Ratusan Uskup Asia Akan Kunjungi Terowongan Silaturahmi, FABC 2026, FABC Jakarta, Sidang Raya XII Federation of Asian Bishops Conferences (FABC) 2026 di Jakarta, FABC Jakarta 20-26 Juli 2026, Katolik Inonesia, KWI, FABC 2026 Indonesia, Katolik Indonesia, Katolik Asia, Uskup Indonesia, Uskup Asia, Gereja Katolik Asia, Gereja Katolik Indonesia, Kardinal Asia, Kardinal Indonesia, Utusan FABC
Foto: llustrasi ChatGPT

Kerukunan antarumat beragama yang selama ini menjadi salah satu kekuatan Indonesia akan diperlihatkan kepada para pemimpin Gereja Katolik se-Asia dalam Sidang Raya XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) 2026 di Jakarta. Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah kunjungan ratusan uskup dari berbagai negara menuju Terowongan Silaturahmi dan Masjid Istiqlal, sebuah simbol persaudaraan lintas agama yang kini menjadi perhatian dunia.


Kunjungan tersebut akan menjadi penutup rangkaian Sidang Raya XII FABC yang berlangsung pada 20–26 Juli 2026. Setelah mengikuti berbagai sesi pertemuan dan refleksi pastoral, para uskup akan merayakan Ekaristi di Gereja Katedral Jakarta sebelum berjalan bersama menuju Masjid Istiqlal melalui Terowongan Silaturahmi.

Terowongan sepanjang sekitar 28 meter yang menghubungkan dua rumah ibadah itu bukan sekadar jalur penghubung bawah tanah. Ia menjadi simbol komitmen Indonesia dalam membangun dialog, saling menghormati, dan hidup berdampingan di tengah keberagaman agama.

Gagasan pembangunan Terowongan Silaturahmi pertama kali disampaikan Presiden Joko Widodo saat meninjau renovasi Masjid Istiqlal pada 2020. Pembangunannya dimulai pada Januari 2021 sebagai bagian dari revitalisasi Masjid Istiqlal untuk menghubungkan secara langsung masjid terbesar di Asia Tenggara itu dengan Gereja Katedral Jakarta yang telah berdiri berdampingan sejak era Presiden Soekarno. Terowongan tersebut dipilih sebagai penghubung yang aman sekaligus memiliki makna simbolis sebagai jembatan persaudaraan antarumat beragama. Kehadirannya semakin dikenal dunia ketika dikunjungi oleh Paus Fransiskus dalam Dialog Lintas Agama di Masjid Istiqlal pada September 2024, sebelum kemudian diresmikan untuk umum pada Desember tahun yang sama.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Indonesia memiliki pengalaman berharga dalam membangun harmoni di tengah keberagaman agama, budaya, dan etnis. Menurutnya, pengalaman tersebut layak diperkenalkan kepada para peserta Sidang Raya XII FABC yang datang dari berbagai penjuru Asia.

“Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat dalam merawat kerukunan. Kehadiran para uskup dari berbagai negara Asia menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian bersama,” ujar Nasaruddin Umar.

Ia menambahkan bahwa Terowongan Silaturahmi dan Masjid Istiqlal merupakan representasi nilai-nilai kebangsaan Indonesia yang menjadikan dialog dan saling menghormati sebagai fondasi kehidupan beragama.

“Kita ingin para peserta tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan langsung bagaimana kerukunan hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia,” katanya dalam pertemuan bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) terkait persiapan FABC 2026.

Ketua KWI, Mgr. Antonius Subianto Bunyamin, menjelaskan bahwa kunjungan ke Terowongan Silaturahmi telah dipastikan menjadi bagian dari agenda resmi penutupan Sidang Raya XII FABC. Sekitar 110 uskup dari berbagai negara Asia akan mengikuti kunjungan tersebut, didampingi delegasi dari Amerika, Afrika, Oseania, dan Eropa. Dari Indonesia sendiri akan hadir sekitar 50 uskup, baik yang masih aktif maupun emeritus.

Para delegasi nantinya akan diterima langsung oleh Menteri Agama yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

“Tadi dikonfirmasi bahwa pada acara penutupan FABC akan ada kunjungan ke Terowongan Silaturahmi. Bapak Menteri Agama akan menerima para uskup dan delegasi di Masjid Istiqlal,” ujar Mgr. Antonius.

Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, mengatakan bahwa kunjungan tersebut selaras dengan tema besar Sidang Raya XII FABC, yakni “You Will See Greater Things” (Yohanes 1:50): Synodal Conversion and the Mission to Be Bridges and Bridge-Builders in Asia. Menurutnya, panggilan Gereja di Asia adalah membangun jembatan dialog di tengah masyarakat yang majemuk.

“Kita akan melihat hal-hal besar melalui perjumpaan dengan agama dan budaya lain. Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa akan ada hal yang lebih besar ketika kita membangun jembatan-jembatan dialog. Karena itu kunjungan ke Terowongan Silaturahmi menjadi simbol untuk menunjukkan cita-cita bangsa Indonesia dalam hidup rukun dan harmoni di tengah perbedaan,” kata Kardinal Suharyo.

Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) sendiri merupakan persekutuan para konferensi waligereja di Asia yang berdiri pada 1970 setelah pertemuan para uskup Asia bersama Paus Paulus VI di Manila. Sejak saat itu, FABC menjadi forum utama bagi para uskup Asia untuk memperkuat persekutuan, merumuskan arah pastoral, dan mengembangkan dialog dengan agama-agama, budaya, serta masyarakat Asia. Sidang raya FABC diselenggarakan setiap empat tahun sekali sebagai forum tertinggi Gereja Katolik di Asia.

Penyelenggaraan Sidang Raya XII FABC di Jakarta menjadi momentum bersejarah. Untuk pertama kalinya Jakarta dipercaya menjadi tuan rumah, sekaligus menjadi penyelenggaraan kedua di Indonesia setelah Sidang Raya FABC V di Bandung pada 1990.

Konferensi Waligereja Indonesia menilai kepercayaan tersebut tidak lepas dari perhatian dunia terhadap praktik kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Kunjungan Paus Fransiskus pada 2024, terutama momen penandatanganan Deklarasi Istiqlal dan kunjungan ke Terowongan Silaturahmi, semakin memperkuat citra Indonesia sebagai ruang dialog dan persaudaraan lintas agama.

Melalui Sidang Raya XII FABC, Indonesia tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin Gereja Katolik Asia. Lebih dari itu, Indonesia ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa kerukunan dapat dibangun melalui dialog yang tulus, saling menghormati, dan kesediaan untuk berjalan bersama. Ketika ratusan uskup melangkah dari Gereja Katedral menuju Masjid Istiqlal melalui Terowongan Silaturahmi, mereka tidak sekadar menempuh sebuah jalur bawah tanah, tetapi menyampaikan pesan bahwa jembatan persaudaraan selalu lebih kuat daripada tembok pemisah.*

*Gabriel Abdi Susanto (Pendiri Sesawi.Net, Jurnalis Senior dan Anggota Badan Pengurus Komsos KWI)