Beranda BERITA Komsos KWI Bekali Para Pelajar Menjadi Kader Penyebar Pesan Positif

Komsos KWI Bekali Para Pelajar Menjadi Kader Penyebar Pesan Positif

Kefamenanu,NTT – Sejumlah pelajar SMU dari beberapa sekolah yang ada di Kota Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU) dan sekitarnya serta beberapa di antaranya dari Kota Atambua, Belu, mengikuti pembekalan menjadi kader penyebar berita positif. Pembekalan bagi siswa-siswi SMU tersebut merupakan salah satu agenda dalam Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) 2023, yang dilaksanakan di Kefamenanu, TTU, NTT, Keuskupan Atambua. PKSN berlangsung selama sepekan 17-23 Mei 2023, berpusat di Biara Soverdi Noemeto, Kefamenanu.

Pendamping pembekalan ini para profesional di bidang media komunikasi yang tergabung dalam Tim Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), antara lain Yusuf Marwoto, RBE. Agung Nugroho, Stephanus Yogipranata, Lisa A. Riyanto, Samuel Krismanto, dan Ignasius Christopher Adisurya. Tercatat 38 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 19-20 Mei 2023.

Yusuf Marwoto, salah seorang anggota Tim Pendamping menegaskan bahwa komunikasi mempunyai daya untuk mengubah atau memengaruhi orang lain. Contohnya adalah bahasa (komunikasi) iklan yang dapat memengaruhi masyarakat agar tertarik dengan tawaran yang diiklankan.
Dikatakan, komunikasi itu bisa menjadi inspirasi untuk menyampaikan pesan-pesan pewartaan. Pesan-pesan pewartaan atau pesan positif lainnya bisa memengaruhi dan bahkan mengubah orang lain.

Selain itu, ada tiga komponen komunikasi di media, yakni audio (untuk media radio atau podcast), audio visual (televisi, video), dan teks/tulisan (koran, web-online, dan sebagainya). Untuk kepentingan media komunikasi tersebut, para fasilitator membekali peserta melalui workshop terkait dengan tiga komponen tersebut, yaitu: Teknik Menulis Kreatif, Membuat Film, dan Story Telling.

Jangan Mudah Reaktif
Yusuf Marwoto juga memberikan tips praktis kepada para peserta agar tidak mudah reaktif ketika mendapatkan informasi melalui media sosial, entah dalam bentuk audio, audio visual, ataupun berita teks. “Misalnya, hanya melihat judul, kita sudah langsung reaktif,” tandasnya.
Dia menjelaskan, pentingnya untuk memahami seluruh isi berita. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah proaktif dengan mencari tahu dan harus memahami isi berita secara utuh.

Demikian halnya Ketika mau mengunggah (posting) sebuah informasi/berita, hendaknya harus menyampaikan pesan-pesan positif yang dapat memengaruhi atau mengubah orang ke hal-hal positif. “Tidak hanya berita teks, foto yang diposting juga harus bisa membawa pesan positif. Misalnya, foto produk khas Timor, atau keindahan alam Timor, dan sebagainya. Jangan lupa foto diberi keterangan (caption),” tambah Lisa A. Riyanto, salah satu anggota Tim Pendamping.

Belajar Menulis
Selanjutanya RBE. Agung Nugroho, membekali peserta tentang teknik menulis berita.
Mas Agung, demikian biasa disapa, memulai dengan menguji peserta dengan kuis untuk memahami sejauh mana peserta mengenali Gereja dan lingkungannya. Kuis tersebut dimaksudkan untuk menggugah peserta bahwa menjadi pewarta Gereja tidak cukup hanya kemampuan untuk menulis dengan baik, tetapi dia juga perlu pengetahuan yang luas tentang Gereja maupun lingkungan sekitarnya.

“Seorang jurnalis, selain berwawasan dan pengetahuan yang luas, juga harus mengenali lingkungannya. Khusus bagi pewarta Gereja atau pegiat Komsos, penting memiliki pengetahuan tentang Gereja,” kata mantan Pemimpin Redaksi Majalah HIDUP itu. Oleh karena itu, menurut Agung, penting bagi seorang jurnalis memahami background dari apa atau siapa yang akan diliput atau diwawancara agar dapat menggali fakta secara komprehensif.

Hal penting lain bagi seseorang dalam membuat sebuah tulisan atau liputan, katanya, adalah pentingnya perencanaan/persiapan.
Agung lalu menyampaikan bahwa ada tiga jenis penulisan dalam jurnalistik, yaitu pertama, berita (news) dengan struktur tulisan piramida terbalik, artinya semua hal penting dari berita itu ada di bagian awal.

