Bacaan, Bacaan Kitab Suci, bait allah, Firman Tuhan, iman, Kitab Suci, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Yesus Juruselamat, penyejuk iman, Ziarah Batin 2025, OBOR, Obormedia, Toko Rohani OBOR, Pewarta Iman, Katekese, Katolik, Iman Katolik, Paus Fransiskus, ensiklik Laudato Si, renungan harian, Bacaan, Mazmur Tanggapan, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, pewartaan, Umat Katolik, Hari Minggu Biasa XXX, Penyejuk Hati, sabda Allah, Oase Katolik, Renungan Pagi, Sabda Tuhan, Mirifica News, Renungan MIrifica, Renungan Komsos KWI, Renungan Mirifica, Bacaan Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik Minggu 26 Oktober 2025, Paus Leo IV
Ilustrasi

Hari Minggu, Pekan Biasa XXX
St. Lucianus & Marcianus
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Sirakh 35:12-14.16-18

Doa orang miskin menembusi awan.

Bacaan dari Kitab Putera Sirakh:

Tuhan adalah Hakim yang tidak memihak. Ia tidak memihak dalam perkara orang miskin, tetapi doa orang yang terjepit didengarkan-Nya. Jeritan yatim piatu tidak Ia abaikan, demikian pula jeritan janda yang mencurahkan permohonannya.

Tuhan berkenan kepada siapa saja yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sebelum mencapai tujuannya. Ia tidak berhenti sebelum Yang Mahatinggi memandangnya, dan Yang Mahatinggi memberikan hak kepada orang benar dan menjalankan pengadilan.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan: Mazmur 34:2-3.17-18.19.23; R:7a

Orang yang tertindas berseru, dan Tuhan mendengarkan.

  • Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu; puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.
  • Wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi. Apabila orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar; dari segala kesesakannya mereka Ia lepaskan.
  • Tuhan itu dekat kepada orang yang patah hati, Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Tuhan membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

Bacaan II: 2 Timotius 4:6-8.16-18

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran.

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius:

Saudaraku terkasih, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan, dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak ada seorang pun yang membantu aku; semuanya meninggalkan aku. Kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka. Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di surga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil: 2 Korintus 5:19

Dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dan mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

Bacaan Injil: Lukas 18:9-14

Pemungut cukai ini pulang ke rumahnya, sebagai orang yang didengarkan Allah, sedang orang Farisi itu tidak.

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sekali peristiwa Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang satu adalah orang Farisi, dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain; aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini! Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedang orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

Dua tokoh dalam Injil Lukas hari ini, orang Farisi dan pemungut cukai, mewakili dua kecenderungan sikap hati terhadap Tuhan dan sesama. Orang Farisi datang ke Bait Allah untuk berdoa, tetapi sesungguhnya dia tidak berdoa kepada Tuhan. Ia hanya memuji diri karena setia dan taat menjalankan hukum Taurat sehingga merasa diri sebagai orang yang layak menikmati keselamatan. Dengan itu, sesungguhnya ia menutup hati bagi Tuhan untuk berkarya dalam hidupnya.

Sementara pemungut cukai tampil sebagai orang yang merasa diri berdosa di hadapan Tuhan dan sesama. Dalam keterpurukan hidup, ia berharap penuh atas karya Tuhan yang mengampuni yang memberkati hidupnya. Sikap doanya menggambarkan perasaan diri yang tidak layak di hadapan Tuhan dan sesama. Sambil memukul diri dia berdoa, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Menarik, dua tokoh ini ada di tempat yang sama, yaitu Bait Allah. Keduanya sedang menjalankan ibadah sebagai orang beriman. Akan tetapi, sikap hati mereka sungguh berbeda, bahkan bertolak belakang. Justru di sinilah ruang terdalam dari relasi kita dengan Tuhan. Dari sana mengalir motivasi yang benar untuk berdoa dan berbuat baik. Yesus berkata, ”Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa saja yang merendahkan diri akan ditinggikan.”

Terkadang kita terjebak dalam sikap tinggi hati, merasa diri layak sebagai orang yang diselamatkan setelah berupaya untuk menjadi orang beriman yang taat dan saleh. Padahal, keselamatan itu anugerah Allah. Sebagai orang beriman, kita harus senantiasa rendah hati dan membuka diri agar Tuhan dapat berkarya dalam hidup kita. Orang yang sungguh beriman selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Allah Yang Maha Rahim, tuntunlah kami agar kami setia menghayati iman dalam hidup sehari-hari sehingga kami layak menikmati sukacita kekal bersama-Mu, amin.

21 Agustus 2025, Bacaan, bacaan kitab suci hari ini, Injil hari ini, katekese, katolik, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, penyejuk iman, refleksi harian, Renungan hari minggu, renungan harian, renungan harian katolik, sabda tuhan, ziarah batin, Renungan Agustus

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR