Beranda Jendela Alkitab Harian Siraman Rohani, Selasa: 21 Ferbuari 2016 (Markus 9: 30 – 37)

Siraman Rohani, Selasa: 21 Ferbuari 2016 (Markus 9: 30 – 37)

Memimpin Lewat Contoh Hidup Yang Baik

Saudara-saudari…

Saya mengenal satu keluarga bahagia. Keluarga ini mendapat hadiah dari presiden dan digelar sebagai keluarga contoh. Yang menarik dari keluarga ini, menurut pengamatan saya, adalah antara mereka selalu ada keterbukaan. Bapa sangat menghargai pendapat istri dan anak-anaknya; istri selalu menerima masukkan pikiran dari suami dan anak-anak; anak-anak pun selalu menerima teguran positip dari orangtua demi kebaikan mereka sendiri. Orang tua mendidik anak-anak lebih banyak lewat kesaksian hidup. Dalam bidang rohani misalnya, orangtua menanamkan nilai-nilai Kristen dalam diri anak-anak, dan mereka sendiri sudah menjadi contoh atau saksi betapa nilai-nilai Kristen sudah mendarah daging dalam hidup mereka. Dalam bidang pendidikan, orangtua selalu tanamkan dalam diri ana-anak pentingnya membaca dan membaca, dan pentingnya pendidikan. Mereka selalu mendorong anak-anak supaya rajin membaca lewat kesaksian hidup yaitu mereka sendiri, bapa mama selalu rajin membaca, entah membaca buku atau berita harian. Dalam bidang pendidikan bapa sendiri sudah meraih 4 gelar S3, sementara Mama adalah dokter kesehatan yang selalu rajin mengikuti perkembangan ilmu kedokteran. Karen acontoh hidup orangtua yang begitu baik, keempat orang anak pun meraih pendidikan tinggi, anak sulung menjadi dokter kesehatan, anak kedua sarjana hukum, anak ketiga dokter gigi dan yang bungsu menjadi apoteker dan perawat. Kehidupan rohani mereka pun selalu diperhatikan dengan baik. Keluarga ini sungguh berhasil karena apa yang diajarkan lebih banyak diwujudkan lewat contoh hidup.

Saudara-saudari…

Sewaktu Yesus menceriterakan apa yang akan dihadapi-Nya, bahwa Ia akan dianiaya, dibunuh dan bangkit kembali, para murid sama sekali tidak mengerti. Mereka berpikir bahwa Yesus Kristus akan menjadi pemimpin politik dan kepemimpinanNya akan diteruskan oleh para murid-Nya. Tidak seorangpun dari mereka yang menanggapi apa yang dikatakan Yesus. Sebaliknya mereka berdiskusi di antara mereka, tentang siapa yang terbesar di antara mereka? Siapa yang mengambilalih kepemimpinan Yesus Kristus? Konsepkepemimpinanmereka pun samasekali lain. Mereka berpikir bahwa menjadi pemimpin berarti akan dilayani, dihormati, didengar. Kini Yesus tampil merombak konsep kepemimpinan mereka dengan konsep kepemimpinan Yesus Kristus yaitu dengan menempatkan seorang anak di tengah mereka. Menjadi  pemimpin berarti melayani orang yang tidakberdaya, sepertianakkecil, membela orang yang hakazasinyadiperkosaoleh orang lain. Menjadi pemimpin berarti memimpin lewat contoh hidup yang baik, seperti memberi contoh kepada anak-anak agar dengan muda mereka mengikutinya; menjadi pemimpin berarti promosikan kebenaran dan kejujuran agar orang menaruh kepercayaan kepadanya; menjadi pemimpin berarti siap mendengarkan dan selalu menghargai dan menghormati sesama, apapun latar-belakangnya.

Pertanyaan untuk kita, apakah kita sudah menjadi pemimpin yang baik dalam keluarga kita? Apakah kita selalu menghargai dan menghormati pendapat orang lain? Apakah kita selalu siap melayani siapa saja yang sangat membutuhkan bantuan kita?

Marilahsaudara-saudari…

Yesus Kristus sudah tunjukkan sikap kepemimpinan yang baik kepada kita lewat contoh hidup-Nya. Dia menjalankan apa yang dikatakan-Nya.

Kita berdoa semoga Tuhan selalu membantu kita agar kita pun sanggup menjadi pemimpin yang baik, yang memimpin sesama lewat contoh hidup yang baik.

Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.

=======

Kredit Foto: Jokowi/Fiksiana – Kompasiana