Bacaan, Bacaan Kitab Suci, bait allah, Firman Tuhan, iman, Kitab Suci, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Yesus Juruselamat, penyejuk iman, Ziarah Batin 2025, OBOR, Obormedia, Toko Rohani OBOR, Pewarta Iman, Katekese, Katolik, Iman Katolik, Paus Fransiskus, ensiklik Laudato Si, renungan harian, Bacaan, Mazmur Tanggapan, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, pewartaan, Umat Katolik, Hari Minggu Biasa XXXI, Penyejuk Hati, sabda Allah, Oase Katolik, Renungan Pagi, Sabda Tuhan, Mirifica News, Renungan MIrifica, Renungan Komsos KWI, Renungan Mirifica, Bacaan Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik Minggu 9 November 2025, Paus Leo IV
Ilustrasi

Hari Minggu, Pekan Biasa XXXII
Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran
Warna Liturgi: Putih

Bacaan I: Yehezekiel 47:1-2.8-9.12

Aku melihat air mengalir dari dalam Bait Suci; ke mana saja air itu mengalir, semua yang ada di sana hidup.

Bacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Sekali peristiwa aku dibawa malaikat Tuhan ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu, mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci itu juga menghadap ke timur. Air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci, sebelah selatan mezbah. Lalu malaikat itu menuntun aku ke luar melalui pintu gerbang utara, dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur. Sungguh, air itu membual dari sebelah selatan.

Lalu malaikat itu berkata kepadaku, “Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin; maka air yang mengandung banyak garam itu menjadi tawar. Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk yang berkeriapan di dalamnya akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar, dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.

Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak pernah layu, dan buahnya tidak habis-habis. Tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan: Mazmur 46:2-3.5-6.8-9; R:5

Kota Allah yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran sungai.

  • Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut.
  • Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.
  • Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan, yang mengadakan pemusnahan di bumi.

Bacaan II: 1 Korintus3:9b-11.16-17

Kamu adalah tempat kediaman Allah.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara, kamu adalah ladang Allah dan bangunan-Nya. Sesuai dengan kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atas dasar itu. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah, dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil: 2 Tawarikh 7:16

Telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di sini untuk selama-lamanya.

Bacaan Injil: Yohanes 2:13-22

Bait Allah yang dimaksudkan Yesus ialah tubuh-Nya sendiri.

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Ketika sudah dekat hari raya Paskah orang Yahudi, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing-domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Maka Yesus membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing-domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah, dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata, “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan!” Maka teringatlah murid-murid Yesus bahwa ada tertulis, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”

Tetapi orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya, “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka, “Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini, dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Sesudah Yesus bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya. Maka percayalah mereka akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

Tidak sedikit umat kita masih berpandangan bahwa hidup menggereja hanya milik para imam, para religius, biarawan, biarawati, serta para pengurus Gereja yang sehari-hari terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ibadat dan pengajaran. Tentu pandangan tersebut tidak salah. Namun, perlu dipahami lebih lanjut bahwa sejak Gereja Perdana justru umat Allah berjuang terlibat dalam menjalankan misi Kristus. Lalu, para imam, para religius, biarawan, dan biarawati sejak dahulu tumbuh sesuai tantangan zaman dalam hal kekudusan hidup komunitas. Gambaran Bait Allah yang memberi hidup melalui aliran air ke sekitarnya bermakna simbolis bahwa menjadi garam dan terang dunia sangat perlu dilaksanakan oleh siapa pun yang sudah memilih Kristus menjadi bagian hidupnya. Gambaran ini menjadi hidup karena Bait Allah sejati adalah Kristus yang sama-sama kita imani dan kita terima dalam Ekaristi.

Dengan menerima Kristus, kita menjadi tenang dan penuh sukacita. Beberapa pribadi yang baru pertama kali mengikuti Ekaristi karena baptisan dewasa mengatakan bahwa ’batin’ menjadi lebih tenang, nyaman, dan lega setelah perjalanan panjang mengikuti pembinaan hingga baptisan diterima. Mungkin saja itu ungkapan klise, namun kesetiaan mereka sungguh menampilkan kualitas iman dalam pribadi yang baik. Selanjutnya, kita juga dipanggil menjadi pewarta iman melalui cara hidup kita. Demikianlah Kristus dalam setiap Ekaristi yang kita terima memberi tanda hidup bahwa Bait Allah hadir dalam diri yang ekaristis. Karena dengan mengikuti Ekaristi, kita menjadi pembawa kasih Kristus bagi sesama. Marilah kita semakin meneguhkan diri dengan pengalaman rohani kita bersama Yesus karena dengan itu pula kita makin dibentuk menjadi bagian Tubuh Mistik Kristus, Bait Allah yang hidup sampai keabadian.

Ya Yesus, Bait Allah yang kudus dan setia, berbagai tantangan dan perjuangan tak pernah hilang dalam hidup kami. Semoga kami selalu diteguhkan dengan setiap pengalaman bermakna dan kekudusan yang mengarahkan hidup kami, amin.

21 Agustus 2025, Bacaan, bacaan kitab suci hari ini, Injil hari ini, katekese, katolik, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, penyejuk iman, refleksi harian, Renungan hari minggu, renungan harian, renungan harian katolik, sabda tuhan, ziarah batin, Renungan Agustus

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR