Hari Biasa, Pekan Biasa XXII
Pf Sta. Teresa dari Kalkuta, Biarawati
St. Laurensius Glustiniani
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: Kolose 1:15-20
Segala sesuatu diciptakan dengan perantaraan-Nya dan untuk Dia.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose:
Saudara-saudara, Allah yang tidak kelihatan. Kristuslah gambar-Nya. Dialah yang pertama dari segala ciptaan. Sebab dalam Kristuslah telah diciptakan segala sesuatu, yang di surga maupun di bumi, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa. Segala sesuatu diciptakan dengan perantaraan-Nya dan untuk Dia. Dia ada mendahului segala sesuatu dan segala sesuatu ada dalam Dia. Kristuslah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam dalam Kristus, dan dengan perantaraan Kristus Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri Nya. Baik yang ada di bumi, maupun yang adadi surga, segalanya didamaikan oleh darah Kristus yang tersalib.
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 100:2-5; R:2c
Datanglah ke hadapan Tuhan dengan sorak sorai.
- Beribadatlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!
- Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
- Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, masuklah ke pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!
- Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
Bait Pengantar Injil: Yoh. 8:12
Aku ini cahaya dunia, sabda Tuhan. Yang mengikuti Aku, hidup dalam cahaya.
Bacaan Injil: Lukas 5:33-39
Apabila mempelai diambil, barulah sahabat-sahabat memepelai akan berpuasa.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berkata kepada Yesus, ”Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, ”Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Namun, akan datang harinya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, ”Tidak seorang pun mengoyak secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu akan koyak dan pada yang tua itu pun tidak akan cocok kain penambal yang dikoyak dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang lama, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyak kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Namun, anggur yang baru harus dituang ke dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu lebih baik.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Konflik Yesus dengan orang Farisi dan ahli kitab tentang murid-murid-Nya yang tidak berpuasa bermuara pada pesan pembaruan mentalitas dan perilaku hidup rohani yang diungkapkan Yesus dalam frase ”… anggur baru harus disimpan dalam kantong yang baru”. Hidup beriman adalah sebuah relasi kasih yang dinamis. Maka, ungkapannya pun dinamis. Semakin kita dekat dan intim dengan Allah, semakin mendalam pula ungkapan kedekatan kita dengan-Nya. Ungkapan itu tidak hanya tampak dalam kata-kata doa yang kita panjatkan, pengajaran indah dan menarik, kebiasaan ibadat yang luar biasa, tetapi juga harus tampak dalam perkataan, cara berpikir, kemampuan emosional, dan perilaku. Ungkapan atau praktik hidup beriman tanpa relasi adalah sebuah formalitas kosong yang tidak akan menumbuhkan relasi dengan Allah.
Hidup beriman kita juga demikian. Membangun relasi iman dengan Allah lebih daripada mengajarkan hal-hal praktis hidup orang beriman. Pengalaman iman akan Allah adalah dasar dari hidup beriman. Jika setiap tindakan iman kita didasarkan pada kesadaran dan pengalaman akan Allah ini maka setiap tindakan iman itu akan memupuk dan memperdalam relasi kita dengan Allah.
Ya Bapa, semoga kami boleh mengalami kehadiran dan kasih-Mu melalui peristiwa hidup kami sehari- hari dan semoga setiap ungkapan iman kami yang didasarkan pada pengalaman kasih itu semakin mempererat relasi kami dengan-Mu, amin.

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

