Keuskupan Agung Ende, Gereja KAtolik Ende, Gereja Katolik Flores, Uskup Ende, Mgr Paul Budi Kleden, Matalo9ko, Misa Hidup Bakti Mataloko 2026, Komsos ENde, Uskup Paul
Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende

“Dipersembahkan, Dimurnikan untuk Menjadi Terang”

MIRIFICA.NET-MATALOKO. Senin 2 Februari 2025 — Gereja Paroki Roh Kudus Mataloko dipenuhi umat dan para anggota hidup bakti dalam suasana khidmat dan penuh syukur saat berlangsung Perayaan Ekaristi Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah yang sekaligus dirayakan sebagai Hari Hidup Bakti. Perayaan ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, dan dihadiri oleh para imam, biarawan-biarawati dari berbagai kongregasi, serta umat paroki.

Dipersembahkan dan Dimurnikan untuk Menjadi Terang

Dalam pengantar perayaan, Uskup Agung Ende mengajak seluruh umat merenungkan tema perayaan, “Dipersembahkan, dimurnikan untuk menjadi terang.” Tema ini menegaskan makna pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah sekaligus jati diri hidup bakti: sebuah panggilan untuk mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, membiarkan diri dimurnikan, dan kemudian diutus untuk meneruskan terang Allah melalui kesaksian hidup dan pelayanan.

Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende

Umat diajak dengan rendah hati mengakui kelemahan dan dosa, memohon belas kasih Tuhan agar semakin dimurnikan dan dikuatkan untuk menjadi terang bagi sesama dan bagi dunia.

Hidup Bakti: Dipersembahkan, Dimurnikan, dan Diutus

Dalam homilinya yang mendalam dan reflektif, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD menegaskan bahwa hidup bakti pada hakikatnya adalah hidup yang dipersembahkan, dimurnikan, dan diutus menjadi terang, terutama di tengah dunia yang terluka.

Ia menekankan bahwa para anggota hidup bakti dipanggil untuk menjadi saksi kenabian tentang perdamaian, bukan sebagai pribadi yang tanpa luka, melainkan justru sebagai manusia yang menyadari kelemahan dan keterbatasannya sendiri. Dengan merujuk pada Surat kepada Orang Ibrani, Uskup menegaskan bahwa hanya dengan mengakui dan menerima luka-luka pribadi, seseorang dapat menolong dan menyembuhkan sesama.

Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende

“Hidup bakti tidak membawa kita lari dari realitas dunia,” tegasnya, “melainkan menempatkan kita di tengah dunia yang nyata, dengan segala keindahan, penderitaan, dan tantangannya.” Hidup bakti menemukan maknanya ketika para religius sungguh hadir di tengah umat, peka terhadap penderitaan manusia dan kerusakan alam, sekaligus mampu bersukacita atas tanda-tanda kecil kebaikan yang tumbuh di masyarakat.

Yesus Menyatukan Generasi

Uskup Agung Ende juga menyoroti Injil hari itu yang menampilkan tiga generasi—Yesus, Maria dan Yosef, serta Simeon dan Hana—yang dipersatukan oleh kehadiran Kristus. Ia mengaitkan hal ini dengan realitas komunitas hidup bakti dewasa ini yang kerap mengalami ketegangan lintas generasi.

Menurutnya, konflik sering muncul karena rasa tidak dihargai, baik dari generasi muda maupun generasi tua. Namun, ketika Yesus menjadi pusat perhatian dan perutusan, perbedaan dapat diperdamaikan. “Yang harus menjadi besar dan kuat adalah Yesus,” ungkapnya, seraya mengingatkan bahwa perutusan hidup bakti jauh lebih penting daripada kepentingan pribadi dan ketersinggungan masing-masing.

Pembaruan Kaul Hidup Bakti

Puncak perayaan ditandai dengan pembaruan kaul hidup bakti. Para biarawan dan biarawati berdiri dengan lilin bernyala di tangan, sebagai simbol terang Kristus, untuk memperbarui komitmen hidup taat, murni, dan miskin.

Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende

Dalam ajakannya, Uskup Agung Ende mengundang para anggota hidup bakti untuk kembali meneguhkan pilihan hidup Injili, setia pada aturan dan konstitusi kongregasi masing-masing, serta menghidupkan semangat kemurahan hati demi pelayanan kepada umat Allah. Doa berkat pun dipanjatkan agar Tuhan menyempurnakan karya-Nya dalam diri setiap anggota hidup bakti dan menjadikan mereka saksi kasih-Nya di tengah dunia.

Penutup

Perayaan Ekaristi Pesta Yesus Dipersembahkan dan Hari Hidup Bakti ini menjadi momen rahmat untuk pembaruan diri, baik secara pribadi maupun komunitas. Melalui perayaan ini, para anggota hidup bakti diteguhkan untuk terus memurnikan motivasi hidup dan pelayanan, tidak mencari kepentingan diri, melainkan setia mengikuti Kristus yang telah lebih dahulu mempersembahkan diri-Nya bagi keselamatan dunia.

Kiranya semangat dipersembahkan, dimurnikan, dan diutus menjadi terang terus menghidupi perjalanan Gereja Keuskupan Agung Ende dan menjadi berkat bagi dunia yang merindukan damai.

Galeri Dokumentasi

Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende
Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende
Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende
Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende
Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende
Foto: Komsos Keuskupan Agung Ende