Hari Selasa, Pekan Biasa XXXIII
Sta Romanus dari Antiokia
Sta. Philippine Duchesne
B. Grimoaldo Santamaria
B. Salomea – Perawan
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: 2 Makabe 6:18-31
Aku meninggalkan teladan baik, bila aku dengan sukarela mati demi hukum Taurat yang mulia dan suci.
Bacaan dari Kitab Kedua Makabe:
Ada seorang ahli Taurat yang terkemuka, bernama Eleazar. Ia sudah lanjut usia dan sangat terhormat. Ia dipaksa membuka mulutnya untuk makan daging babi. Tetapi ia lebih mengutamakan mati secara terhormat daripada hidup ternista. Maka ia memuntahkan daging yang haram itu dan dengan rela hati menuju ke tempat deraan. Memang demikianlah seharusnya tindakan orang yang berani menolak apa yang tidak halal untuk dikecap kendati secara naluriah ia mencintai hidupya.
Tetapi para pengurus perjamuan kurban yang tak halal itu telah lama kenal baik dengan Eleazar. Karena itu mereka menyendirikan Eleazar, lalu menyuruh dia mengambil daging yang boleh dipakai dan yang dapat ia sediakan sendiri. Lalu dari daging itu cukuplah kalau ia pura-pura makan apa yang dititahkan raja. Dengan demikian nyawanya akan diselamatkan, dan ia akan diperlakukan baik demi persahabatan yang lama. Tetapi Eleazar mengambil keputusan mulia yang pantas bagi umurnya, bagi kehormatan usianya, bagi ubannya yang jernih dan amat mulia, pantas bagi cara hidupnya yang jernih sejak masa mudanya, dan terlebih pantas bagi perundang-undangan suci yang diberikan oleh Allah sendiri. Dengan tegas ia minta, supaya segera dikirim ke dunia orang mati saja. Kata Eleazar, “Berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami,
jangan-jangan banyak pemuda kusesatkan oleh karena mereka menyangka bahwa Eleazar yang sudah berumur sembilan puluh tahun beralih kepada tata cara asing. Boleh jadi mereka kusesatkan dengan berpura-pura demi hidup yang pendek dan fana ini. Selain itu kuturunkan noda dan aib kepada usiaku. Kalaupun sekarang aku lolos dari dendam pihak manusia, tetapi tidak mungkin aku melarikan diri dari tangan Yang Mahakuasa, baik hidup maupun mati. Dari sebab itu dengan berpulang sebagai jantan aku mau menyatakan diri layak bagi usiaku. Dengan demikian akupun meninggalkan teladan luhur bagi kaum muda untuk dengan sukarela mati bagi hukum Taurat yang mulia dan suci itu.”
Setelah berkata demikian, Eleazar langsung menuju tempat siksaan. Adapun orang-orang yang beberapa saat sebelumnya bersikap baik terhadapnya, sekarang memusuhi dia krena menurut mereka Eleazar tadi berbicara seperti orang gila. Sesudah didera sampai hampir mati, Eleazar mengaduh, katanya, “Bagi Tuhan yang memiliki pengetahuan kudus, ternyatalah bahwa aku dapat meluputkan diri dari maut dan bahwa aku sekarang menanggung derita hebat dalam tubuhku akibat deraan ini. Tetapi dalam jiwa aku menderita semuanya itu dengan suka hati karena aku takut akan Tuhan.”
Demikian Eleazar berpulang dan meninggalkan kematiannya sebagai teladan keluhuran budi dan sebagai peringatan kebajikan, tidak hanya bagi kaum muda, tetapi juga bagi kebanyakan orang dari bangsanya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 3:2-3.4-5.6-7; R:6b
Tuhanlah yang menopang aku.
- Ya Tuhan, betapa banyaknya lawanku! Betapa banyak orang yang bangkit menyerang aku; banyak orang berkata tentang aku, “Baginya tidak ada pertolongan dari Allah.”
- Tetapi, Tuhan, Engkaulah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku, Engkaulah yang mengangkat kepalaku! Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.
- Maka aku dapat membaringkan diri, dan tertidur; dan kemudian bangun lagi sebab Tuhan menopangku! Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang mengepung aku dari segala penjuru.
Bait Pengantar Injil: 1 Yohanes 4:10b
Allah mengasihi kita dan telah mengutus Anak-Nya sebagai silih atas dosa-dosa kita.
Bacaan Injil: Lukas 19:1-10
Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Yesus masuk dan melintasi Kota Yerikho. Di situ ada seseorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia orang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat siapakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil oleh karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Zakheus pun segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, ”Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Namun, Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, ”Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya, ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab, Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Ketika pandemi Covid-19 beberapa tahun yang lalu melanda dunia, kita terhenyak dan kaget karena begitu banyak keluarga dan sahabat yang tiba-tiba meninggal dunia. Mereka kembali ke dunia keabadian. Di sanalah keluarga para kudus Allah berjumpa. Dunia berduka. Dalam kedukaan itu, lahir solidaritas yang melintasi batas. Kita bergotong royong membantu saudara-saudari kita yang terpapar virus yang mematikan ini. Jika ada umat di lingkungan atau warga di RT yang terkena virus ini, umat/warga yang lain bergantian menyediakan makanan untuk mereka.
Dalam Injil hari ini, Yesus juga menunjukkan kasih-Nya yang menembus lintas batas. Betapa tidak, Ia makan bersama dengan Zakheus yang oleh sebagian orang dianggap sebagai pendosa. Yesus mengasihi semua orang, baik yang Yahudi maupun yang non-Yahudi, orang berdosa maupun orang suci. Sebagai pengikut Kristus, kita pun diajak untuk menghidupi kasih yang melampaui batas. Hal itu dapat dilakukan dengan mengasihi orang yang menyakiti kita, memaafkan orang yang bersalah, memberikan pertolongan kepada siapa pun yang membutuhkan, tanpa memandang agama, suku, dan kedudukan sosial. Menjadi sahabat bagi mereka yang dikucilkan. Kita hidup dalam masyarakat yang beraneka ragam, baik dari segi agama, suku, budaya, maupun etnis. Karena itu, sudah sepantasnya kasih lintas batas, sebagaimana Yesus mengasihi Zakheus, kita kembangkan dalam hidup kita, di mana pun kita berada. Maukah kita menjadi saudara bagi sesama?
Ya Yesus, semoga kami semakin berani dan mampu menunjukkan belas kasih dan kerahiman-Mu kepada dunia sekitar kami, amin.

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

