Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), keuskupan bagi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri, turut serta dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025. Wakil Uskup untuk Umat Katolik di Lingkungan TNI-Polri, Romo Yos Bintoro, menyebut kehadiran ini bukan sekadar simbolik, melainkan penegasan bahwa Gereja hadir juga di tengah dunia militer dan kepolisian.

Keikutsertaan OCI menandai pengakuan penuh terhadap keberadaan umat Katolik berseragam yang selama ini melayani Tuhan sekaligus negara. “Kami ingin menunjukkan bahwa Gereja ada juga di tengah pasukan yang menjaga pertahanan dan keamanan, dan mereka pun bagian dari tubuh Kristus yang berjalan bersama,” ujar Romo Yos. Dengan usia 75 tahun sejak berdirinya pada 1949, OCI kini menegaskan perannya dalam sinodalitas Gereja Indonesia yang lebih inklusif dan misioner.

Sinodalitas di Tengah Disiplin Militer

Berjalan bersama di lingkungan TNI dan Polri tentu memiliki dinamika yang khas. Dalam struktur yang menuntut ketaatan dan disiplin tinggi, semangat sinodalitas diwujudkan dengan membangun pola pastoral yang teritorial sekaligus kategorial, menghubungkan pelayanan rohani dengan kehidupan dinas. Romo Yos menggambarkannya sebagai “terikate”: Gereja yang teritorial dan kategorial hidup berdampingan.

OCI membentuk Dewan Karya Pastoral (DKP) dan menyusun direktorium pastoral agar setiap wilayah memiliki tata kelola dan arah dasar pelayanan yang jelas. Kini, struktur OCI telah hadir di 18 keuskupan di Indonesia, menandakan upaya untuk berjalan bersama umat di berbagai daerah, termasuk wilayah-wilayah pinggiran. “Kami ingin keluar dari pusat, menyapa pinggiran, seperti Yesus yang berjalan ke Galilea,” kata Romo Yos.

Dalam konteks tugas pertahanan dan keamanan, umat Katolik di TNI-Polri diajak menjadi peziarah pengharapan, menghadirkan damai di tengah dinamika bangsa. “Militer Katolik tidak diutus untuk berperang dengan senjata, melainkan memenangkan perang rohani,” tutur Romo Yos, mengingatkan kembali prinsip dalam hukum humaniter internasional bahwa rohaniwan adalah non-kombatan.

Semangat itu berpijak pada doa Santo Fransiskus dari Asisi: Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai. OCI menegaskan bahwa prajurit Katolik dipanggil untuk menjaga ketertiban dengan hati nurani yang terarah pada kebenaran dan keadilan. Bentuk konkret peran OCI tampak dalam pendampingan konflik di Papua, pelayanan bagi keluarga prajurit, hingga keterlibatan dalam isu-isu kemanusiaan seperti perdagangan manusia dan dehumanisasi sosial. Gereja militer dipanggil menjadi jembatan rekonsiliasi dan peneguh nilai-nilai kemanusiaan di tengah kerasnya realitas lapangan.

Tantangan Iman di Lingkungan Berseragam

Tantangan terbesar OCI adalah membangun kehidupan iman dalam struktur militer yang keras dan hierarkis, di mana panggilan ketaatan sering bersinggungan dengan kebebasan nurani. Romo Yos menegaskan, “Taat kepada pimpinan itu ada di Marga Kelima. Sebelumnya ada empat marga yang bicara tentang tanggung jawab moral.” Dengan kata lain, iman Katolik menuntun setiap prajurit untuk patuh tanpa kehilangan hati nurani.

Tantangan lainnya adalah keterbatasan tenaga rohaniwan organik, belum adanya MoU resmi dengan TNI-Polri, dan kebutuhan akan data akurat umat. OCI menjawabnya dengan membangun sistem tata kelola baru, memperkuat kolaborasi dengan keuskupan teritorial, serta menyusun buku sejarah dan spiritualitas OCI untuk memperkenalkan peran Gereja di lingkungan bersenjata. “Kami bekerja dari dalam, tapi tidak larut; seperti garam yang mengasinkan, bukan hanyut,” kata Romo Yos menggambarkan sikap pastoral OCI.

Bagi Romo Yos, nilai Kristiani dan semangat bela negara bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua wajah dari satu panggilan luhur: mencintai Tuhan dan tanah air. “Dari awal, Gereja Katolik di Indonesia sudah menanamkan cinta tanah air sebagai bagian dari iman,” jelasnya, menyinggung warisan Monsinyur Albertus Soegijapranata, Uskup Militer pertama Indonesia, dengan semboyan legendaris: 100% Katolik, 100% Indonesia.

Dalam Sabta Marga, Tribrata, dan Catur Prasetya, Romo Yos melihat nilai-nilai Pancasila dan Injil berjumpa dalam kesetiaan pada kebenaran, keadilan, dan keberanian moral. Gereja di lingkungan militer dipanggil untuk membumikan nilai-nilai Pancasila sebagai ekspresi iman yang hidup, mengingat bangsa kini menghadapi krisis nilai dan kemerosotan moral. “Kita harus membela bangsa bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan integritas,” tegasnya.

Harapan Bagi Gereja Indonesia dan OCI

Menutup perbincangan, Romo Yos mengajak seluruh umat Katolik untuk melakukan pertobatan struktural dan kultural: berubah dari dalam diri dan keluar menuju gerakan bersama. Ia berharap hasil SAGKI 2025 menjadi momentum pembaruan bagi seluruh Gereja Indonesia, termasuk bagi umat Katolik di bidang pertahanan dan keamanan.

“Pertobatan itu keluar dari zona nyaman. Bertolak ke laut yang dalam, menyelamatkan jiwa-jiwa yang dipercayakan Tuhan,” ujarnya. OCI diharapkan terus menjadi Gereja yang tangguh, penuh pengharapan, dan mampu menghadirkan damai di tengah tantangan zaman, Gereja yang misioner di medan bhakti, setia kepada Tuhan dan tanah air.

Sekilas tentang Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI)

Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) adalah keuskupan kategorial yang menaungi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri, didirikan melalui bulla Paus Pius XII pada 25 Desember 1949. OCI merupakan salah satu dari 37 ordinariat militer di dunia dan yang tertua keenam secara global, serta tertua di Asia.

Uskup OCI saat ini adalah Ignatius Kardinal Suharyo, dengan Romo Yos Bintoro sebagai Wakil Uskup TNI Polri. Pelayanan OCI mencakup pembinaan iman, pelayanan rohani, dan penguatan spiritualitas bagi prajurit aktif, keluarga mereka, serta purnawirawan. OCI memiliki visi membangun umat Katolik di lingkungan pertahanan dan keamanan yang beriman teguh, berjiwa nasionalis, dan menjadi pembawa damai bagi bangsa.