Kedua adalah ada feature. Tulisan feature lebih mengedepankan human interest dengan struktur tulisan berbentuk balok atau elips, artinya hal-hal penting tersebar di dalam tulisan itu dan disajikan dengan lebih detail.
Ketiga adalah opini. Dalam opini, perspektif atau pendapat penulis masuk dalam tulisan untuk diajukan kepada pembaca, disertai penjelasan dan argumentasi yang menguatkan pendapat itu.

Agung mengingatkan, agar hati-hati terutama dalam menulis berita. Tidak boleh penulis memberi opini atau pendapatnya sendiri dalam berita. “Tugas dia hanya menginformasikan fakta-fakta yang dia dapatkan dari hasil liputan dalam proses mengumpulkan berita,” katanya.

Di samping itu, Agung juga menyampaikan empat komponen utama dalam karya jurnalistik yaitu pertama, informasi (news, feature, opini); kedua, aktivitas (proses jurnalistik) mulai dari meliput (turun lapangan), observasi, mengumpulkan data, menulis hingga editing; ketiga, penyebaran informasi; dan keempat media yang digunakan (cetak, online, medsos). Di samping keempat komponen ini, ada satu hal penting juga yang harus diperhatikan, yaitu menaati kode etik jurnalitik. Sementara metode menulis berita adalah menggunakan rumusan 5W+1H (what, who, where, when,why, how).

Di bagian akhir, Agung berpesan kepada peserta untuk mau dipakai sebagai pewarta yang positif, menjadi insan Komsos dengan mengembangkan talenta yang dimiliki dalam bidang kerasulan di bidang media. “Adik-adik dipakai menjadi menjadi pembawa pesan atau kabar baik Tuhan, bisa melalui tulisan, audio, video ataupun story telling,” pungkasnya.

Pembekalan lain yang didapatkan oleh peserta selama workshop ini adalah cara membuat film dan story telling. Pembekalan ini tidak hanya berisi teori, tetapi juga melakukan praktik langsung, diselingi beragam games dan kuis yang menarik. Hari kedua peserta akan melanjutkan praktik membuat film, menulis berita dan belajar editing, serta mempresentasikan hasil karyanya.

Dapat Banyak Hal Baru
Peserta kegiatan ini memiliki kesan yang menyenangkan terhadap pembekalan hari pertama. Sharon, siswi kelas XI SMU St. Angela Atambua, mengatakan bahagia mengikuti kegiatan ini. “Kami banyak dapat ilmu baru hari ini, cara membuat berita, cara membuat film, dan story telling. Diajarkan juga cara editing. Saya juga gembira bisa bersosialisasi dengan teman-teman. Pelajarannya menarik, terutama hal yang menarik untuk saya adalah story telling,” kata Sharon.

Hal senada diungkapkan Yoris. “Saya merasa tertarik pada materi yang dibawakan Kak Jos, Kak Agung, Kak Stef, dan pendamping lainnya. Semua bagus dan menarik. Saya sangat bahagia, karena banyak hal baru yang saya dapat. Misalnya menjadi wartawan yang baik seperti apa, story telling itu strukturnya seperti apa, demikian juga cara pembuatan film,” kata siswa kelas XI SMU Katolik Warta Bakti Kefamenanu ini.

Yoris menambahkan, yang membuatnya tertantang adalah ketika diberi tugas untuk membuat film dalam kelompok dengan durasi 1 menit tanpa dialog. Dalam kegiatan ini juga, dirinya punya kesempatan untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan teman-teman baru dari sekolah lain. “Siap menjadi pewarta positif setelah ikut kegiatan ini,” janji Yoris.

Sementara di aula utama Biara Soverdi Noemeto dihelat perjumpaan dan refleksi bersama tentang kerasulan Komunikasi Sosial yang diikuti oleh para imam dan kaum religius se-Keuskupan Atambua. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah bagi para gembala umat untuk bisa saling berbagi tengan pengalaman suka-duka, tantangan, dan peluang dalam bidang kerasulan Komsos.
Hadir dalam acara refleksi bersama para gembala umat ini Ketua Komisi Komsos KWI Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap dan Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, didampingi anggota Badan Pengurus Komsos kwi Prof. R. Eko Indrajit dan Sekretaris Eksekutif Komsos KWI Romo Steven Lalu.

Selain kegiatan di Biara Soverdi Noemeto, kegiatan PKSN juga diisi pembekalan calon katekis yang diikuti oleh mahasiswa-mahasiswi STIPAS denga tema “Menjadi Pewarta di Dunia Digital”. Pembekalan ini juga difasilitasi Tim Komsos KWI.


Penulis : Hironimus Adil-Komsos Keuskupan Denpasar