JAYAPURA-MIRIFICA.NET – “Bukankah hati kita berkobar-kobar saat Ia berbicara dengan kita di tengah jalan?” (Luk 24:32). Ayat dari Injil Lukas ini seolah menjadi napas dari seluruh perjalanan pelayanan formasio liturgi Komisi Liturgi KWI di Tanah Papua. Sebuah perjalanan yang bukan sekadar melaksanakan agenda animasi, tetapi pengalaman berjalan bersama Kristus – dari Emaus menuju Yerusalem, dari Sabda menuju Ekaristi, dari persekutuan (communio) menuju perutusan (missio).

Pelayanan dimulai di Seminari Tinggi Diosesan Yerusalem Baru Papua, Jayapura, pada 27–28 Maret 2026. Komisi Liturgi KWI bersama Tim Formator Seminari ini, hadir menyapa 188 frater dari lima keuskupan di Papua: Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Agats-Asmat, dan Keuskupan Timika. Tim yang hadir dalam pelayanan ini ialah Pastor Fransiskus Yance Sengga (Sekretaris Komisi Liturgi KWI) bersama Katarina Michelle Chen (Anggota Pengurus Komisi Liturgi KWI).
Sejak awal, suasana terasa hangat dan penuh antusiasme. Dalam sesi sharing panggilan, para frater diajak kembali menengok perjalanan hidup mereka: pengalaman jatuh bangun, pergumulan, kelelahan, bahkan harapan-harapan yang mungkin sempat redup. Mengangkat tema “Emaus to Yerusalem”, Romo Yance demikian sapaannya, mengajak para peserta melihat pengalaman dua murid Emaus sebagai cermin perjalanan panggilan setiap murid Kristus – perjalanan dari suasana hati yang dirundung rasa kecewa menuju harapan, dari kebingungan menuju terang, dari sakit dan luka menuju penyembuhan dan pembebasan, dan dari kelelahan menuju semangat baru untuk kembali diutus.
Memasuki sesi pendalaman Spiritualitas Ekaristi, refleksi bertolak dari Surat Apostolik Mane Nobiscum Domine Paus Yohanes Paulus II (7 Oktober 2004). Dalam surat tersebut, Gereja kembali diingatkan bahwa Ekaristi adalah pusat dan jantung kehidupan Kristiani: puncak dan sumber kekuatan iman, dasar kehidupan rohani, sekaligus tempat umat berjumpa dengan Kristus yang hidup. Ekaristi tidak berhenti di altar. Perayaan liturgi harus menjelma dalam kehidupan yang nyata. Melalui ritus, simbol, dan Sabda, umat tidak hanya menerima pengetahuan iman (informative), tetapi lebih dari itu, mereka dibentuk dalam tindakan hidup (performative) dan ditransformasikan oleh karya Roh Kudus (transformative). Dari altar (persekutuan dengan Kristus dan sesama umat beriman-Gereja), umat diutus kembali ke dunia membawa wajah Kristus dalam pelayanan dan kasih.
Salah satu refleksi yang mendapat perhatian khusus ialah tentang Verbum Domini – “Demikianlah Sabda Tuhan.” Dalam Liturgi Sabda, Gereja percaya bahwa Allah sendiri berbicara kepada umat-Nya hic et nunc- di sini dan saat ini. Sabda bukan hanya teks yang dibacakan, melainkan firman hidup yang menyentuh hati, menggerakkan pertobatan, dan membangkitkan harapan. Seperti dua murid Emaus yang hatinya berkobar ketika Kristus menjelaskan Kitab Suci dan mata imannya terbuka mengenal Yesus setelah pemecahan roti (Ekaristi), kemudian memilih jalan kembali ke Yerusalem, demikian pula umat dipanggil mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan melalui Sabda dan Ekaristi yang dirayakan, kemudian dihidupi dalam kesehariannya.

Dari sinilah tema besar kegiatan tersebut menemukan maknanya: “Dari Sabda dan Ekaristi Menuju Perutusan.” Sabda yang didengarkan dan Ekaristi yang dirayakan tidak membiarkan seseorang tinggal diam. Keduanya membentuk dan menggerakkan hati untuk kembali berjalan, melayani, dan mewartakan Kristus yang hidup di tengah dunia. Atmosfer kegiatan selama dua hari itu terasa hidup dan penuh energi positif. Seminar, sharing, praktik liturgi, hingga adorasi dijalani dengan antusiasme yang luar biasa. Tidak sedikit frater yang mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi semacam “recharge rohani” yang membangkitkan kembali api panggilan yang sempat meredup karena proses pembimbanaan yang panjang dengan dinamika hidup panggilan yang mengiringinya.
Dalam sesi berikutnya bersama Katarina Michelle Chen, para frater diajak mendalami tugas lektor sebagai pelayanan yang luhur dan sakral. Mengacu pada PUMR 29, ditegaskan bahwa ketika Kitab Suci dibacakan dalam Gereja, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus sendiri hadir mewartakan kabar gembira. Karena itu, seorang lektor tidak hanya “membaca teks,” tetapi menjadi alat perpanjangan “lidah” Tuhan. Seorang lektor dipanggil untuk mempersiapkan diri dengan baik: memahami isi bacaan secara menyeluruh, akrab dengan Kitab Suci, menguasai teknik membaca, memahami jenis bacaan, serta terus melatih kemampuan pewartaan Sabda.
Pembekalan ini menjadi semakin hidup ketika para frater mendapat kesempatan praktik langsung membaca perikop Kitab Suci. Melalui evaluasi dan pendampingan, mereka diajak menyadari pentingnya artikulasi yang jelas, penekanan yang tepat, tempo yang pas, ketenangan, dan penghayatan yang mendalam. Tujuannya sederhana namun mendasar: membantu umat mendengar suara Tuhan di tengah dunia yang semakin bising.

