Komsos Atambua, Komsos KWI, Keuskupan Atambua, KWI, Pe;atihan Komik Atambua, Pelatihan Katekese melalui Komik Atambua, Mgr Dominikus Saku
Foto: Komsos Atambua

Pelatihan Katekese Melalui Komik bersama Komsos Atambua dan Komsos KWI

Ada momen-momen yang tak terduga, di mana seseorang menemukan bahwa iman bisa disampaikan bukan hanya melalui mimbar atau teks tebal kitab suci, tetapi lewat goresan pensil di atas kertas yang sederhana. Itulah yang terjadi pada 22–23 Juni 2026 di Atambua: dua puluh lima orang berkumpul, mengambil pensil, dan mulai menggambar jalan mereka menuju Kristus.

Pelatihan Katekese Melalui Komik yang digagas oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Atambua bekerja sama dengan Komsos KWI ini bukan sekadar kursus menggambar. Ia adalah sebuah eksplorasi—sebuah pertanyaan besar yang diajukan bersama: seberapa luas sebenarnya rumah katekese kita?

Di Balik Setiap Kotak Komik, Ada Pewarta

Dua fasilitator hadir dengan penuh dedikasi: Diakon Varet dan Pak Bowo. Dengan sabar dan tekun, keduanya mendampingi para peserta menavigasi dunia komik—dari anatomi panel, ekspresi wajah karakter, hingga bagaimana sebuah balon teks bisa menjadi wadah sabda. Bukan tugas yang mudah, apalagi ketika tidak semua peserta merasa yakin dengan kemampuan menggambar mereka.

“Tidak semua dari kami bisa menggambar dengan baik,” ungkap seorang peserta. “Tapi ternyata itu bukan halangan. Yang penting adalah keberanian untuk mencoba.” Dan mencoba itulah yang mereka lakukan—dengan sungguh-sungguh dan penuh sukacita. Komik-komik pribadi lahir dari tangan-tangan yang mungkin lebih terbiasa memegang rosario daripada pensil. Karya-karya kelompok muncul dari diskusi yang hangat, dari pertukaran gagasan tentang bagaimana cinta Kristus bisa digambarkan dalam tiga atau empat kotak sederhana.

Komsos Atambua, Komsos KWI, Keuskupan Atambua, KWI, Pe;atihan Komik Atambua, Pelatihan Katekese melalui Komik Atambua, Mgr Dominikus Saku
Foto: Komsos Atambua

Romo Ino, Ketua Komsos Atambua, hadir bukan hanya sebagai pendamping seremonial. Ia adalah nyala api di tengah ruangan itu. Semangatnya yang menyala-nyala menular pada setiap peserta—mengingatkan mereka bahwa pekerjaan ini bukan sekadar latihan seni, melainkan panggilan untuk menghadirkan kabar sukacita dengan cara yang segar dan menjangkau.

Katekese Tak Mengenal Satu Wajah

Gereja telah lama mengenal keberagaman dalam mewartakan iman. Ada khotbah, ada bacaan rohani, ada lagu pujian, ada teater dan drama liturgi. Pelatihan ini menambahkan satu lagi ke dalam deretan panjang itu: komik dan kartun.

Mengapa komik? Karena gambar berbicara melampaui batas kata. Seorang anak kelas tiga SD, seorang remaja yang lelah dengan homili panjang, seorang lansia yang sudah sulit membaca teks kecil—mereka semua bisa tersentuh oleh ekspresi wajah yang digambar dengan sederhana dan kata-kata yang ringkas dalam balon teks. Komik dan kartun memiliki kekuatan demokratis: ia menjangkau semua usia, semua latar pendidikan, semua kondisi.

Komsos Atambua, Komsos KWI, Keuskupan Atambua, KWI, Pe;atihan Komik Atambua, Pelatihan Katekese melalui Komik Atambua, Mgr Dominikus Saku
Foto: Komsos Atambua

Ini bukan inovasi tanpa akar. Gereja Perdana menggunakan simbol dan gambar di katakombe untuk mewartakan iman di tengah penganiayaan. Hari ini, di ruang pelatihan di Atambua, semangat yang sama hidup kembali—hanya kali ini dengan pensil warna dan spidol hitam.

“Kita sadar banyak kemungkinan untuk menghadirkan karya cinta Kristus kepada dunia. Kartun menjadi salah satu cara yang bisa dikembangkan karena akan memudahkan aneka kalangan usia menangkap pesannya.”

Api yang Tak Padam di Atambua

Yang paling menggerakkan dari pelatihan ini bukanlah teknik menggambar yang dikuasai, bukan pula jumlah komik yang dihasilkan. Yang paling berharga adalah semangat yang berkobar dalam diri para Komsoser Atambua—mereka yang rela meluangkan dua hari penuh, meninggalkan kesibukan sehari-hari, untuk belajar cara baru mewartakan kasih Tuhan.

Dalam dunia yang bergerak begitu cepat—di mana perhatian manusia diperebutkan oleh ribuan konten setiap detiknya—Gereja dipanggil untuk kreatif. Bukan kreatif demi kreativitas itu sendiri, melainkan kreatif karena pesan yang kita bawa adalah pesan yang paling penting yang pernah ada di muka bumi: bahwa Tuhan mengasihi manusia, tanpa syarat, sampai habis.

Komsos Atambua, Komsos KWI, Keuskupan Atambua, KWI, Pe;atihan Komik Atambua, Pelatihan Katekese melalui Komik Atambua, Mgr Dominikus Saku
Foto: Komsos Atambua

Para peserta pelatihan ini telah memilih untuk menjadi bagian dari kreativitas itu. Mereka pulang bukan hanya dengan keterampilan baru, tetapi dengan cara pandang baru: bahwa setiap pensil bisa menjadi pena kenabian, bahwa setiap gambar bisa menjadi doa, bahwa setiap komik bisa menjadi injil mini yang sampai ke tangan orang yang mungkin tak pernah membuka alkitab.

Undangan untuk Kita Semua

Semangat para Komsoser Atambua adalah cermin bagi kita masing-masing. Di manapun kita berada—di paroki, di keluarga, di lingkungan kerja—kita memegang tanggung jawab yang sama: menghadirkan kasih Tuhan dengan cara terbaik yang kita bisa.

Mungkin caramu bukan komik. Mungkin itu musik, mungkin itu memasak untuk tetangga, mungkin itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Yang penting adalah: jangan berhenti mencari. Jangan lelah menemukan. Karena dunia sangat membutuhkan pewarta-pewarta yang bersemangat, yang tidak pernah menyerah mencari jalan baru untuk mengatakan: Tuhan mengasihimu.

Dari Atambua, api itu sudah dinyalakan. Kini giliran kita masing-masing untuk terus menyalakannya.*

Komsos Atambua, Komsos KWI, Keuskupan Atambua, KWI, Pe;atihan Komik Atambua, Pelatihan Katekese melalui Komik Atambua, Mgr Dominikus Saku
Foto: Komsos Atambua

*Mogoeng