Beranda BERITA Pekan Misi Nasional IV di Keuskupan Bandung

Pekan Misi Nasional IV di Keuskupan Bandung

Pembawa Vandel Paroki bejalan berdampingan saat Pembukaan Pekan Misi IV Dok: Keuskupan Bandung

MIRIFICA.NET, BANDUNG – Pekan Misi Nasional IV diselenggarakan di Keuskupan Bandung selama sebulan mulai sabtu, (21/09) dan berpuncak pada minggu, (20/10). Pra kegiatan berupa pemberkatan Salib Misi dan Perutusan Panitia Pekan Misi dalam Perayaan Ekaristi di Bumi Silih Asih (BSA) Kantor Keuskupan Bandung (14/09) menandakan dimulainya rangkaian kegiatan. Ekaristi dipersembahkan oleh Pastor Yustinus Hilman Pujiatmoko (Vikjen) didampingi Pastor Petrus Maman Suparman OSC (Ketua Komisi KKI-KKM Keuskupan Bandung).

Dok: Keuskupan Bandung

Dalam kesempatan yang sama (14/09), Para peserta gladi sosial (usia remaja) mendapatkan pembekalan dari dua narasumber : Pastor Stanislaus Ferry Sutrisna Wijaya dan sharing karya komunitas Sant’ Egidio Bandung bertempat di Ruang Ignatius BSA. Para peserta pun memperoleh pembekalan teknis dari Panitia. Gladi Sosial diselenggarakan dalam dua tahap: pertama, observasi lapangan dua desa di daerah Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang dilanjutkan presentasi kelompok (21/09). Tahap kedua, para peserta mengikuti live-in di kedua desa tersebut (28-29/9).Pada waktu yang sama pula, Antonius Yogi didaulat menyampaikan animasi bedah film bertempat diruang auditorium BSA (14/09) dihadiri perwakilan Paroki Keuskupan Bandung. Bedah film ini menjadi bagian dari acara Pekan Misi di paroki masing-masing.

Kegiatan

Pastor Leonardus Samosir OSC Dok: Keuskupan Bandung

Pembuka Pekan Misi diselenggarakan edukasi berupa seminar (22/9) dengan mengundang narasumber pertama Pastor Leonardus Samosir OSC. Pastor Leo, Dosen Teologi Fakultas Filsafat UNPAR dan Pastor Markus Nur Widipranoto, Direktur Nasional/Sekretaris Eksekutif – Komisi KKI-KKM KWI. Mengupas Surat Apostolik Maximum Illud, Berikut beberapa pokok disampaikan Pastor Leo tentang surat apostolik pertama tentang misi ini. Pada bagian pertama, Pastor Leo menyampaikan bahwa Gereja itu misioner (Mat 28:19-20).

Menurutnya untuk memahami konsep Gereja misioner ini umat perlu membangun terlebih dahulu kesadaran misioner; dan berikut tahapan-tahapan kesadaran tersebut:

  • Kesaksian : umat perdana memberikan kesaksian tentang apa yang mereka alami: hidup bersama dengan Yesus, mengubah mereka, mentransformasi hidup mereka.
  • Pertobatan : “pembalikan” pada nasib orang Kristen. Dulu mereka dianiaya, tetapi kemudian kristianitas menjadi agama negara. Orang tidak puas dengan praktik orang Kristen. Maka, kesejatian diungkapkan dalam bentuk meninggalkan “dunia”.
  • Perang Salib : Adanya ancaman terhadap kekristenan, menjadi Kristen sejati itu berarti mempertahankan kekristenan.
  • Misi: Penemuan dunia baru melahirkan karakter baru: menjadi Kristen sejati adalah menjadi misionaris: pergi ke daerah jauh untuk mewartakan Kristus.
  • Dialog: Gereja menghargai agama lain; kultur lain. Gereja Katolik bicara soal inkulturasi untuk menanamkan Gereja dan membangun Gereja muda.
Pastor Markus Nur Widipranoto, Direktur Nasional/Sekretaris Eksekutif – Komisi KKI-KKM KWI Dok: Keuskupan Bandung

