Beranda SEPUTAR VATIKAN Urbi Ada Apa dengan Rumah Kita

Ada Apa dengan Rumah Kita

Narasumber seminar

JAKARTA – Tidak bisa disangkal, pelaku kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini justru berasal dari orang-orang dekat yang hidup bersama dalam satu rumah.

SONY DSC
Peserta seminar tampak serius mengikut sharing dari para narasumber seminar di ruang sidang KWI, Kamis (3/12/2015).

“Predator kekerasan terhadap anak justru dilakukan oleh ayah kandung, ayah tiri, paman, kakak, tukang kebun, sopir jemputan dan kerabat dekat keluarga”, ujar Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Putu Elvina saat seminar yang berlangsung ruang sidang Kantor Konferensi Waligereja Indonesia, Kamis (3/12/2015).

Berbicara di hadapan sekitar 120 peserta seminar yang didominasi oleh kaum perempuan, wanita kelahiran Denpasar Bali itu mengungkapkan, sekitar 28 persen pelaku kekerasan terhadap anak adalah ayah kandung sendiri. “Seorang ayah yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anak justru menjadi predator kekerasan.”

Elvina pun mengungkap penyebab terjadinya kasus kekerasan terhadap anak dikarenakan orang tua absen absen dari anak-anak.“Absennya orang tua bukan hanya dari aspek fisik semata, tetapi juga dari aspek emosional,” tandasnya.

Hal itu dapat dipahami mengingat, ada begitu banyak orang tua yang menyerahkan pola asuh anak sepenuhnya kepada pembantu rumah tangga dan panti asuhan.

Seminari Dasar

Narasumber lainnya,  Ketua Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia, Pastor Hibertus Hartono yang berbicara tentang keluarga dari perspektif Katolik mengatakan, kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga dapat diminimalisir apabila suami dan isteri sungguh-sungguh menghayati arti dan tujuan mulia hidup berkeluarga.

“Keluarga dapat dialami sebagai sebuah komunitas yang hidup dan bergairah apabila anggota-anggotanya sungguh merasa dihargai, dipelihara dan dijaga”, katanya.

Sayangnya, menurut Pastor Hartono, kekerasan terhadap anak dalam skala kecil masih sering terjadi dalam kehidupan keluarga sehari-hari, ketika orang tua memaksakan kehendaknya terhadap anak sehingga anak tidak bisa bertumbuh kembang dengan baik.

“Anak seringkali menjadi target proyek dari orang tua, sementara potensi  anak yang harusnya mendapat perhatian dari orang tua justru diabaikan”, tegas Pastor Hartono sambil kemudian menayangkan sebuah film pendek yang menghisahkan seorang anak bernama Liu Kok Pin dipaksa oleh ibunya agar selalu bagus dalam memperoleh nilai matematika.

Dalam seminar tersebut, hadir pula dua narasumber lainnya, Anna Surti Ariani dan Robby H. Prawira Negara mewakili Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Seminar bertajuk “Peran Perempuan dan Keluarga dalam Mencegah Kekerasan Terhadap Anak” itu diselenggarakan oleh Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan Konferensi Waligereja Indonesia.