Beranda BERITA Media Digital, Sudahkah Kita Maksimalkan ?

Media Digital, Sudahkah Kita Maksimalkan [ untuk Pewartaan ]?

2021, Pesan Hari Komunikasi Sedunia ke 55, Pesan Paus Fransiskus, Pesan Harkom ke 55, Datang dan Lihatlah, Pope Francis, Pope, Paus Fransiskus, Berjejaring, Lawan Hoax, Keadilan dan Kebenaran Gereja Katolik Indonesia, Iman Katolik, Injil Katolik, Katekese, Katolik, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Lawan Covid-19, Penyejuk Iman, Firman Tuhan, Pewartaan, Umat Katolik, Yesus Juruselamat
Ilustrasi

MIRIFICA.NET –

Setiap orang sekarang ini bisa menjadi populer. Platform media sosial memungkinkan untuk itu. Sebagai pewarta semestinya kita juga memanfaatkannya semaksimal dan seoptimal mungkin. Sudahkah?

Sudah sejak beberapa tahun terakhir, sebut saja lima hingga sepuluh tahun belakangan, media digital sudah menggeser orientasi kita semua. Dahulu, saat  koran masih berjaya, media inilah satu-satunya platform yang memungkinkan berbagai iklan, promosi, berita disiarkan. Tentu saja selain cetak, platform lain seperti suara [radio]  dan audio visual  [televisi] juga merupakan sumber-sumber penyiaran.

Lama-kelamaan, situasi berubah sejak internet menguasai dunia.  Selain portal media, wahana seperti weblog memungkinkan pengguna menyiarkan sendiri segala sesuatu yang ingin disampaikan si blogger. Meski terbatas pada orang-orang tertentu yang gemar menulis saja, sarana web log  membuat si penulis eksis dan  dikenal.  Hanya, saat itu, blog belum bisa menyaingi koran dan platform arus utama lain.

Situasi makin bergeser dan masif ketika media sosial seperti Facebook mulai digandrungi masyarakat. Semakin banyak orang yang bisa menyiarkan apa saja. Mulai dari sekadar curhat sampai membagikan tulisan panjang, beserta foto dan gambar bergerak [ video ]. Setiap orang bisa menyiarkan apa saja yang dipikirkan dan ingin diceritakan. Bahkan mulai terjadi interaksi antarmanusia dalam platform tersebut satu sama lain.

Geseran makin masif dengan makin banyaknya media sosial yang muncul entah yang bentuknya mikro [ twitter ] atau yang sifatnya instant messenger, yang makin popular ketika Blackberry Messenger muncul.

Semakin ke sini, media sosial yang platformnya makin kompleks dan memberi banyak fitur serta fasilitas menggenangi hidup manusia.  Bahkan menguasai nyaris seluruh hidup manusia. Pagi, siang, malam sosmed terus. Setiap orang bisa menyiarkan dan mengirim teks, gambar, video serta apa pun bentuk materi baik secara pribadi maupun publik.  Semua menjadi sangat mungkin dan cenderung nagih.

Setiap Orang Bisa Menjadi Artis

Dengan muncul dan berkembangnya platform media sosial, bisa dikatakan masa dan sifat eksklusivitas radio, televisi, koran makin terancam dan cenderung berakhir. Di saat media-media ini masih berkibar,  tidak semua orang dengan mudahnya bisa terkenal dan popular.

Berbeda dengan zaman kini, saat mengemukanya platform-platform media sosial dengan ditandai oleh populernya Facebook, Twitter, Whatsapp, dan Youtube, serta sekarang Instagram, saat itulah semua orang bisa dengan mudah menjadi populer. Semua orang bisa menjadi artis. Begitulah kira-kira.

Kata kunci dari semua itu adalah viral dan trending. Istilah oplah, tiras, rating, sharing sudah mulai meredup. Digantikan dengan istilah yang sifatnya lebih digital seperti pageview, viewer, follower, subscriber dan lain-lain.

Sekarang ini setiap orang bisa menjadi populer, terkenal, dan bisa dengan mudah disebut artis asal viewer, follower dan subscriber di media sosial seperti Youtube, Instagram, atau platform lain mencapai ratusan ribu bahkan jutaan.

Inilah zaman dimana setiap orang bisa menjadi bintang asal mereka konsisten membuat konten. Maka, para pembuat konten [ content creator ] berlomba-lomba menampilkan dirinya, mengumbar ilmunya, membagikan cerita, kisah apa saja asal banyak yang menonton, menjadi pengikut, dan menjadi pelanggan [subscriber] kanal miliknya.

Belum Banyak yang Eksis

Di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55, Paus Fransiskus memberi pesan agar Kita [Anda dan Saya] datang dan melihat, bergaul dengan orang-orang serta terlibat dengan kehidupan orang-orang yang kita temui dengan harapan bisa membagikan pengalaman [yang menyentuh kemanusiaan] mereka secara langsung.

Paus bahkan menyatakan, “Kita semua berpotensi menjadi saksi atas peristiwa yang jika tidak diceritakan akan diabaikan oleh media tradisional. Kita berkontribusi bagi masyarakat dengan memunculkan lebih banyak cerita positif.”

Selain menjadi bintang,di zaman ini pula, setiap orang bisa menjadi narasumber karena dirinya sendirilah yang memberi kabar/ cerita/ berita sekaligus menjadi presenter [host], kamerawan, produser, bahkan juga tim kreatifnya [meski sendirian].

Dengan peran ganda dan multitasking itu, sebenarnya kita bisa dengan mudah membagikan semua hal kepada siapa saja dan dimana saja. Kita bahkan bisa memproduksinya kapan saja. Bahkan banyak juga content creator membuat produknya tanpa persiapan matang. Keluar ide langsung buat. Selepas bangun tidur pun sangat mungkin.

Dengan format yang beragam dan apa saja, tentu dengan standar yang beragam pula konten-konten itu buat. Bagus atau tidaknya hasil produksi itu bukan lagi yang utama. Standar atau tidaknya output yang dibuat dan apakah sesuai dengan kaidah jurnalistik atau tidak, bukan lagi masalah. Bagi semua pembuat konten, penonton-lah yang utama. Dan mereka [relative] tidak peduli dengan kualitas.

Dengan situasi ini, sayang tidak banyak pembuat konten mengambil jalan seperti yang disampaikan Paus Fransiskus dalam pesannya di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 agar kita semua semakin sering memproduksi konten positif. Apalagi masyarakat / user cenderung suka dengan konten-konten ecek-ecek yang tidak bermanfaat. Para pembuat konten ini mau tidak mau mengikuti selera penonton.

Di sinilah letak peluang yang harus kita ambil. Belum banyak pastor, suster, bruder juga para awam baik yang muda atau tua memanfaatkan platform-platform media sosial ini untuk keperluan yang bermanfaat utamanya untuk pewartaan iman, katekese.

Padahal Paus sudah mengingatkan juga dengan mengatakan, “Kita semua bertanggung jawab atas komunikasi yang kita buat, atas informasi yang kita berikan….Kita semua dipanggil menjadi saksi kebenaran : untuk pergi, melihat,  dan berbagi.”

Beberapa pastor sudah memberi contoh. Tapi, kelihatannya itu tidak cukup. Butuh banyak orang memenuhi dunia digital dengan ilmu dan cerita yang bermanfaat serta mendidik, menginspirasi dan berdaya ubah bagi kehidupan iman seseorang.

Konsistensi Itu Mutlak

Zaman yang disebut dengan homeless media, dimana kita sudah tidak lagi membutuhkan secara mutlak website, halaman homepage, portal berita untuk menyiarkan berbagai cerita dan berita, sangat mungkin bagi kita membuat produk konten apa saja.

Dari berbagai pengamatan, konsistensi menjadi satu hal yang penting dalam proses promosi dan positioning di tengah ribuan bahkan jutaan konten yang ada. Keunikan mungkin dibutuhkan, tapi tidak mutlak. Yang mutlak ada adalah produksi yang terus-menerus agar ketika orang datang, mereka tidak kecewa dan pergi serta kemudian melupakannya.

Ibarat kita membeli sebuah satu barang di toko A, lalu dibilang tidak ada, untuk selanjutnya kita akan cenderung melewati toko A dan mampir di toko lain.

Tentu saja selain konsisten, kreativitas menjadi kunci utama agar sebagai produsen kita bisa membuat berbagai hal. Sederhana tidak masalah, asal itu dibutuhkan entah hanya sebagai hiburan atau pengetahuan. Tidak jarang pula, konten yang sama juga ditemui di berbagai akun pembuat konten lain. Dan anehnya, banyak juga yang menonton.

Mulailah

Maka, yang paling penting dari kita sekarang adalah, mulailah membuat konten apa saja. Bagikan apa saja [ yang positif] seperti pesan Paus. Dan yang paling penting, Paus mengingatkan agar kita tidak berkomunikasi hanya dengan kata-kata, tetapi dengan mata, nada suara, dan gerakan.

“Daya tarik kuat Yesus atas mereka yang berjumpa denganNya terletak pada kebenaran khotbah-Nya, tetapi efektivitas dari yang Ia katakan tidak lepas dari tatapan, sikap dan bahkan keheninganNya,”kata Paus.

Dengan jelas pula, Paus menyebutkan bahwa Santo Paulus dari Tarsus bakal menggunakan email dan media sosial seandainya di zaman dia hidup, semua alat komunikasi itu sudah ada. Lalu, bagaimanakah dengan kita? Apakah sudah memanfaatkan, memaksimalkan, mengoptimalkan media-media ini untuk berkatekese, berbagi iman, berbagai pengetahuan dan menginspirasi orang lain?