“Rebranding: Bersaksi dengan Aksi”

MIRIFICA.NET Temu Komisi Pendidikan Keuskupan Regio Jawa tahun ini bukan sekadar agenda tahunan yang datang lalu berlalu. Pertemuan ini terasa seperti ruang pulang, tempat Gereja berhenti sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas, lalu menatap dirinya sendiri dengan jujur: masihkah Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) relevan? Masihkah ia menjadi rumah yang membentuk manusia, bukan sekadar mencetak lulusan? Di tengah realitas yang semakin kompleks, pertanyaan itu tidak bisa lagi dihindari. Jumlah peserta didik terus menurun. Guru Katolik yang kompeten sekaligus memiliki spiritualitas pelayanan semakin langka. Strategi pemasaran sering kali masih berjalan setengah hati. Bahkan, tidak sedikit sekolah Katolik yang mulai kehilangan “cerita” tentang siapa dirinya dan untuk apa ia hadir. Karena itu, tema “Rebranding: Bersaksi dengan Aksi” terasa begitu tepat sekaligus menggugah. Tema ini bukan lahir dari keinginan mengikuti tren dunia pendidikan modern semata, melainkan dari kesadaran mendalam bahwa pendidikan Katolik harus tetap berakar kuat pada iman Kristiani, namun sekaligus berani berbicara dengan bahasa zaman.
Selama tiga hari, 7–9 Mei 2026, Gedung Pusat Pastoral Bumi Silih Asih dan Kampus Santa Angela Bandung menjadi ruang perjumpaan yang hidup. Hadir utusan dari tujuh Keuskupan Regio Jawa (Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bogor, Keuskupan Bandung, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Malang, dan Keuskupan Surabaya) bersama Komisi Pendidikan KWI, yayasan-yayasan pendidikan, para pastor dekenat Keuskupan Bandung, tarekat hidup bakti, hingga perguruan tinggi Katolik. Lebih dari sekadar forum resmi, suasana yang tercipta terasa hangat, reflektif, dan penuh semangat untuk bergerak bersama. Pertemuan ini memperlihatkan wajah Gereja yang sungguh sinodal: duduk bersama, mendengarkan bersama, memikirkan masa depan bersama.

Dalam homili misa pembukaan, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (Uskup Keuskupan Bandung sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Indonesia) menegaskan bahwa pendidikan karakter bukan pelengkap dalam pendidikan Katolik, melainkan jantungnya. Pendidikan Katolik tidak boleh berhenti pada capaian akademik atau kebanggaan angka-angka prestasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sekolah mampu membentuk manusia yang utuh: matang secara moral, kuat secara spiritual, dan memiliki kepedulian sosial yang nyata. Mengutip pemikiran Thomas Lickona, pendidikan karakter bergerak dalam tiga tahap: knowing the good, desiring the good, dan doing the good. Kebaikan bukan hanya dipahami, tetapi dicintai dan diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Karakter yang baik tidak lahir dari slogan moral atau ceramah panjang. Ia tumbuh dari keteladanan, budaya sekolah yang sehat, relasi yang manusiawi, dan nilai-nilai yang benar-benar dihidupi.
Salah satu sesi yang paling menggugah datang dari Romo Fransiskus Samong (Sekretaris Keuskupan Bandung) yang berbicara tentang makna rebranding secara lebih mendalam. Rebranding bukan sekadar mengganti logo, mempercantik media sosial, atau membuat slogan baru yang terdengar modern. Rebranding sejati harus menyentuh pengalaman nyata masyarakat. Orang tidak percaya pada iklan; mereka percaya pada pengalaman yang mereka rasakan sendiri. Ia menggambarkan proses rebranding seperti kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu. Bentuknya berubah, tetapi inti kehidupannya tetap sama. Identitas tetap dipertahankan, namun cara hadir dan cara melayani diperbarui. Perubahan itu juga tidak pernah mudah. Selalu ada fase kehilangan, kebingungan, dan ketidakpastian sebelum akhirnya lahir awal yang baru. Namun justru di situlah transformasi terjadi, bukan hanya pada struktur, tetapi di dalam batin.

Menariknya, setiap keuskupan membawa warna dan kekuatannya masing-masing. Dan justru keberagaman itulah yang membuat mozaik pendidikan Katolik di Regio Jawa terasa hidup. Keuskupan Agung Jakarta menekankan pentingnya ekosistem pastoral: sekolah, keluarga, paroki, dan komunitas harus bergerak bersama. Keuskupan Surabaya berbicara tentang evangelisasi dan pentingnya sinergi nyata antarlembaga pendidikan. Keuskupan Bandung menghadirkan pendekatan reflektif dan kolaboratif melalui Musyawarah Pendidikan. Keuskupan Bogor bergumul dengan tantangan sebagai Gereja minoritas di wilayah yang luas. Keuskupan Purwokerto menekankan pentingnya membaca data sebagai dasar keputusan pastoral. Keuskupan Agung Semarang memperlihatkan kekuatan pendekatan budaya lokal yang membumi. Sementara Keuskupan Malang memberi perhatian besar pada pendampingan pelajar dan mahasiswa perantau. Setiap keuskupan mungkin memiliki tantangan berbeda, tetapi mereka memiliki kegelisahan yang sama: bagaimana membuat pendidikan Katolik tetap hidup, dicintai, dan relevan di tengah dunia yang berubah sangat cepat.

Dalam sesi utama tentang Rebranding: Bersaksi dengan Aksi, Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M.Phil., M.A. menyampaikan refleksi yang sangat tajam: branding sesungguhnya adalah cerita tentang siapa diri kita. Apa yang ingin sekolah katakan kepada dunia? Apa yang membuatnya berbeda? Ia menegaskan bahwa Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) hari ini sedang berdiri di persimpangan besar. Disrupsi digital mengubah cara keluarga memilih sekolah. Kompetisi semakin keras. Kepercayaan publik tidak bisa lagi dibangun hanya lewat nama besar masa lalu. Karena itu, LPK perlu berani melakukan diagnosis yang jujur terhadap dirinya sendiri: mengapa peserta didik menurun? Mengapa identitas semakin kabur? Mengapa sekolah kehilangan daya tarik? Jawabannya bukan sekadar memperbaiki gedung atau menambah fasilitas mewah. Yang paling dibutuhkan adalah diferensiasi, pengalaman pendidikan yang khas dan bermakna. Sekolah Katolik harus punya budaya yang manusiawi, relasi yang hangat, karakter lulusan yang kuat, dan kesaksian hidup yang nyata. Rebranding sejati bukan soal tampilan luar, melainkan pembaruan cara berpikir, cara melayani, dan cara menghadirkan nilai Injil dalam dunia pendidikan modern.

Dalam sesi talkshow, Romo Antonius Vico Christiawan, SJ (Sekretaris Eksekutif Komisi Pendidikan KWI) menegaskan bahwa rebranding bukan sekadar mengganti logo atau membuat slogan yang terdengar keren, melainkan membangun ulang cara lembaga berpikir, melayani, dan dipercaya. Transformasi sekolah harus menyentuh tangible assets (aset berwujud) seperti identitas visual, lingkungan sekolah, media sosial, dan tata kelola finansial yang menjawab kebutuhan sekolah, murid, orang tua, serta masyarakat sekaligus memperkuat intangible assets (aset takberwujud): budaya sekolah, professional learning community, relasi yang hangat, integritas pelayanan, peran alumni, dan citra lembaga di mata publik. Sebab pada akhirnya, orang mungkin datang karena fasilitas, tetapi mereka akan bertahan karena merasa diterima, dihargai, dan bertumbuh bersama
Sementara itu, Sr. Mauren Damayanto, OSU membagikan pengalaman pengelolaan sekolah Ursulin yang memberi ruang bagi setiap sekolah untuk membangun value proposition, positioning dan identitasnya sendiri. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan inklusif, terutama dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas. Pendidikan Katolik, katanya, harus menjadi rumah yang menerima setiap pribadi dengan martabat yang sama. Alumni juga tidak boleh dipandang hanya sebagai “mantan siswa”, tetapi sebagai wajah hidup dari dampak pendidikan Katolik itu sendiri.
Prof. Tri Basuki Joewono, Ph.D kemudian memperlihatkan bagaimana transformasi institusi di Universitas Parahyangan dapat lahir melalui jejaring, kreativitas, keberanian berkolaborasi, dan keberlanjutan. Pendidikan tidak boleh berjalan sendirian. Ia harus terhubung dengan realitas sosial dan kebutuhan zaman. Namun mungkin, kalimat paling penting dari seluruh rangkaian pertemuan ini adalah pertanyaan sederhana yang terus menggema: “Kita mau berbuat apa dengan situasi ini?” Pertanyaan itu menjadi tamparan sekaligus undangan. Pendidikan Katolik tidak boleh berhenti pada diskusi, seminar, atau kesadaran akan masalah. Ia harus bergerak menuju tindakan nyata. Karena sesungguhnya, sekolah Katolik yang hebat bukan pertama-tama yang memiliki gedung paling megah atau fasilitas paling modern. Sekolah Katolik yang hebat adalah sekolah yang memiliki guru-guru yang dirindukan muridnya, guru yang hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai sahabat, pendamping, dan saksi kehidupan.

Dari pertemuan ini lahirlah banyak komitmen bersama: memperkuat koordinasi antar-Komisi Pendidikan Keuskupan dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan, membangun pusat pendidikan Katolik, memperkuat karakter peserta didik, mengembangkan komunitas belajar guru, membangun website pendidikan Katolik Indonesia, hingga memperkuat solidaritas dan soliditas antar-LPK. Ada juga gagasan menarik tentang Bulan Renungan Pendidikan, sebuah gerakan refleksi bersama yang diharapkan mampu menghidupkan kembali spiritualitas pendidikan Katolik di Regio Jawa.
Pada akhirnya, Temu Komisi Pendidikan Regio Jawa 2026 tidak berhenti sebagai dokumen atau kumpulan notulensi rapat. Ia menjadi ruang lahirnya harapan baru. Harapan bahwa pendidikan Katolik masih punya masa depan. Harapan bahwa Gereja masih percaya pada dunia pendidikan sebagai jalan perutusan. Harapan bahwa sekolah-sekolah Katolik masih bisa menjadi tempat lahirnya manusia-manusia yang utuh, berbelas kasih, cerdas, dan berkarakter. Sebab rebranding yang sesungguhnya tidak pernah dimulai dari logo baru atau slogan yang indah. Ia dimulai dari hati yang mau dibarui. Dari komunitas yang mau bergerak bersama. Dan dari keberanian untuk terus bersaksi bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.*
Rabu, 13 Mei 2026
*Ranti Marie, S.Pd., M.Pd._Staf Komisi Pendidikan KWI
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.
