Beranda SEPUTAR VATIKAN Urbi Bulan Kitab Suci Nasional: Menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran (Pekan IV)

Bulan Kitab Suci Nasional: Menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran (Pekan IV)

Jesus-Christ: Ilustasi dari www.josaya.com

 MENYEMBAH ALLAH DALAM ROH DAN KEBENARAN

Apa yang dikatakan Yesus mengenai ibadah? Keempat Injil mengisahkan bagaimana Yesus pergi ke Bait Allah dan merayakan pesta-pesta keagamaan Yahudi. Tetapi, Yesus juga menubuatkan kehancuran Bait Allah yang menjadi pusat peribadatan orang Yahudi itu. Dalam khotbah tentang akhir zaman yang disampaikan dalam ketiga Injil Sinoptik, Yesus menyatakan bahwa Bait Allah akan runtuh. Dengan demikian, orang Yahudi tidak dapat lagi beribadah di tempat suci itu. Dalam Injil Yohanes Yesus berbicara tentang menyembah Allah tanpa bergantung pada tempat tertentu. Hal ini disampaikan oleh Yesus ketika berbicara dengan seorang perempuan Samaria di tepi sebuah sumur.

A. Di Mana Menyembah Allah?

Ketika menyadari bahwa Yesus mengetahui kehidupan pribadinya, perempuan itu menarik simpulan bahwa ia sedang berbicara dengan seorang nabi (ay. 19). Seorang nabi dianggap memiliki pengetahuan adikodrati (Luk. 7:39). Orang-orang Samaria hanya menerima Taurat sebagai kitab suci mereka, karena itu pemahaman mengenai nabi harus dipahami berdasarkan Ul. 18:15- 22, seorang nabi yang sama seperti Musa. Sebagai nabi Yesus diyakini dapat memberikan jawaban Allah mengenai masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh manusia. Perempuan itu melihat adanya kesempatan untuk mengajukan persoalan kepada Yesus, yaitu suatu persoalan yang banyak diajukan oleh orang Samaria dan orang Yahudi. Persoalan itu menyangkut tempat di mana Tuhan Allah harus disembah, di Gunung Gerizim atau di Yerusalem. “Allah menghendaki orang menyembah Dia di Gunung Gerizim atau di Yerusalem?” Orang Yahudi dan orang Samaria selalu bertengkar soal di mana Allah harus di sembah. “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah” (ay. 20). Jawaban Yesus terhadap soal yang diajukan oleh perempuan itu merupakan bagian yang paling mendalam dalam percakapan antara Yesus dengan perempuan itu (ay. 21-24).

Pertama-tama, Yesus menyatakan bahwa akan datang masanya orang akan menyembah Allah, bukan di atas gunung ini, dan bukan di Yerusalem (ay. 21). Memang di masa lampau persoalan di mana Tuhan harus disembah merupakan persoalan yang dipandang sangat serius. Seolah-olah keberadaan Allah dan kehadiran-Nya itu sangat bergantung pada tempat tertentu. Sekalipun para nabi telah menyampaikan berbagai kecaman mengenai hal itu, tidak berarti bahwa orang Israel mengabaikan peran tempat-tempat suci. Yerusalem tetap dipandang sebagai kota yang paling suci dan kehadiran Allah tidak pernah dilepaskan dari Bait Allah yang dibangun di kota itu. Dalam jawaban-Nya Yesus menyebut suatu masa yang akan datang, di mana tidak lagi menjadi soal, di mana Allah harus di sembah. Soal di mana itu akan lenyap sama sekali dan segala bangsa, termasuk Yahudi dan Samaria, akan menyembah Allah di segala tempat. Untuk dapat berjumpa dan menyembah Allah orang tidak perlu datang ke tempat tertentu karena memang kehadiran-Nya tidak terikat pada hal-hal yang fisik.

B. Menyembah Allah yang Tidak Dikenal?

Selanjutnya Yesus menunjukkan persoalan yang sebenarnya ada dalam ibadah yang dilakukan oleh orang Samaria: menyembah apa yang tidak mereka kenal. Untuk memahami pernyataan Yesus itu, kita perlu mengingat kembali siapa sebenarnya orang Samaria itu. Pada tahun 722 SM Asyur menakhlukkan Israel dan membuang seluruh penduduknya ke Asyur dan ke wilayah-wilayah kekuasaannya yang lain. Untuk menghindari bangkitnya kembali kekuatan politik setempat Asyur menempatkan orang-orang dari wilayah-wilayah kekuasaannya ke Samaria, bekas ibukota Israel itu (2Raj. 17:24-41). Di tempat baru itu mereka menghadapi menghadapi berbagai kesulitan yang menurut keyakinan mereka terjadi karena mereka tidak menyembah Allah yang berkuasa di negeri itu. Seorang imam Israel, yang sudah diangkut ke pembuangan, dipanggil kembali untuk mengajarkan kepada warga baru itu bagaimana seharusnya berbakti kepada TUHAN. Mereka memang berbakti kepada TUHAN, tetapi juga beribadah kepada ilah-ilah mereka masing-masing, turun temurun.

