Bacaan, Bacaan Kitab Suci, bait allah, Firman Tuhan, iman, Kitab Suci, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Yesus Juruselamat, penyejuk iman, Ziarah Batin 2025, OBOR, Obormedia, Toko Rohani OBOR, Pewarta Iman, Katekese, Katolik, Iman Katolik, Paus Fransiskus, ensiklik Laudato Si, renungan harian, Bacaan, Mazmur Tanggapan, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, pewartaan, Umat Katolik, Hari Minggu Biasa XXV, Penyejuk Hati, sabda Allah, Oase Katolik, Renungan Pagi, Sabda Tuhan, Mirifica News, Renungan MIrifica, Renungan Komsos KWI, Renungan Mirifica, Bacaan, Mazmur Tanggapan, dan Renungan Harian Katolik Minggu 21 September 2025, Paus Leo IV
Ilustrasi

Hari Minggu, Pekan Biasa XXX
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Amos 8:4-7

Peringatan terhadap orang yang membeli orang papa karena uang.

Bacaan dari Nubuat Amos:

Dengarkanlah ini, hai kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini, dan yang berpikir, Kapan pesta bulan-baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum; kapan hari Sabat berlalu, supaya kita boleh berdagang terigu; kita akan memperkecil takaran, menaikkan harga dan menipu dengan neraca palsu; kita akan membeli orang papa karena uang, dan membeli orang miskin karena sepasang kasut; kita akan menjual terigu tua.’ Beginilah Tuhan telah bersumpah demi kebanggaan Yakub, “Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 113:1-2.4-6.7-8; R:1a.7b

Pujilah Tuhan, yang mengangkat orang miskin.

  • Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
  • Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti Tuhan, Allah kita, yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?
  • Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, bersama dengan para bangsawan bangsanya.

Bacaan II: 1 Timotius 2:1-8

Panjatkanlah permohonan untuk semua orang. Itulah yang berkenan kepada Allah, yang menghendaki agar semua orang diselamatkan.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius:

Saudaraku yang terkasih, pertama-tama aku menasihatkan: Panjatkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur kepada Allah bagi semua orang, bagi pemerintah dan penguasa, agar kita dapat hidup aman dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan berkenan kepada Allah, Penyelamat kita. Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara Allah dan manusia, yaitu Manusia Kristus Yesus. Ia telah menyerahkan diri sebagai tebusan bagi semua orang: Suatu kesaksian pada waktu yang tepat. Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pewarta dan rasul. Yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta! Aku ditetapkan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran. Oleh karena itu aku ingin, agar di mana pun kaum laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa kemarahan dan perselisihan.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil: 2 Korintus 8:9

Yesus Kristus menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya.

Bacaan Injil: Lukas 16:1-13

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara.
Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu si kaya itu memanggil bendahara itu dan berkata, ‘Apakah yang telah kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.’

Berkatalah bendahara itu di dalam hatinya, ‘Apakah yang harus kuperbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan kuperbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu bendahara itu memanggil satu demi satu orang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama, ‘Berapakah hutangmu kepada tuanku?’ Jawab orang itu, ‘Seratus tempayan minyak.’ Lalu kata bendahara itu kepadanya, ‘Inilah surat hutangmu! Duduklah dan buatlah surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.’ Kemudian ia berkata kepada yang kedua, ‘Dan Saudara, berapakah hutangmu?’ Jawab orang itu, ‘Seratus pikul gandum.’ Katanya kepada orang ini, ‘Inilah surat hutangmu! Buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.’ Bendahara yang tidak jujur itu dipuji oleh tuannya, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Maka Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan harta sejati kepadamu? Dan jika kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain; atau ia akan setia kepada yang seorang, dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

Dalam Kitab Amos dikisahkan betapa serakah dan curang orang-orang kaya yang dengan keji menginjak-injak orang miskin. Mereka adalah gambaran orang yang mengabdi kepada nafsu mereka sendiri, kepada kekayaan dan kesenangan mereka. Mereka adalah gambaran orang yang mengabdi Mamon. Seperti yang dikatakan Yesus, mengabdi Allah dan setia pada hukum-Nya jelas sangat sulit. Karena itu, tidak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Namun, bukan berarti tidak ada kesempatan untuk bertobat dan beralih. Kisah bendahara yang jujur menunjukkan kesempatan dan kemungkinan itu. Ia yang sebelumnya curang menyadari kebutuhan untuk bertahan hidup yang kemudian mendorong dia untuk meninggalkan kecurangan, bahkan rela rugi supaya selamat.

Kisah dalam Injil ini mungkin terasa sangat dekat dengan kita; bahkan mungkin pernah kita alami atau lakukan. Pertobatan dilakukan ketika kita berada dalam situasi terdesak. Demi menyelamatkan diri, kita rela berbalik arah; bahkan rela berkorban. Namun, apa apun motivasi dan situasi yang melatarbelakangi pertobatan seseorang, Yesus menegaskan bahwa selalu ada kesempatan untuk bertobat. Ia juga mengajak kita untuk setia mengabdi kepada-Nya, mulai dari perkara-perkara kecil. Perkara kecil itu dapat kita temukan dalam hidup harian keluarga, dalam sikap kita kepada pasangan, anak, maupun orang tua, dalam cara kita bekerja, dalam keberanian kita untuk jujur dan adil, dalam sikap bertanggung jawab terhadap pekerjaan, dan dalam gairah kita untuk memberikan yang terbaik. Apakah kita juga berani “rela rugi supaya selamat”?

Tentu tidak mudah bagi kita memahami bagaimana bendahara yang tidak jujur itu justru mendapat pujian. Pujian itu tentunya tidak terkait dengan ketidakjujurannya, tetapi pada bagaimana dia memberikan diskon atas utang yang harus dibayar. Dia memberikan diskon yang luar biasa besar dan meringankan bagi mereka yang berutang pada tuannya. Dengan cara demikian, ia juga tidak merugikan dan mengambil uang tuannya, tetapi mengambalikan modal tuannya. Untuk memahaminya kita perlu juga membaca dari Kitab Ulangan 23:19–20.

 Kecerdikan bendahara ini menjadi contoh bagi Yesus untuk menyampaikan bagaimana kita menggunakan Mamon untuk persahabatan dan kebaikan. Ini bukan berbicara dan membenarkan gratifikasi, apalagi korupsi. Ini seperti pepatah Jawa yang mengatakan “lebih baik untung sedikit daripada kehilangan persaudaraan”: memotong keuntungan pribadi dan memberikan bonus kepada orang dapat menjadi sarana membangun persaudaraan yang mengatasi bisnis. Kebaikan kita pun akan diingat oleh mereka, dan pada suatu saat, ketika kita membutuhkan, mereka pun akan menolong kita. Apakah kita tidak termasuk bendahara yang tidak jujur?

Ya Bapa, mampukanlah kami untuk selalu bertindak benar dan baik dengan harta dan kekayaan yang kami miliki demi membantu orang lain dan membangun persaudaraan yang baik sesuai kehendak-Mu, amin.

HUT Tahbisan Uskup Mgr. Dominikus Saku (Uskup Sufragan Atambua)

21 Agustus 2025, Bacaan, bacaan kitab suci hari ini, Injil hari ini, katekese, katolik, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, penyejuk iman, refleksi harian, Renungan hari minggu, renungan harian, renungan harian katolik, sabda tuhan, ziarah batin, Renungan Agustus

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR