Beranda Jendela Alkitab Harian Renungan Harian, Sabtu: 24 Februari 2018, Mat. 5:43-48

Renungan Harian, Sabtu: 24 Februari 2018, Mat. 5:43-48

Kesetiaan/Foto:Keluarga.com

ESETIAAN merupakan keutamaan langka. Alangkah sulitnya mencari orang yang benar-benar setia dalam waktu yang panjang. Menjadi setia nampaknya mudah diucapkan, tetapi payah untuk diusahakan. Nabi Musa kembali mengajak umat Israel untuk menyatakan kesetiaan mereka kepada Tuhan. Tuhan berjanji bahwa Ia akan menjadi Allah Israel dan Israel menjadi umat-Nya, bila mereka melakukan segala ketetapan dalam hukum taurat yang diberikan Allah. Demikian juga halnya, jika mereka setia dan taat kepada Tuhan maka kepemilikan penuh atas tanah perjanjian itu akan terwujud.

 

 

Kegenapan dari hukum Taurat adalah kasih. Inilah inti pewartaan Yesus dan sekaligus tantangan bagi kita. Yesus mengajarkan bahwa kasih bukan hanya ada di dalam hati, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan. Kasih itu tidak membeda-bedakan, tak mengecualikan atau mengucilkan pribadi tertentu. Kasih menggerakkan seseorang untuk memperlakukan musuh dengan cara yang sama ia memperlakukan sahabat.

Kita perlu mengasihi, sebab Allah lebih dahulu mengasihi kita, terlepas dari manusia berdosa atau kudus. Allah adalah kasih. Inilah dasar utama bagi kita yang mengaku diri sebagai kaum beriman. “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat.5:45). Berdasarkan ajaran Yesus inilah kita pun diajak untuk mengasihi sesama manusia, tanpa perkecualian.

Ya Allah, jadikanlah aku pribadi yang rela mengampuni, sehingga aku dapat setia pada janji dan rencana-Mu dalam setiap peristiwa hidupku. Amin.

 

Sumber: Ziarah Batin 2018, Penerbit Obor, Jakarta