Mengingat sejarah dan jatidiri mereka itulah, Yesus dapat menyatakan bahwa orang Samaria menyembah Allah yang tidak mereka kenal. Mereka melakukan ibadah, tanpa mengetahui kepada siapa ibadah itu ditujukan. Selain itu, motivasi mereka untuk beribadah kepada TUHAN pun menjadi keliru. Mereka menyembah TUHAN semata-mata terdorong oleh rasa takut akan bahaya yang didatangkan oleh Allah yang berkuasa di Israel itu. Tidak ada di benak mereka untuk mengabdi kepada Allah Israel itu karena memang mereka tidak memiliki pengalaman pribadi dengan Dia. Yang mereka perlukan hanyalah dapat tinggal di negeri itu tanpa ancaman dan untuk itu mereka mau menyembah Allah penguasa negeri itu.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi di antara orang Yahudi: menyembah apa yang mereka kenal karena memang keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Di masa lampau orang Yahudi mengalami Allah yang telah mengasihi mereka dengan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir dan memberikan kepada mereka Tanah Kanaan yang telah dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka. Pada zaman Daud Allah berjanji untuk membuat tahta dan kerajaan Daud kokoh untuk selamanya. Ketika kerajaan Daud itu pecah dan runtuh, orang Israel tetap percaya bahwa janji Allah kepada Daud itu akan dipenuhi. Seorang keturunan Daud akan bangkit untuk mendirikan kembali Israel lalu dan membawa Israel ke dalam damai sejahtera. Raja keturunan Daud yang akan memerintah Israel di masa depan itulah yang disebut sebagai Mesias. Para nabi berulangkali menubuatkan kedatangannya.

Dengan demikian jelas bagaimana tempat bangsa Israel dalam sejarah pewahyuan Allah. Terhadap penyembahan Samaria, memang bangsa Israel ada di pihak yang benar. Keselamatan memang datang dari Israel (Yes. 2:3; Rm. 3:1; 9:4,5; 11:18) karena secara lahir-iah Mesias memang lahir dari Israel, sebagaimana telah dinubuatkan oleh para nabi. Orang Samaria tidak memahami hal ini karena mereka hanya menerima Taurat sebagai Kitab Suci mereka, dan tidak mempunyai kitab-kitab lain. Hanya saja dalam pemahaman Yesus, Mesias bukanlah perkara politik seperti yang dibayangkan oleh orang Yahudi pada umumnya. Bagi Yesus Mesias adalah pribadi utusan Allah yang datang untuk menyelamatkan manusia dari bahaya kematian kekal akibat dosa dan membawanya masuk dalam kehidupan abadi di surga.

C. Dalam Roh dan Kebenaran

Dalam pada itu kesempatan yang timbul dari bangsa Israel itu tidak terbatas pada bangsa itu saja, tetapi diberikan untuk seluruh dunia. Saatnya akan tiba bahwa Bait Allah dan seluruh ibadah yang dirayakan di dalamnya itu akan berakhir. Allah tidak akan disembah dengan berbagai upacara keagamaan di sebuah tempat yang dipandang layak untuk itu. Penyembahan kepada Allah tidak lagi bergantung pada tempat sehingga orang tidak perlu lagi bertengkar di mana Allah ingin disembah oleh manusia. Yesus menyatakan bahwa akan datang saatnya dan saat itu sudah tiba bahwa ibadah di Bait Allah akan digantikan dengan ibadah dalam roh dan kebenaran. Bapa menghendaki agar para penyembah yang benar akan menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.

Roh Allah. Lalu Yesus memberikan alasan untuk ibadah/penyembahan yang baru itu: Allah itu adalah Roh. Hal ini menunjuk pada hakikat yang menerangkan bagaimana Allah berhubungan dengan manusia. Dalam tulisan-tulisan Yohanes, terdapat contoh lain mengenai hal ini: a). Allah adalah kasih (1Yoh. 4:16), artinya Allah berhubungan dengan manusia dengan penuh kasih, dan b). Allah adalah terang (1Yoh. 1:5), artinya Allah berhubungan dengan manusia sebagai cahaya. Kalau dikatakan bahwa Allah adalah Roh, ini berarti Allah berhubungan dengan manusia sebagai Roh dan memberikan roh kepada manusia. Karena Allah itu adalah Roh, manusia baru dapat menyembah Allah sebagai Bapa apabila ia telah lahir kembali dari Roh lalu hidup sebagai anak dalam hubungan dengan Bapa (Yoh. 3:5; 1:12; 1Yoh. 3:1).