Paus Pius V dan Paus Clemens VIII merintis berdirinya kongregasi misi yang menjadi cikal bakal Sacra Congregatio de propaganda Fide yang diresmikan oleh Paus Gregorius XV (1622). Gereja pun mengubah misikolonial menjadi misi gerejawi. Semua karya dan wilayah tunduk ke kantor Pusat di Roma. Walaupun masih menghadapi beberapa kesulitan.

Misi di Indonesia sendiri dimulai dari awal kedatangan Gereja pada abad ke-7 Gereja Syro-Chalcedonian diBarus, Sumatera. Abad ke-13 di sekitar Palembang. Kedatangan Portugis pada abad ke-16 dan kedatangan VOC yang mendesak Portugis (dan misi Katolik). Pelayanan dua imam praja : Prinsen dan Nelissen datang ke Indonesia (1808) karena kontrak Vatikan dengan pemerintah Belanda (Republik Batavia). Pemerintahan yang ambil alih wilayah milik VOC ini dipengaruhi ide Revolusi Perancis. Pada tahun 1807 sering disebut sebagai datum pendirian Prefektur Apostolik Batavia, resminya pada tahun-tahun berikutnya kedatangan tarekat-tarekat (kedatangan para imam Jesuit), tarekat bruder dan suster. Pembagian wilayah misi pun dilakukan secara sistematis : tanggung jawab Pastoral (termasuk koordinatif) dan finansial . Karya yang menonjol : pendidikan dan kesehatan. Pada bagian pertama, Pastor Leo menyampaikan inspirasi yang diperoleh dari Maximum Illud untuk menguatkan dan mengoreksi misi.

Pembawa Vandel Paroki bejalan berdampingan saat Pembukaan Pekan Misi IV Dok: Keuskupan Bandung

Poin-poin yang menarik dari dokumen ini yang dapat dijadikan inspirasi : Misi itu belum selesai, Misi itu bukan karya eksklusif, Misi itu tidak terbatas pada wilayah sendiri : misi itu bukan hanya di Gereja melainkan di manapun, Tahbiskan imam pribumi, Tujuan misi itu rohani (tidak menganggap Kristen sebagai orang asing), Membantu orang yang membutuhkan persaudararaan. Semua hal tersebut bukan karya pribadi, melainkan karya demi kemuliaan Allah.

Untuk itu, Pastor Leo mengajak umat sekalian untuk merefleksikan kembali mulai dari terbentuknya hirarki pada 1961. Imam-imam pribumi sudah berpendidikan dalam dan luar negeri. Awam sudah banyak terlibat walaupun minoritas. Apakah misi sudah memenuhi targetnya ? Berbagai musyawarah dan sinode menunjukkan, bahwa keberadaan Gereja itu terkait mutu hidup: internal dan eksternal. Untuk itu, musti dipahami ulang makna misi dan merevitalisasi misi dengan pemaknaan ini. Karya pelayanan pendidikan, kesehatan dan sosial-karitatif sejak awal menonjol. Perlu dipikirkan bentuk-bentuk pelayanan lain di zaman sekarang. Para pelaku pelayanan yang dulunya dilakukan oleh imam dan biarawan/wati. Sekarang sudah mulai banyak awam yang ikut melakukan karya pelayanan. Perlu dipikirkan bentuk pelayanan bagi awam yang baik.

Mengutip dari Evangelii Gaudium, Misi itu belum selesai. Ada tiga hal yang dapat diperhatikan : masih banyak orang yang belum mengakui Kristus. Bagaimana Allah di dalam Sang Putera, Yesus Kristus, menyentuh dan menghidupi  semua orang. Orang miskin: karya kasih yang tidak menjadikan mereka sebagai obyek belaka. Orang yang diam-diam meninggalkan Gereja. Mereka mungkin butuh kesaksian yang credible.

