Bacaan, Bacaan Kitab Suci, bait allah, Firman Tuhan, iman, Kitab Suci, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Yesus Juruselamat, penyejuk iman, Ziarah Batin 2025, OBOR, Obormedia, Toko Rohani OBOR, Pewarta Iman, Katekese, Katolik, Iman Katolik, Paus Fransiskus, ensiklik Laudato Si, renungan harian, Bacaan, Mazmur Tanggapan, Perjanjian Baru, Perjanjian Lama, pewartaan, Umat Katolik, Hari Minggu Biasa XXXI, Penyejuk Hati, sabda Allah, Oase Katolik, Renungan Pagi, Sabda Tuhan, Mirifica News, Renungan MIrifica, Renungan Komsos KWI, Renungan Mirifica, Bacaan Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik Minggu 10 November 2025, Paus Leo IV
Ilustrasi

Hari Biasa,Pekan Biasa XX
PW S.Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja
Warna Liturgi: Putih

Bacaan I: Hak 9:6-15

Kalian berkata, “Seorang raja akan memerintah kami,” padahal Tuhanlah rajamu.

Bacaan dari Kitab Hakim-Hakim.

Sekali peristiwa berkumpullah seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet-Milo. Mereka menobatkan Abimelekh menjadi raja di dekat pohon tarbantin di dekat tugu peringatan yang ada di Sikhem. Hal itu dikabarkan kepada Yotam. Maka pergilah ia ke gunung Gerizim dan berdiri di atasnya. Lalu berserulah ia dengan suara nyaring kepada mereka, “Dengarkanlah aku, kalian warga kota Sikhem, maka Allah akan mendengarkan kalian juga. Sekali peristiwa pohon-pohon pergi hendak mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun, ‘Jadilah raja atas kami!’ Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka, ‘Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon?’ Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara, ‘Mari, jadilah raja atas kami!’ Tetapi jawab pohon ara itu, ‘Masakan aku meninggalkan manisanku dan buahku yang baik, dan pergi melayang di atas pohon-pohon?’ Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon anggur, ‘Mari, jadilah raja atas kami!’ Tetapi jawab pohon anggur, ‘Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon?’ Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri, ‘Mari, jadilah raja atas kami!’ Jawab semak duri itu, ‘Jika kalian sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kalian, datanglah berlindung di bawah naunganku. Tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri, dan memakan habis pohon-pohon aras di gunung Libanon.’

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-3.4-5.6-7

Ya Tuhan, karena kuasa-Mulah raja bersukacita.

  • Tuhan, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa girang hatinya karena kemenangan yang Kauberikan! Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak.
  • Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya. Hidup dimintanya dari pada-Mu dan Engkau memberikannya: Umur panjang untuk selama-lamanya.
  • Besarlah kemuliaannya karena kemenangan yang Kauberikan; keagungan dan semarak Kaukaruniakan kepadanya. Engkau membuat dia menjadi berkat abadi, Engkau memenuhi dia dengan sukacita di hadapan-Mu.

Bait Pengantar Injil: Ibr 4:12

Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji pikiran dan segala maksud hati. Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Bacaan Injil: Mat 20:1-16a

Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula, dan dilihatnya ada orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka, “Pergi jugalah kalian ke kebun anggurku, dan aku akan memberimu apa yang pantas.” Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia keluar pula, dan berbuat seperti tadi. Kira-kira pukul lima sore ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula; lalu katanya kepada mereka, ‘Mengapa kalian menganggur saja di sini sepanjang hari?’ Jawab mereka, “Tidak ada orang yang mengupah kami. Kata orang itu, ‘Pergilah kalian juga ke kebun anggurku.’ Ketika hari sudah malam berkatalah tuan itu kepada mandornya, ‘Panggillah sekalian pekerja dan bayarlah upahnya, mulai dari yang masuk terakhir sampai kepada yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima sore, dan mereka masing-masing menerima satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu. Mereka mengira akan mendapat lebih besar. Tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya, ‘Mereka yang masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam, dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab salah seorang dari mereka, ‘Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?’ Demikianlah yang terakhir menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu menjadi yang terakhir.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Pada zaman Yesus, orang-orang upahan harus menunggu setiap hari di pasar sampai ada orang yang mempekerjakan mereka. Jika tidak ada pekerjaan pada hari itu berarti tidak ada makanan di meja keluarga. Dalam perumpamaan Yesus ini, para pekerja yang bekerja sepanjang hari mengeluh karena majikan membayar pekerja yang datang sore hari dengan upah yang sama dengan mereka yang bekerja sepanjang hari. Namun, sang majikan berpikir, ini bukan hanya soal keadilan, melainkan juga soal kemurahan hati. Ia memberikan upah yang sama untuk mereka yang bekerja pada sore hari supaya keluarga mereka dapat makan dan bertahan Hidup.


Tuhan akan selalu bermurah hati kepada orang yang rajin dan selalu setia bekerja. Setiap orang akan diberikan rezeki seturut kehendak-Nya. Iri hati terhadap penghasilan orang lain hanya akan semakin memperburuk kehidupan batin seseorang. Alih-alih iri hati, hendaknya kita mesti bersyukur atas penghasilan yang diterima karena Allah masih memberi kita kesempatan untuk menikmati makanan dan minuman. Manusia tidak dapat mengatur keberuntungan dalam hidup. Ini adalah hak prerogatif Tuhan. Apakah kita melakukan pekerjaan dan tanggung jawab kita dengan sukacita dan ketekunan demi Tuhan? Apakah kita memberi dengan murah hati kepada orang lain, terutama kepada mereka yang membutuhkan perhatian dan dukungan kita?

Tuhan, semoga kami mampu melayani Engkau dan sesama dengan murah hati dan penuh sukacita, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2025. Penerbit OBOR (https://obormedia.com/product/ziarah-batin-2025/)