Beranda Jendela Alkitab Harian Tidak Membalas Kekerasan dengan Kekerasan, Rabu 30 Juli

Tidak Membalas Kekerasan dengan Kekerasan, Rabu 30 Juli

Ilustrasi: Tidak Membalas Kekerasan dengan Kekerasan (foto dari tomfarmerphotography.blogspot.com)

Kisah unik dari Vienna. Perang Napoleon memakan banyak korban. Adalah seorang suci bernama Memens Hofbauer. Ia mengumpulkan anak-anak yang tidak mempunyai bapak akibat korban perang tersebut. Untuk menghidupi mereka, Memens berkeliling negeri mencari donatur. Setiap keluarga kaya, toko dan restoran ia datangi.

Suatu ketika masuklah ia ke sebuah restoran besar. Di sana orang-orang borjuis berkumpul menghabiskan uang dengan judi dan minum. Memens mendekati segerombolan orang yang sedang asyik main kartu. Ia meminta mereka supaya mendermakan sedikit kekayaannya untuk hidup para yatim.

Tanpa disangka, salah seorang dari mereka menampar Memens, memaki dan meludahi wajahnya. Demikian pun yang lain tampak menyetujui reaksi ini.

Memens dengan tenang mengambil sapu tangan, mengusap air ludah dari pipinya.  Kemudian tanpa marah sedikit pun, dengan lembut ia berkata, “Terima kasih, Tuan, itu semua untuk saya. Lalu, apakah masih ada sesuatu bagi mereka, para yatim?

Orang itu terperangah kaget, lalu merogoh saku memberikan semua uangnya kepada Memens.

Sikap seperti yang ditunjukkan oleh Memens itu sangat luar biasa bernilai. Ia tidak membenci orang-orang yang merendahkan martabatnya. Ia tidak membalas dengan kemarahan. Bahkan dengan hati yang tulus ia tetap meminta kesediaan mereka untuk membantu sesamanya yang menderita.

Tentang hal ini menarik kita simak apa yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi.

Ia berkata, “Aku menjaga diriku untuk tidak membenci apa pun yang ada di bumi. Dengan disiplin doa yang panjang, aku telah berusaha selama lebih dari empat puluh tahun untuk tidak membenci orang lain. Aku tahu ini merupakan pernyataan besar. Meskipun demikian, aku melakukannya dengan segala kerendahan hati.

Tentu saja hal seperti ini tidak mudah dijalani oleh manusia. Ada gengsi yang sering menghalangi manusia untuk berbuat baik terhadap sesamanya. Manusia mudah untuk membalas kekerasan dengan kekerasan.

Untuk itu, dibutuhkan suatu kerendahan hati yang besar untuk menghadapi orang yang memperlakukan kita tidak adil. Ada rasa tidak enak di dalam hati ketika kita diperlakukan tidak adil. Kita ingin membalas perlakuan itu. Namun Tuhan menghendaki agar kita tetap bertahan pada kondisi kita. Kita tidak boleh membalas kekerasan dengan kekerasan.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar dunia ini tetap damai dan aman. Kita ingin agar relasi kita dengan sesama tetap berjalan dengan baik. Karena itu, mari kita berusaha untuk tidak mudah membalas kekerasan dengan kekerasan. Kita merendahkan diri kita, agar hasil terbaiklah yang dapat kita raih. Membalas kekerasan dengan kekerasan hanya menghasilkan kekerasan baru.