Beranda SEPUTAR VATIKAN Urbi Mengapa Kita Mencintai Misa Latin?

Mengapa Kita Mencintai Misa Latin?

DENGAN menyerahkan keinginan untuk terlibat dalam dialog misa Latin, kita dapat mengalami secara nyata keajaiban dari peristiwa kematian dan kebangkitan  Sang Juruselamat kita, Yesus Kristus.

Ada sebuah aspek kecil yang patut dihargai dalam Gereja Katolik adalah keragaman liturgi  yang selalu tersedia bagi umat Katolik, ditawarkan dalam berbagai bentuk dan model untuk memenuhi kebutuhan spiritual umat Katolik.

Michael Morris, kontributor   pada aleteia.org membagikan pengalamannya mengenai betapa menakjubkan merayakan ekaristi dalam bahasa Latin.

“Saya adalah anak kedua yang beralih menjadi Katolik”, katanya. Ayah saya bergabung dengan Gereja Katolik pada awal tahun 1970, sedangkan ibu saya dibaptis dan menerima komuni suci beberapa tahun setelah saya menjadi Katolik. Bagi Morris, ada peristiwa besar dalam sejarah Gereja Katolik yang menarik perhatiannya: Perayaan Kebangkitan Tuhan dan Minggu Pentekosta serta pengalaman konversi ayahnya. Peristiwa pertobatan ayahnya membuat Morris begitu kagum.  Morris sendiri termasuk dalam generasi pasca-konsili Vatikan II.

“Hidup dalam iman dengan sebuah sejarah kecil keluarga kami memiliki arti penting bagi perjalanan saya, belajar mengenai Gereja  melalui berbagai buku-buku sejarah Gereja yang tersedia di toko buku dan beberapa buku yang saya pinjam dari seorang pastor paroki yang telah menghabiskan banyak waktunya di pertapaan”, ungkap Morris.

Perayaan liturgi dalam Gereja selalu menunjukkan kepada saya sesuatu yang luar biasa. Kehadiran keluarga Morris pada misa mingguan menjadikannnya berada seperti di depan dan di pusat kehidupanku yang kadang-kadang ia alami sebagai sebuah keindahan.

Meski demikian, Morris baru sungguh-sungguh merasakan kekaguman yang luar biasa setelah ia mengikuti sebuah perayaan misa dalam bahasa Latin – dimana imam merayakan misa mengikuti ritus Timur”, yaitu menghadap ke dinding Altar dan bukan ke umat, misa yang ia hadiri selalu diisi dengan  nyanyian Gregorian dan pendupaan, dirayakan dalam bentuk yang luar biasa (menggunakan buku Missale sebelum reformasi Vatikan II).

Karena Morris tidak mengerti kata-kata yang digunakan, maka ia mengalihkan perhatiannya  untuk mencari tahu perkembangan liturgi dari waktu ke waktu. Ibarat bangun pagi-pagi sekali untuk melihat matahari pagi terbit di balik puncak gunung, ia seakan sedang  melihat Tubuh Kristus Bangkit dari balik kepala imam yang memimpin perayaan misa.

Kemudian Morris pergi ke sebuah biara untuk mengikuti retret pada suatu waktu, dan sesudah itu ia pulang ke rumah dengan terpesona, oleh karena perubahan kecil dan orientasi untuk melakukan apa yang telah ia alami sepanjang 35 tahun perjalanan hidup saya.

Thomas Merton, seorang penulis besar pada zamannya  begitu bersemangat untuk menulis berbagai hal menakjubkan dalam Gereja. Merton tahu sahabat-sahabatnya selalu mendukung gagasannya untuk mempertahankan ritus liturgi ini.  Merto begitu yakin bahwa misa Latin dan lagu-lagu Gregorian merupakan “maha karya”, yang menawarkan kepada kita sebuah monastik dan pengalaman Kekristenan yang tak tergantikan. Ketika Merton menulis tentang kekagumannya pada Misa Latin, dia sedang menulis tentang sebuah seni dan keindahan itu sendiri. Dia menulis seolah-olah dia sedang berdiri di depan Caravaggio atau mendengarkan lagu Mozart.

Pengalaman Merton ini menarik perhatian Morris. Dengan melepaskan keinginan untuk  memahami arti kata yang digunakan, kita bisa mengagumi keindahan dari setiap aliran kata-kata yang digunakan dalam misa Latin. Dengan membiarkan diri terlibat penuh dalam setiap dialog saat misa latin, orang bisa mengalami keajaiban dari peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Dan melalui perayaan ini imam yang berdiri menghadap altar seakan sedang  memperlihatkan sebuah karya seni yang indah, Ecce Homo, “Lihatlah Manusia itu.”

Sejak keluar dari keyakinan lama, Morris telah menemukan sebuah liturgi dalam Gereja Katolik  yang dirayakan dalam bentuk yang luar biasa. Meskipun isteri dan anak-anaknya lebih suka mengikuti perayaan liturgi yang telah direformasi sejak Konsili Vatikan II.

Misa, dalam segala ritusnya adalah soal hal keindahan. Morris mengatakan, ia tidak akan pernah  mengambil pilihan lain setelah dirinya menemukan sebuah perayaan liturgi yang begitu mengagumkan. “Tidak diragukan lagi, misa dalam ritus Latin mempunyai kualitas tertentu. Ini adalah sebuah mahakarya Gereja Katolik, seperti dikatakan Merton”, tandasnya (Michael Morris – aleteia.org).

Berita versi Inggris dapat dibaca di aleteia.org

Penerjemah: John Laba Wujon