Seluruh rangkaian kegiatan di Jayapura dipuncaki dengan adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus. Dalam suasana hening, para frater kembali diajak merefleksikan jalan panggilan mereka. Banyak yang merasakan kembali alasan awal mengapa mereka menjawab panggilan Tuhan. Ada yang merasa diteguhkan, dipulihkan, bahkan disadarkan kembali bahwa menjadi pelayan altar berarti siap berjalan bersama Kristus, bukan hanya ketika semuanya baik-baik saja, tetapi juga terutama di tengah proses, perjuangan, dan salib kehidupan.
Perjalanan pelayanan kemudian dilanjutkan ke Agats, Papua Selatan, yang dibingkai tema seminar tentang “Ars Celebrandi dalam Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020” bagi para imam dan para suster yang berkarya di wilayah tersebut dan pembekalan lektor-lektris di Keuskupan Agats. Kegiatan yang dibuka oleh Mgr. Aloysius Murwito, OFM tersebut, disambut dengan antusiasme yang besar. Diskusi berjalan hangat dan penuh semangat pastoral, terutama dalam kerinduan bersama untuk membangun liturgi yang hidup, membumi, dan dekat dengan umat.
Dalam pendalaman bersama para imam dan biarawan-biarawati, refleksi diarahkan pada Surat Apostolik Paus Fransiskus Desiderio Desideravi (2022). Paus membuka surat itu dengan kalimat Yesus, “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama kamu.” Kerinduan Kristus inilah yang menjadi pintu masuk untuk memahami Ekaristi. Dengannya, Ekaristi bukan hanya menjadi rutinitas ritualistik, melainkan sebagai perjumpaan cinta dengan Tuhan yang menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia.
Liturgi, sebagaimana ditegaskan dalam Sacrosanctum Concilium 10, adalah “sumber dan puncak” hidup Gereja. Karena itu, pembaharuan liturgi tidak cukup berhenti pada tataran aturan dan rubrik. Yang terutama ialah ars celebrandi dan ars dicendi-seni merayakan dan seni mengucapkan yang lahir dari hati seorang murid yang mau mendengarkan Tuhan. Romano Guardini pernah menegaskan bahwa inti pembaharuan liturgi adalah kemampuan umat untuk sungguh terlibat dalam tindakan liturgis. Di situlah kekaguman pada Misteri Paskah menjadi penting. Ketika manusia belajar berhenti, hening, dan memberi ruang bagi Sabda serta simbol liturgi berbicara, hati pun perlahan berkobar kembali seperti yang dialami dua murid Emaus.

Dari dua tempat yang dikunjungi tim Komisi Liturgi KWI, tampak jelas kerinduan besar Gereja Papua untuk terus bertumbuh. Ada semangat untuk semakin memahami Ekaristi bukan hanya sebagai ritual perayaan, tetapi sebagai sumber kekuatan hidup sehari-hari. Ada kerinduan agar Sabda Tuhan dan Ekaristi sungguh menjadi napas pelayanan dan dasar kehidupan rohani umat.
Walau berlangsung hanya beberapa hari, perjalanan formasio ini meninggalkan kesan yang mendalam. Banyak peserta berharap pembinaan semacam ini dapat terus hadir dan menjangkau semakin banyak pelayan liturgi hingga ke akar rumput. Sebab Gereja yang hidup, lahir dari umat yang mencintai Sabda, menghidupi Ekaristi, dan melayani dengan hati. Animasi formasio liturgi di Tanah Papua ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju Yerusalem selalu dimulai dari Emaus: dari hati yang mungkin lelah, bingung, terpecah, dan penuh pertanyaan, tetapi perlahan dipulihkan ketika berjalan bersama Kristus. Ketika hati kembali menyala oleh pengalaman persekutuan dengan-Nya, perutusan pun dimulai.
Pada akhirnya, seluruh perjalanan formasio liturgi di Tanah Papua ini membawa kita kembali pada kerinduan terdalam Kristus sendiri: kerinduan untuk tinggal bersama umat-Nya. Di tengah perjalanan yang panjang, di tengah pelayanan, dinamika, kelelahan, dan pencarian, Tuhan terus berjalan bersama, membuka Sabda, memecah-mecahkan roti, lalu mengutus kembali hati yang telah dipulihkan.

Seruan Mane Nobiscum Domine-“Tinggallah bersama kami Tuhan” tidak hanya menjadi ungkapan doa para murid Emaus, tetapi hari ini dan dalam keberlanjutannya bersama Tuhan, seruan ini menjadi doa Gereja yang aktual di sepanjang zaman. Sebab tanpa kehadiran-Nya, liturgi hanya menjadi rutinitas; namun bersama-Nya, liturgi menjadi perjumpaan yang menghidupkan, menguatkan, dan mengubah hati.
Kerinduan itu dijawab lebih dahulu oleh Kristus sendiri dalam sabda-Nya, Desiderio desideravi hoc Pascha manducare vobiscum, antequam patiar- “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama kamu” (Luk. 22:15). Ekaristi lahir dari kerinduan Tuhan untuk tinggal dekat dengan manusia. Maka setiap perayaan liturgi sesungguhnya adalah perjumpaan antara kerinduan Allah dan kerinduan umat-Nya. Dari perjumpaan itulah hati kembali berkobar, panggilan diteguhkan, dan Gereja terus diutus membawa terang Kristus sampai ke ujung dunia.
Mane Nobiscum Domine.*
*Michelle Chen- Anggota Pengurus Komlit KWI
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.
