdasan intelektual, emosional, moral, spiritual, serta kepedulian sosial dan ekologis. Melalui proses ini, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi pribadi beriman, berkarakter, berbelarasa, dan siap berkarya bagi Gereja, bangsa, serta kemanusiaan universal di tengah keberagaman Bumi Nusantara.

Keberpihakan kepada mereka yang lemah dan terpinggirkan ditegaskan sebagai dimensi hakiki dari spiritualitas pendidikan Katolik. Pendidikan tidak boleh menjadi hak istimewa segelintir orang, melainkan jalan pembebasan bagi mereka yang miskin, tertinggal, dan tersisih. Dengan semangat solidaritas sosial, MNPK meneguhkan bahwa setiap kebijakan dan program pendidikan harus berpijak pada martabat manusia, sehingga pendidikan sungguh menjadi sarana keadilan sosial dan jembatan menuju kesejahteraan bersama.
Rangkaian Hari Studi dibuka dengan refleksi pastoral yang mendalam oleh Mgr. Hironimus Pakaenoni, Uskup Keuskupan Agung Kupang. Dalam paparannya, beliau menegaskan hakikat Gereja sebagai communio dan mission, persekutuan yang diutus untuk melayani. Gereja, di tengah dunia yang semakin sekuler, dipanggil menjadi kota diakonos, pelayan yang berjuang demi keseluruhan. Pendidikan dipandang sebagai sarana utama membangun harapan dan pelayanan kasih. Pendidik sejati adalah mereka yang terhubung secara emosional dan etis, dengan hati sebagai sumber kepekaan moral dan tindakan kritis. Sekolah Katolik dipanggil untuk terbuka bagi semua, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai Kekatolikan, melalui pedagogi transformatif yang kritis, kontekstual, dan membangkitkan kesadaran sosial menuju tindakan nyata. Gereja adalah rumah pendidikan, dan sekolah adalah komunitas pembelajar yang hidup dari sinergi antara keuskupan, paroki, tarekat, orang tua, alumni, masyarakat, pemerintah, dan LPK, dengan prinsip solidaritas dan subsidiaritas yang terus ditumbuhkembangkan.

Pemaknaan ini diperkaya oleh Romo Antonius Vico Kristiawan, Sekretaris Eksekutif Komisi Pendidikan KWI, yang menegaskan pentingnya dukungan otoritas moral hierarki Gereja, khususnya Konferensi Waligereja Indonesia dan para Uskup. Dukungan ini menjadi peneguhan arah dan legitimasi karya pendidikan Katolik melalui MNPK, agar sekolah Katolik tidak sekadar menjadi institusi akademik, tetapi sungguh menjadi sarana pewartaan Injil yang melahirkan pribadi-pribadi cerdas, adil, berbelarasa, dan berkomitmen pada kemanusiaan semesta.
Dari perspektif kebijakan nasional, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, memaparkan arah Kebijakan Pendidikan Bermutu Unggul untuk Semua sebagai wujud komitmen negara dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai sistem yang seragam, melainkan sebagai ruang yang memberi kesempatan setara bagi setiap anak bangsa untuk mengembangkan potensi terbaiknya melalui pendekatan gifted education dan talent education. Dalam kerangka tersebut, kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan Katolik dipandang sebagai kemitraan strategis yang saling menguatkan, demi menyiapkan generasi masa depan yang unggul, berkarakter, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Kontribusi konkret sekolah Katolik dalam pembangunan daerah ditegaskan oleh Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., A.Pt., Gubernur Nusa Tenggara Timur. Ia menyoroti peran sekolah Katolik dalam membangun sumber daya manusia NTT melalui pendidikan berbasis iman dan pembentukan karakter. Sekolah Katolik tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi menanamkan nilai moral, spiritual, dan kepedulian sosial yang melahirkan generasi berintegritas.
Dimensi historis pendidikan Katolik di Indonesia dipaparkan secara mendalam oleh Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A., Guru Besar Universitas Gadjah Mada. Ia menelusuri perjalanan panjang sekolah Katolik sejak masa pra-kemerdekaan hingga era globalisasi, menegaskan konsistensi pendidikan Katolik dalam memadukan pelayanan kemanusiaan, mutu akademik, tata kelola yang baik, dan spiritualitas yang kokoh, dengan strategi sinergi visi, manajerial subsidiaritas, dan kepekaan terhadap dinamika kebijakan serta sosial.
Sebagai peneguhan arah masa depan, Bapak Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., Dosen Universitas Sanata Dharma, menguraikan konsep Kurikulum Unggul Katolik sebagai pendidikan transformatif yang memadukan kecakapan abad ke-21 dengan nilai Kristiani. Sekolah Katolik dipahami sebagai komunitas pembelajar dengan identitas yang jelas, budaya dialog yang hidup, partisipasi aktif umat awam, dan kepemimpinan transformatif yang melayani. Tujuh langkah strategis yang ditawarkan, mulai dari sistem mutu berbasis spiritualitas dan data, penguatan peran guru sebagai formator, program beasiswa dan inklusi, pedagogi reflektif, digitalisasi beretika, jejaring ekosistem pendidikan Katolik, hingga kepemimpinan berbasis nilai yang menjadi peta jalan menuju sekolah Katolik yang unggul dan relevan.

Hari Studi dan Perayaan HUT MNPK ke-50+1 Tahun 2025 akhirnya menjadi lebih dari sekadar rangkaian agenda dan perayaan usia. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan batin, tempat refleksi, konsolidasi, dan pembaruan komitmen bersama seluruh insan pendidikan Katolik di Indonesia. Di Kupang, dari Timur Nusantara, kembali digaungkan harapan bahwa pendidikan Katolik akan terus berjalan setia pada jati dirinya, berakar pada iman, berpihak pada martabat manusia, dan terbuka pada zaman.
Dalam semangat Ut Omnes Unum Sint, MNPK meneguhkan tekad untuk melangkah bersama tanpa meninggalkan siapa pun, membangun sekolah-sekolah Katolik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menghadirkan kasih, keadilan, dan pengharapan. Dari ruang-ruang kelas hingga pelosok Nusantara, pendidikan Katolik dipanggil menjadi terang yang menuntun, tangan yang merangkul, dan hati yang melayani, demi terwujudnya masa depan bangsa yang lebih manusiawi, beradab, dan penuh kasih.
Jakarta, 12 Januari 2026
Komisi Pendidikan KWI
Galery Photo



Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.
