Hari Biasa, Pekan Biasa XXII
Sta. Thomas Tzugi
B. Bonaventura dari Forli
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: Kolose 1:21-23
Allah telah mendamaikan kalian, agar kalian ditempatkan di hadapan-Nya dalam keadaan kudus dan tak bercela.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose:
Saudara-saudara, kalian dahulu hidup jauh dari Allah, dan memusuhi Dia dalam hati dan pikiran seperti terbukti dalam perbuatanmu yang jahat. Oleh wafat Kristus sekarang kalian didamaikan Allah dalam tubuh jasmani Kristus agar kalian ditempatkan di hadapan-Nya dalam keadaan kudus, tak bercela dan tak bercacat. Sebab itu kalian harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak goncang. Janganlah kalian mau dijauhkan dari pengharapan Injil yang telah kalian dengar dan telah dikabarkan di seluruh alam dibawah langit; dan aku, Paulus, telah menjadi pelayannya.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 54:3-4.6.8; R:6a
Allahlah penolongku.
- Ya Allah, selamatkanlah aku karenanama-Mu, berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan-Mu! Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!
- Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku. Dengan rela hati aku akan mempersembahkan kurban kepada-Mu. Aku akan bersyukur sebab baiklah nama-Mu, ya Tuhan.
Bait Pengantar Injil: Yoh. 14:6
Akulah jalan, kebenaran dan sumber kehidupan sabda Tuhan. Hanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa.
Bacaan Injil: Lukas 6:1-8
Mengapa Kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan melewati ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Beberapa orang Farisi berkata, ”Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Yesus menjawab mereka, ”Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan orang-orang yang menyertainya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada yang menyertainya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam saja?” Kata Yesus lagi kepada mereka, ”Anak Manusia adalah Tuan atas hari Sabat.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Perbedaan penafsiran antara Yesus dengan orang Farisi mengenai hari Sabat berawal dari tindakan para murid yang memetik gandum, menggosok, dan memakannya. Orang Farisi melihat apa yang dilakukan para murid Yesus sebagai pelanggaran atas hari Sabat yang mereka pahami dan hayati. Semangat hari Sabat adalah ”jangan melakukan suatu pekerjaan” (Kel. 20:9).Yesus memberikan empat jawaban penting. Pertama, sama seperti dialami Daud, pelanggaran hari Sabat untuk kebutuhan fisik. Kedua, imam bekerja pada hari Sabat. Ketiga, Allah lebih memilih kasih setia daripada kurban. Keempat, Yesus, sebagai Anak Manusia mempunyai kewenangan khusus atas hari Sabat.
Namun, di atas argumentasi ini, ada suatu mentalitas: mengukur nilai, pertimbangan dan situasi orang lain dengan nilai, pertimbangan dan situasi sendiri. Menerapkan penghayatan agama pribadi ke penghayatan orang lain inilah yang menjadi kecenderungan tidak sehat dalam hidup beriman. Memang selalu ada standar, tetapi standar itu juga diikuti berdasarkan kemampuan dan situasi orang yang bersangkutan. Inilah yang disebut dengan memaksakan penghayatan agama pribadi kepada orang lain.
Hal serupa kadang kita lakukan secara tidak sengaja kepada saudara-saudara kita yang tidak bisa mengambil bagian dalam kegiatan lingkungan, Misa atau kegiatan gereja lainnya. Dengan segera kita mengatakan bahwa ”dia kurang beriman”, tanpa kita tahu situasi dan kondisi yang sesungguhnya. Alangkah baiknya kita mendekati, mendengarkan, dan membantunya untuk bertumbuh dalam pengetahuan, pemahaman, dan praktik iman. Proses ini tentunya tidak sekali jadi, tetapi terkadang membutuhkan waktu yang lebih panjang. Yang paling utama adalah menjadi sahabat perjalanan mereka dalam iman.
Ya Bapa, semoga kami tidak mengukur penghayatan iman orang lain dengan penghayatan iman kami
sendiri. Ajarilah kami untuk dapat menjadi teman seperjalanan sesama kami dalam iman, amin.

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.




