Hari Selasa, Pekan Adven II
St. Fransiskus Antonius
St. Petrus Fourier
B. Bernardus Maria Silvestrelli
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan I: Yesaya 40:1-11
Allah menghibur umat-Nya.
Bacaan dari Kitab Yesaya:
Beginilah firman Tuhan, “Hiburlah, hiburlah umat-Ku! Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan dua kali lipat karena segala dosanya.”
Ada suara yang berseru, “Siapkanlah di padang gurun jalan bagi Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, setiap gunung dan bukit harus diratakan. Tanah yang berbukit-bukit harus menjadi rata, dan yang berlekak-lekuk menjadi datar. Maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama! Sungguh, Tuhan sendiri telah mengatakannya.”
Terdengar suatu suara, “Berserulah!” Jawabku, “Apakah yang harus kuserukan?” “Serukanlah: Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila Tuhan menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”
Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu Tuhan Allah! Ia datang dengan kekuatan, dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya. Anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 96:1-2.3.10ac.11-12.13; R:Yes 40:10ab
Lihat, Tuhan datang dengan kekuatan!
- Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan yang datang dari pada-Nya.
- Sebab mahabesarlah Tuhan, dan sangat terpuji, Ia lebih dahsyat daripada segala dewata. Katakanlah di antara bangsa-bangsa: “Tuhan itu Raja! Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.”
- Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai, biar gemuruhlah laut serta segala isinya! Biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya, dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.
- Bersukacitalah di hadapan Tuhan, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.
Bacaan Injil: Mat 18:12-14
Bapamu tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan, lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu, Sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besarlah kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Injil hari ini mengingatkan kita tentang kepedulian dan kasih Allah terhadap setiap pribadi, sekaligus mengenai pentingnya komunitas dan rekonsiliasi. Perumpamaan tentang domba yang hilang adalah gambaran indah tentang bagaimana Allah tidak pernah membiarkan seorang pun dari kita tersesat. Seperti seorang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor dombanya di pegunungan untuk mencari satu ekor yang tersesat, demikian pula Bapa di surga tidak pernah menyerah mencari dan menyelamatkan kita ketika kita tersesat. Ini adalah bukti kasih Allah yang tidak pernah berakhir dan kesabaran-Nya yang tak terbatas.
Yesus mengajarkan bahwa Allah peduli kepada pendosa. Kepada mereka yang tersesat Ia tidak terburu-buru menjatuhkan hukuman. Sebaliknya, Allah berinisiatif mencari dan membawa mereka pulang. Bukan berarti Dia memaklumi dosa, melainkan Allah merindukan umat-Nya bertobat dan kembali kepada-Nya.
Sebagai penerima anugerah pengampunan dari Allah, kita seharusnya menyatakan kasih kepada sesama. Alih-alih menolak dan menjauhi, kita harus menegur, menasihati, dan membimbing sesama kita yang jalannya telah keliru agar mereka kembali kepada Tuhan. Kita diundang untuk menjadi komunitas umat Allah yang saling menerima kerapuhan, sekaligus bisa saling menuntun.
Tuhan, tambahkanlah iman kami dan sadarkanlah kami bahwa dosa sebesar apa pun tidak akan mengalahkan besarnya rahmat dan pengampunan-Mu bagi kami, amin.

Sumber: Renungan Ziarah Batin Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