Karena Alah adalah Roh, hanya mereka yang telah dilahirkan kembali dari roh dapat berhubungan dengan Dia (Yoh. 3:5). Roh itu berasal dari Allah di surga, bukan dari dunia (1Kor. 2:11, 14; 3:16; 6:11; 1Ptr. 4:14). Roh itu milik Allah dan diberikan oleh Allah (Kis. 2:17,18,33; 5:32; 15:18; 1Tes. 4:8; Luk. 1:13). Sesudah Yesus dibaptis langit terkoyak (Mrk. 1:10) dan Roh Kudus turun dari surga seperti burung merpati ke atas Yesus. Ia pun turun atas para rasul pada Hari Pentakosta dan kedatangan-Nya disertai angin ribut dan api. Selanjutnya Roh Kudus turun atas orang-orang yang menerima dan percaya pada pemberitaan tentang Kristus. Demikianlah, Roh itu turun dari surga (Luk. 1:35; Kis. 19:6; Yoh. 1:32- 33), diterima oleh manusia (Kis. 2:33; 8:15,16; Gal. 3:2; 3:14; 1Kor. 2:12; Yoh. 7:39), dan memberikan hidup kepada manusia (Yoh. 6:63). Orang yang lahir dari Roh menerima kehidupan dari Roh dan seluruh hidupnya digerakkan oleh Roh itu.

Kehadiran-Nya di dunia menunjukkan bahwa melalui Roh Kudus Allah hadir dalam dunia dan dalam diri manusia. Roh Kudus menjadi alat, daya ilahi yang khas, yang dengan-Nya Allah tampak dan berkarya dalam dunia manusiawi. Roh Kudus yang adalah kekuatan dan daya ilahi itu menampakkan diri dalam macam-macam rupa dan bekerja dengan pelbagai cara. Kadang-kadang roh itu berupa daya ajaib, kadang-kadang berupa kemampuan untuk mengajar, memimpin, melayani, dan sebagainya. Penampakan dan karya Roh Kudus itu seringkali juga disebut “roh”, atau “roh-roh” atau “Roh Kudus” (1Tes. 1:5; 2Kor. 3:8; 6:; 1Yoh. 4:1-3).

Roh Kebenaran. Ungkapan “Roh dan kebenaran” artinya sama dengan “Roh yang adalah kebenaran” atau “Roh Kebenaran.” Roh Kudus juga disebut Roh Kebenaran karena memimpin para murid Yesus ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Tetapi, apa yang dimaksud dengan kebenaran? Kebenaran yang dimaksudkan adalah rahasia Allah sebagaimana disingkapkan oleh Yesus dan diingatkan oleh Roh. Apakah mungkin bagi manusia untuk memahami Allah sebagaimana Dia ada? Yesus datang dari Bapa dan telah melihat-Nya (Yoh. 6:46; bdk. Yoh. 1:18). Apa yang dikerjakan oleh Bapa itulah yang dikerjakan oleh Yesus (Yoh. 5:19) dan apa yang dilihat oleh Yesus pada Bapa itulah yang dikatakan-Nya (Yoh. 8:38) dan Dialah yang memerintahkan Yesus untuk mengatakan apa yang harus Ia katakan (Yoh. 12:49). Dengan demikian, melihat dan mendengarkan Yesus sama dengan melihat dan mendengarkan Bapa (Yoh. 14:9): “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”

Dalam Yoh. 14:26 Yesus menyatakan bahwa Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama Yesus, akan mengajarkan segala sesuatu kepada para murid dan akan mengingatkan mereka akan semua yang telah dikatakan oleh Yesus kepada mereka. Apa yang diajarkan oleh Roh sama dengan yang telah dinyatakan oleh Kristus. Karena, Roh mengajarkan apa yang diajarkan oleh Kristus. Ia tidak akan berbicara dari diri-Nya sendiri, tetapi menyatakan segala sesuatu yang telah didengar-Nya (Yoh. 16:13).

Menyembah dalam Roh dan Kebenaran. Lalu, apa yang dimaksudkan Yesus dengan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran? Menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran berarti menyembah Allah karena digerakkan oleh Roh yang telah menyatakan kebenaran tentang Allah. Roh memperkenalkan dan menyatakan siapakah Allah yang sebenarnya, yaitu Allah sebagaimana Dia ada. Hal ini dilakukan dengan mengingatkan orang beriman pada semua yang telah diajarkan oleh Yesus mengenai Allah Bapa yang mengasihi manusia. Roh yang sama menggerakkan orang untuk menyembah Allah yang sebenarnya (sebagaimana adanya) dengan sikap hati yang benar, yakni dengan menempatkan diri di hadapan Allah yang mengasihi dia.

D. Mesias Pembawa Kebenaran

Perempuan itu menjawab: Ia mengetahui bahwa Mesias akan datang dan jika datang Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami. Dalam keyakinan orang Samaria, Mesias akan datang untuk memulihkan ibadah yang sejati. Tidak mengherankan bahwa orang berlagak sebagai Mesias yang muncul pada zaman Pilatus berjanji untuk menunjukkan kepada orang Samaria di mana Musa menguburkan perlengkapan ibadah (yang suci) di Gunung Gerizim (Yosefus, Antiquantes, 18.4.1. §85-87). Yesus menyatakan bahwa Dia yang sedang berbicara dengan perempuan itu adalah Mesias. Yesus menyatakan bahwa Ia memenuhi pengharapan perempuan itu akan datangnya Mesias yang akan menunjukkan kepadanya segala sesuatu (tentang ibadah yang sejati).

 Sumber: Lembaga Biblika Indonesia

Keterangan foto: Jesus-Christ: Ilustasi dari  www.josaya.com