Bacaan, Bacaan Kitab Suci, bait allah, Firman Tuhan, iman, Kitab Suci, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Yesus Juruselamat, penyejuk iman, Ziarah Batin 2025, OBOR, Obormedia, Toko Rohani OBOR, Pewarta Iman, Katekese, Katolik, Iman Katolik, Paus Fransiskus, ensiklik Laudato Si, renungan harian, Bacaan, Mazmur Tanggapan, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, pewartaan, Umat Katolik, Hari Minggu Biasa XXV, Penyejuk Hati, sabda Allah, Oase Katolik, Renungan Pagi, Sabda Tuhan, Mirifica News, Renungan MIrifica, Renungan Komsos KWI, Renungan Mirifica, Bacaan, Mazmur Tanggapan, dan Renungan Harian Katolik Senin 22 September 2025, Paus Leo IV
Ilustrasi

Hari Senin, Pekan Biasa XXV
St. Thomas dari Vilkanova
St. Mauritius, dkk; St. Ignatius dari Santhi – Imam, Biarawan
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Ezra 1:1-6

Barangsiapa termasuk umat Allah, hendaklah ia pulang ke Yerusalem dan mendirikan rumah Allah.

Bacaan dari Kitab Ezra:

Pada tahun pertama pemerintahan Koresh, raja negeri Persia, Tuhan menggerakkan hati Koresh, untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia. Maka di seluruh kerajaan diumumkan secara lisan maupun tulisan demikian, “Beginilah perintah Koresh, raja Persia: ‘Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Barangsiapa di antara kalian yang termasuk umat Allah, Semoga Allah menyertai dia! Hendaklah ia berangkat pulang ke Yerusalem yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah Tuhan. Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem. Dan setiap orang yang masih hidup, di mana pun ia berada sebagai pendatang, harus disokong oleh penduduk setempat dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, di samping persembahan sukarela bagi rumah Allah yang ada di Yerusalem’.”

Maka berkemas-kemaslah kepala-kepala keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta imam dan orang orang Lewi, pendek kata setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah Allah yang ada di Yerusalem. Dan semua orang di sekeliling mereka membantu mereka dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, dan dengan pemberian yang indah-indah, selain segala sesuatu yang dipersembahkan dengan sukarela.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6; R:3a

Sungguh agung karya Tuhan bagi kita.

  • Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa ria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
  • Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
  • Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
  • Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Bait Pengantar Injil: Mat. 5:16

Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapamu yang di surga.

Bacaan Injil: Lukas 8:16-18

Pelita ditempatkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk dapat melihat cahayanya

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur; tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tiada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tiada suatu rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu perhatikanlah cara kalian mendengar. Karena barangsiapa sudah punya akan diberi, tetapi barangsiapa tidak punya, apa pun yang dianggap ada padanya akan diambil.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

”Tidak ada orang yang menyalakan pelita, lalu menutupinya dengan tempayan atau meletakkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya orang yang masuk, dapat melihat cahayanya.” Pernyataan Yesus yang sederhana dan diambil dari hidup harian ini kaya makna. Jika pelita adalah kebenaran hidup Kristiani maka Yesus menekankan kepada pengikut-Nya untuk tidak menyembunyikan diri, tetapi hiduplah sesuai dengan identitas. Sikap menutupi dan menyembunyikan diri dilakukan jika seseorang melakukan keburukan ataupun dosa. Namun, jika yang dilakukan adalah kebaikan dan kebenaran, tidak perlu ditutupi, entah karena malu atau karena takut.

Menjadi dan hidup sebagai orang Kristen adalah sebuah kebaikan. Tidak ada yang memalukan. Membuat tanda salib, berdoa rosario, membaca Alkitab, memakai salib adalah cara-cara hidup Kristen. Sebagai orang Kristen, kita seharusnya bersyukur dan bangga. Kita bangga karena kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa kita. Kita bangga akan Yesus, Guru kita yang luar biasa dalam keutamaan hidup. Kita bangga bagaimana Allah dan karya-Nya begitu nyata dalam sejarah sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Kita bangga karena Gereja senantiasa bertumbuh dan berkembang serta menjadi berkat bagi kemanusiaan pada zamannya. Hidup Kristen tanpa kesaksian bukanlah kehidupan Kristiani. Karena kesaksian yang paling dasar adalah menjadi Kristen itu sendiri.

Ya Bapa, bantulah kami agar kami mampu memberikan kesaksian sebagai pengikut Putra-Mu melalui tutur kata, perbuatan, dan perilaku kami dalam hidup sehari-hari, amin.

21 Agustus 2025, Bacaan, bacaan kitab suci hari ini, Injil hari ini, katekese, katolik, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, penyejuk iman, refleksi harian, Renungan hari minggu, renungan harian, renungan harian katolik, sabda tuhan, ziarah batin, Renungan Agustus

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR