Beranda Jendela Alkitab Harian Mendidik Hati Nurani, Selasa 12 Agustus 2014

Mendidik Hati Nurani, Selasa 12 Agustus 2014

Ilustrasi: Gelang Emas (foto diambil dari www.etsy.com)

Ada sepasang suami istri tanpa anak merasa hidup selalu dirundung kesulitan. Sang suami selalu saja tidak kerasan dengan pekerjaan. Semua kekayaan rumah sudah habis dijual untuk biaya hidup. Sekarang kekayaan satu-satunya yang tertinggal adalah gelang emas yang dipakai istrinya.

Suatu hari, ia berkata kepada istrinya, “Dik, betapa pun berat, aku harus pergi ke kota untuk mendapatkan kerja. Sesungguhnya, aku merasa susah meninggalkan engkau.

Sang istri tersenyum mendengar kata-kata yang sudah biasa ia dengar itu. Belum berkata apa-apa, sang suami menyambung, “Sebagai kenangan, berikanlah gelang itu kepadaku. Ketika rindu memberatiku, aku bisa mengenangmu melalui gelang yang kutatap.

Sang istri tidak bergeming. Namun merasa setiap kali ditipu oleh suaminya, dengan cekatan, ia menjawab, “Kak, begitu mengharukan ungkapan cintamu padaku. Seperti kau, aku pun sulit berpisah denganmu. Jarak akan memisahkan kita. Maka biarlah gelang ini tetap di tanganku, supaya ketika aku rindu, aku bisa melampiaskan kerinduanku. Caranya dengan menatap gelang yang kauingini, tetapi tidak kuberikan ini. Dengan begitu, aku merasa selalu dekat denganmu.

Sang suami pun gigit jari. Kali ini ia kena getahnya. Ia tidak bisa membohongi istrinya terus-menerus. Sebuah pelajaran yang sangat berharga ia dapatkan dari istrinya hari itu.

Ada pepatah mengatakan ‘sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali jatuh juga’. Kelicikan dan kebohongan bisa saja dirancang setiap saat. Tetapi orang mesti sadar bahwa suatu ketika ia akan terantuk juga. Kisah tadi menunjukkan hal itu. Orang yang sering berbohong akhirnya kena batu juga. Ia mesti diberi pelajaran untuk dapat bertobat dari perbuatannya.

Dalam hidup ini kita berjumpa dengan orang-orang yang tidak jera melakukan kesalahan dan dosa. Kesalahan dan dosa itu sudah menjadi hal yang rutin dalam hidupnya. Akibatnya, orang seperti ini sama sekali tidak merasa bersalah. Baginya, kesalahan dan dosa itu sesuatu yang baik. Karena itu, ia melakukannya lagi dan lagi. Padahal banyak orang menderita karena perbuatan-perbuatan liciknya itu.

Mengapa ada orang seperti ini? Hal ini terjadi, karena orang sudah kehilangan suara hatinya. Yang ada dalam hatinya hanyalah suara si jahat. Suara kebaikan dan kebenaran sudah tidak ia miliki lagi. Karena itu, yang ia pikirkan hanyalah melakukan kesalahan dan dosa terhadap orang lain. Yang ia pikirkan adalah menimba keuntungan dari perbuatannya yang jahat itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menjauhi perbuatan yang menjerumuskan kita ke dalam dosa. Caranya dengan mendidik hati nurani kita sejak awal. Kita arahkan hidup kita kepada kebenaran dan kebaikan. Dengan demikian, setiap kali kita melakukan kesalahan dan dosa, kita mudah bertobat. Kita meninggalkan kesalahan dan dosa itu dan mengarahkan hidup kita kepada Tuhan.

Mari kita berusaha untuk membangun hidup kita berdasarkan hati nurani kita yang baik. Dengan cara ini, kita akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup ini. Tuhan memberkati.

Ilustrasi: Gelang Emas (foto diambil dari www.etsy.com)