Komisi Kerawam KWI, KWI, Kerawam, Dekrit Apostolicam Actuositatem, Komsos KWI, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, RD Hans Jeharut, Awam Katolik, Dokumen Konsisli Vatikan II, Dr J Kristiadi, RP Andreas Atawolo, Desiana Samosir
Foto: Komsos KWI

Seminar Nasional memperingati 60 tahun Apostolicam Actuositatem yang berlangsung di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta, Kamis 4 Desember 2025, menjadi ruang refleksi besar bagi Gereja Katolik Indonesia untuk menimbang kembali peran dan masa depan kerasulan awam.

Dalam sambutannya, Rm. Yohanes Kurnianto Jeharut, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI menggarisbawahi bahwa momentum 60 tahun dekrit Apostolicam Actuositatem ini tidak hanya bersifat historis, tetapi sekaligus mengikat pada dinamika Gereja Indonesia yang memasuki abad kedua perjalanan KWI sejak Mei 2024. Ia mengingatkan bahwa setelah merayakan SAGKI V pada 3–7 November 2025, Gereja dipanggil untuk semakin serius menata kiprah kerasulan awam di tengah masyarakat.

Romo Hans berharap bahwa, “Refleksi bersama ini akan mengantar kita, mau seperti apa gereja katolik di Indonesia di 100 tahun yang akan datang?”. Refleksi serupa Ia tekankan menjelang 500th pembaptisan umat Katolik pertama pada tahun 2034 mendatang. “Setelah 5 abad, akan seperti apa kita?” Hal ini sekaligus mengingatkan kita bahwa keberadaan Gereja Katolik sudah diakui selama 5 abad di belahan nusantara.
RD. Yohanes Kurnianto Jeharut. Foto: Komsos KWI
Awam dalam Jantung Misi Gereja

Ketua Komisi Kerawam KWI, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, dalam keynote speech menegaskan kembali relevansi Apostolicam Actuositatem di tengah tantangan modern. Menurutnya, dekrit yang lahir pada Konsili Vatikan II ini berakar pada penghormatan martabat manusia dan pembaharuan Gereja agar semakin relevan bagi dunia.

Mgr. Harun menjelaskan empat gagasan mendasar dari dekrit tersebut: pembaharuan Gereja melalui aggiornamento, penyadaran martabat permandian bagi awam, dorongan partisipasi awam dalam politik-sosial-ekonomi, dan keberanian menghadapi godaan dunia modern seperti korupsi dan human trafficking. “Semua itu menjadikan awam bukan sekadar penonton, tetapi pelaku aktif dalam misi Gereja,” tukasnya.

Di era digital, peran awam – terutama orang muda dan perempuan – menjadi semakin strategis. Evangelisasi tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi turut bergerak ke ruang maya. Mgr. Harun juga menegaskan pentingnya dialog lintas iman untuk bersama memerangi kejahatan modern dan membangun tata dunia baru yang damai.

Ia juga menegaskan bahwa spiritualitas “terang dan garam dunia” harus diterjemahkan ke dalam kapasitas baru: pendidikan karakter, kaderisasi serius, dan keberanian Gereja bersuara profetis dalam isu bangsa, sebagaimana juga ditekankan dalam hasil rekomendasi SAGKI.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono – Uskup Keuskupan Agung Palembang. Foto: Komsos KWI
Teologi, Aktivisme, dan Politik dalam Kerasulan Awam

Dalam sesi paparan, RP. Dr. Andreas B. Atawolo, OFM, memberikan gambaran teologis mendalam mengenai makna awam. Ia menjelaskan bahwa sejak tradisi biblis, umat beriman telah dipahami sebagai umat pilihan yang dipanggil memberi kesaksian keselamatan. Konsili Vatikan II memperjelas peran khas awam sebagai jembatan antara dunia rohani dan dunia sekuler.

Romo Andreas menegaskan bahwa peran awam bersifat “mendesak dan universal.” Ia menyoroti perkembangan zaman yang semakin kompleks, termasuk krisis ekologis dan tantangan digitalisasi yang memerlukan kehadiran awam yang mampu menjaga keseimbangan antara urusan duniawi dan spiritual. “Dekrit ini, menuntut awam untuk bertindak sebagai ragi yang menghadirkan nilai Injili dalam dinamika sosial,” katanya.

Sementara itu, Desiana Samosir – aktivis masyarakat sipil – menambahkan refleksi dari perspektif advokasi dan keberpihakan. Ia memaknai kerasulan sebagai wujud kasih yang konkret, tampak dalam keterlibatannya memperjuangkan hak informasi publik serta mempersoalkan kebijakan pemerintah yang melemahkan akuntabilitas. Baginya, berpolitik tidak selalu berarti menjadi pejabat publik; “mengawal kebijakan pun merupakan kerasulan yang luhur.” ujar Desi. 

Desiana juga menyinggung tantangan pendampingan orang muda Katolik, khususnya tren “#kaburajadulu” serta kebutuhan transfer pengetahuan lintas generasi. Ia menegaskan bahwa keluarga dan komunitas adalah aktor utama dalam kaderisasi, sementara komisi di itngkat nasional (KWI) berperan sebagai pendamping kebijakan dan program.

RP. Andreas (Kiri), Ibu Desy (Tengah-Perempuan), Pak Kristiadi (Kanan) ditemani Moderator, Pak Yohanes Ary (Tengah – Laki-laki) saat membawakan materi seminar. Foto: Komsos KWI

Dari perspektif politik, Dr. J. Kristiadi menyoroti medan politik sebagai “medan siasat” yang tidak steril dari godaan. Ia menyebut bahwa awam harus tetap menghidupi nilai Injili tanpa terjebak dalam praktik oportunistik. Ia menekankan bahwa kaderisasi awam adalah kebutuhan mendesak agar Gereja dapat menghadirkan pemimpin-pemimpin yang berkarakter kuat dan tahan godaan kekuasaan.

Mendesak Kaderisasi, Menghidupi Spirit Krisis

Sesi tanya jawab memperlihatkan keresahan dan harapan peserta terkait kaderisasi awam, regenerasi orang muda, peran keluarga, hingga tantangan politik uang. Para narasumber sepakat bahwa tantangan Gereja modern tidak bisa dijawab hanya dengan teori, melainkan harus diwujudkan dalam praksis konkrit di tingkat komunitas dan keluarga.

Romo Andreas mengingatkan kisah perjalanan “Emaus” sebagai pendekatan kaderisasi: berjalan bersama, mendengarkan, dan memberi ruang orang muda menemukan kesadaran dari dalam dirinya sendiri. Sementara itu, Desiana menegaskan perlunya penanggung jawab lokal dalam setiap keuskupan untuk memastikan pembinaan awam berjalan sesuai karakter wilayah masing-masing.

Dalam penutupnya, Mgr. Harun mengajak seluruh peserta menyadari bahwa Gereja saat ini berada dalam “momen krisis” yang justru menuntut kreativitas dan keberanian keluar dari zona nyaman. Ia menekankan bahwa banyak talenta luar biasa di tengah umat Katolik – mulai dari anak kecil hingga profesional muda – yang perlu ditemukan, dirawat, dan diorbitkan sebagai kader masa depan Gereja.

Foto: Komsos KWI