Dok: Keuskupan Bandung

Terinsipirasi dari Paus Fransiskus: Misi internal kita adalah Mencintai-Dicintai dan Memaafkan. Misi eksternal kita adalah kerendahan hati, pelayanan dan cinta. Catatan lain yang disampaikan adalah Dunia yang sudah berubah, perlu melihat kembali cara yang berubah namun tetap memperhatikan isinya. Dalam inkulturasi pada dasarnya menghargai budaya yang sudah ada, tetapi sekaligus memurnikan dan menyempurnakan serta menemukan nilai/bibit Injili. Maka dalam Mewartakan Kristus di Asia dibutuhkan Kesaksian: hidup seperti Yesus ; membawa nilai Ilahidalam hidup (FABC). Membangun kepekaan terhadap permasalahan di sekitar Gereja.

Pada hari kedua seminar (22/9) Pastor Markus Nur Widipranoto, menyampaikan bahwa Pekan Misi Nasional (PMN) IV di Bandung ini bersama dengan Pekan Misi Luar Biasa yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus pada Minggu Misi (20/10/2017) yang juga perayaan 100 Tahun Dokumen Maximum Illud. Pastor Nur Widi mengartikan Maximum Illud adalah “saat yang maksimal” atau yang paling tepat. Saat yang tepat untuk mewartakan Injil. Dokumen ini berlatar belakang usainya Perang Dunia I tahun 1914-1918. Dampak perang ini sangat destruktif termasuk dalam bidang spiritualitas. Pada saat itu, Gereja kredibilitasnya menurun, karena adanya imam yang bermisi membawa semangat nasionalisme-imperialisme. Misionaris membawa agenda tersembunyi dari mereka berasal dan mengakibatkan konflik kepentingan.

Dok: Keuskupan Bandung

Pekan Misi Nasional ini bertujuan menyemangati dan memurnikan karya misi . Pada tahun ini, PMN bekerja sama dengan Komisi Pemberdayaan Sosial Ekonomi KWI. PMN diselenggarakan setiap minggu kedua terakhir dalam bulan Oktober , sedangkan Hari Pangan Sedunia 2019 setiap 16 Oktober. Pemberdayaan pangan menjadi bagian dari karya misi juga menurutnya. Karya sosial perlu didukung dengan roh dan semangat karena rahmat Tuhan pun bekerja dalam perutusan. Bagian misi menjadi bagian spiritual, sedangkan bagian pemberdayaan menjadi bagian konkret yang dilihat, dirasakan dan dialami. Setiap orang katolik mewartakan Injil di mana pun kapan pun dan kepada siapapun,karena baptis kalian diutus diambil jadi Pewarta Injil. (EN 14-15). Kodrat Gereja adalah Kodrat Misioner. Gereja harus bergerak keluar dari Altar menuju Pasar kembali ke altar, dari narsis ke kenosis (pengosongan diri). Kita dibaptis dan diutus dalam misi di dunia (Pesan Paus Fransiskus pada Minggu Misi Sedunia 2019).

Dok: Keuskupan Bandung

Pekan Misi Nasional telah diselenggarakan sebanyak tiga kali : Pekan Misi Nasional I -2016 di Keuskupan Weetebula, bertema Gereja Misioner, Saksi Kerahiman; pada 2017 di Keuskupan Pangkal Pinang , bertema Misi Jantung Hati Iman Kristiani; pada 2018 di Keuskupan Agung Makassar, bertema Bersama Kaum Muda, Kita Wartakan Injil kepada Semua Orang. Kegiatan yang dilakukan cukup beragam, ada yang satu bulan penuh, ada yang satu pekan, ada yang tiga hari.

Visi PMN IV dan HPS 2019: Umat Katolik semakin beriman mendalam; misioner berkobar mewartakan Sukacita Injil dengan pemberdayaan pangan lokal dan sehat.

