Home Jendela Alkitab Harian Renungan Harian, Minggu: 11 Juni 2017, Yoh. 3:16-18, Yoh. 3:16-18

Renungan Harian, Minggu: 11 Juni 2017, Yoh. 3:16-18, Yoh. 3:16-18

ARI ini kita merayakan Hari Raya Tri Tunggal Mahakudus. Dalam Credo, kita percaya akan satu Allah tiga diri: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Kesatuan Trinitas ini bukanlah kesatuan matematis, tetapi kesatuan kasih eksperensial. Hidup kita terarah kepada Bapa yang Mahakasih, dikasihi oleh Putra Sang Penebus, dan dijiwai oleh Roh Kudus, Penghibur. Sejak dibaptis, kita telah percaya dan dipersatukan dengan Allah TriTunggal. Setiap hari kita berdoa dengan membuat tanda salib. Dalam nama Allah Tritunggal.

Allah itu bukanlah semata-mata Allah yang menghakimi, tetapi Ia juga Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih-setia-Nya. Itulah yang diwahyukan Allah kepada Nabi Musa. Kasih Allah itu menjadi sempurna tampak dalam diri Yesus Kristus. Yesus sendiri bersabda kepada Nikodemus bahwa Ia datang bukan untuk menghakimi dunia, tetapi menyelamatkannya. Namun, dunia lebih menyukai hidup dalam gelap daripada terang. Kita yang telah dibaptis dipanggil dan diutus untuk menjadi terang dunia. Duni kini membutuhkan terang kita: kasih, persatuan, pembebasan dari korupsi, diskriminasi dan terorisme. Diri kitalah yang menjadi perpanjangan tangan kasih Allah. Dengan kasih Allah Tritunggal itu, kita dapat hidup dalam damai sejahtera, sebagaimana dinasihatkan Paulus hari ini. Dan sebaliknya benar juga apa yang dituliskan M. Durufle dalam lagunya yang sering kita nyanyikan pada hari Kamis Putih, “Urbi Caritas et Amor, Deu Ibi est,” – di mana ada kasih dan cinta, di situlah Allah bersabda.

Ya Allah Tri Tunggal Mahakudus, terpujilah Engkau karena besarlah kasih-Mu kepadaku. Engkaulah sumber, dasar, dan model sempurna kesatuanku dengan Dikau dan sesama. Semoga aku berani memperjuangkan kesatuan dan kerukunan hidup di dalam keluarga dan masyarakat. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2017

Kredit Foto: Allah Tritunggal Mahakudus