Misi :

  1. Membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab seluruh umat Katolik akan rahmat Baptis dan tugas misioner pengembangan iman dan pangan
  2. Menumbuhkembangkan kesadaran misioner dalam diri umat Katolik
  3. Kerjasama misioner dalam doa, derma dan aksi.

Tema : Dibaptis dan Diutus (Empat dimensi/bidang Pekan Misi dan HPS 2019) :

  1. Edukasi – Formasi Misioner : Seminar, workshop, rekoleksi, retret, SOMA (School of Missionary Animators), Penyuluhan, Rosario Misioner, gladi sosial remaja.
  2. Caritas Misioner: Pengobatan gratis, Bakti Sosial, Pasar Murah, Pameran Pangan, HPS, dsb.
  3. Animasi Misioner: Pentas seni; gelar budaya, lomba kuis/cerdas cermat pengetahuan iman
  4. Selebrasi Misioner: Perayaan Ekaristi Pembuka dan Penutup Puncak Pekan Misi

Tema Pokok Pewartaan Iman Katolik di Seluruh Dunia bertujuan untuk memberi semangat kepada pelaku misi dan menunjukkan metode-metode misi. Dalam inspirasi Maximum Illud menyebarkan dan menyuburkan iman Katolik di seluruh dunia diwujudkan dalam tindakan partisipasi, transformasi dan pemberdayaan. Wajah Kebaruan Misi : Keluarga Katolik adalah misionaris zaman ini, keluarga menjadi tulang punggung Gereja.

Dok: Keuskupan Bandung

Setelah pelaksanaan seminar di BSA, para peserta melanjutkan kegiatan pembuka di gereja Santo Petrus,  Katedral Bandung untuk berpartisipasi dalam Ekaristi Pembuka PMN IV yang dipersembahkan oleh Pastor Yustinus Hilman Pujiatmoko (Vikjen), didampingi Pastor Markus Nur Widi (Dirnas KKI-KKM KWI), Pastor Maman Suparman OSC (Dirdios KKI-KKM), Pastor Barnabas Nono Juarno OSC (Pastor Paroki Katedral Bandung), Pastor FX Wahyu Triwibowo (Ketua Komisi Kepemudaan), Pastor Felix Halawa OSC (Komisi Liturgi).

Dalam homilinya Pastor Hilman, demikian sapaan akrab Vikjen Keuskupan Bandung, menyampaikan perlunya mengasah kepekaan hati dalam semua kegiatan PMN IV ini. Hendaknya dibangun kesadaran untuk mampu merefleksikan arti dari salib bagi pribadi, keluarga dan lingkungan. Keluarga menjadi misionaris yang memberikan aura rohani lewat tingkah laku dan hidup yang benar dihadapan Tuhan. Dalam sambutannya Pastor Nurwidi salah satunya menyampaikan bahwa Mewartakan Kabar Suka Cita di Indonesia itu : menghargai keberagaman, menjalin dialog konstruktif dengan umat beriman lain, mengembangkan toleransi, menghargai danmeluhurkan kearifan lokal yang menjadi warisan leluhur bangsa. Semua dipanggil untuk mewartakan dan membangun damai dan keadilan, hidup bersaudara sebagai sesama anak bangsa, sebagai sesama orang beriman. Seperti ditegaskan Vikjen dalam homili, Keluarga Katolik dan Kaum muda merupakan misionaris zaman kini, mereka menjadi tulang punggung gereja. “Selamat merayakan Bulan Misi Luar Biasa dan Pekan Misi Nasional IV. Semoga kita menjadi berkat untuk banyak orang”.Pastor Nur widi pun berkenan menyampaikan terima kasih kepada Mgr. Antonius Subianto Bunjamin yang telah memberikan izin kegiatan PMN IV ini mewakili Komisi KKM – KKI KWI dan Komisi PSEKWI. (Edy Suryatno & Britto)