JAKARTA – Dalam SAGKI 2025 yang mengusung tema “Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan” juga disoroti semangat Gereja Katolik untuk menjadi komunitas pengharapan yang saling mendengarkan, saling meneguhkan, dan berani mewujudkan perdamaian, termasuk dalam isu lingkungan.

Persoalan lingkungan hidup terus mengemuka akhir-akhir ini dengan semakin maraknya perubahan iklim, deforestasi, bencana klimatologis dan sebagainya. Seolah manusia lupa bahwa ia diciptakan sebagai pengelola alam ciptaan Tuhan yang harus mengusahakan dan merawat lingkungan, bukan malah menghancurkannya. Paus Fransiskus sudah menyerukannya dalam ensikliknya yang terkenal Laudato Si.

“Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita berpikir bahwa kita adalah tuan dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya. Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, di dalam air, di udara dan pada semua bentuk kehidupan,” (LS, 2).

Pertobatan ekologis dengan mengubah paradigma

Pada hari ketiga SAGKI 2025 yang bertajuk”Gereja yang Berjalan Bersama,” dihadirkan seorang pegiat lingkungan hidup, Wilma Chrisyanti. Perempuan tangguh ini adalah salah satu penggagas Kota Tanpa Sampah di Bintaro, Tangerang Selatan sekaligus co-founder LabTanya, sebuah laboratorium warga yang mengembangkan berbagai metode penelitian kolektif, eksperimen, dan partisipasi untuk transformasi sosial.

Meneladan St. Fransiskus Asisi yang telah menunjukkan kepedulian khusus terhadap ciptaan Allah dan kaum miskin serta mereka yang tersisihkan, pegiat urbanis ini mengajak komunitas warga untuk aktif mengembangkan pengetahuan serta praktik hidup yang berkesadaran ekologis dan minim sampah. Dengan berfokus pada soal sampah dan lingkungan ia mendorong warga untuk mengurangi produksi sampah dan mengajak mereka untuk meningkatkan ketahanan pangan, khususnya bagi warga urban.

Wilma menyadari persoalan sampah ini sungguh nyata dan tampak di mana-mana. Sampah terjadi karena proses produksi dan konsumsi, dari hulu hingga hilir. Maka, perlu menyadarkan warga untuk mengubah pola pikir dan cara pandangnya. Mereka disadarkan dan diajak untuk mengurangi timbunan sampah dengan benar-benar berusaha meniadakan tempat sampah di ruang publiknya. Tempat umum bukan seharusnya menjadi tempat buang sampah yang berasal dari konsumsi pribadi. Pada akhirnya, diharapkan warga menjadi sadar bahwa pengelolaan sampah kota tidak akan berhasil tanpa perubahan gaya konsumsi hari ini yang diikuti dengan perubahan pola pikir.

Strategi tiga pintu lima langkah

Persoalan sampah yang sudah menahun ini tidak cukup diselesaikan di hilir atau pascakonsumsinya saja. Perlu upaya untuk memahami masalahnya serta meresponnya di sepanjang hulu-hilir produksi dan konsumsi.

Strategi tiga pintu ini terbagi dalam pintu depan, tengah dan belakang. Dalam tata kelola limbah domestik, menurut Wilma, strategi ini mampu mengurangi sampah hingga lebih dari 90%. Pintu depan (pra-konsumsi), yaitu tahap pra-konsumsi. Kita harus tahu dan sadar serta memikirkan apa yang hendak dikonsumsi. Pintu tengah (konsumsi), dipastikan yang dimasak habis dikonsumsi dan semua sisa barang tidak segera dibuang ke tempat sampah. Pintu belakang (pasca konsumsi), bagaimana cara memilah sampah, misal yang organik masuk ke komposter dan yang anorganik yang bisa didaur ulang, diberikan atau dijual ke pengepul.

Sementara itu, tahap lima langkah adalah:

  1. Pastikan kita sudah tahu apa-apa saja yang akan dibeli, sehingga bisa menyiapkan perangkat belanja yang sesuai.
  2. Memilih tempat belanja yang tidak menjual dalam bentuk kemasan yang beresiko menjadi sampah.
  3. Saat kegiatan masak-memasak, pastikan jumlah sayur atau lauk disesuaikan dengan jumlah atau kebutuhan orang yang akan mengonsumsinya untuk menghindari sisa bahan atau makanan jadi.
  4. Saat makanan tersaji dan dikonsumsi, pastikan habis dan tidak menghasilkan sisa.
  5. Sisa bahan yang tidak terpakai untuk dimasak maupun sisa setelah dimakan, setelah kegiatan masak-memasak tidak dibuang, tetapi didaur ulang menjadi pupuk organik melalui pengomposan.

“Mengompos merupakan cara terdekat untuk memahami bagaimana alam bekerja berputar dan tidak putus. Mengompos adalah salah satu cara untuk membangun alam lestari. Ini adalah kewajiban semua orang untuk melakukannya demi kelestarian bumi kita,” tegas Wilma.

Peran strategis perempuan dalam tata kelola sampah

Berdasarkan pengalamannya berkarya bersama warga di sekitar Tangerang Selatan, Jakarta & Banjarmasin, Wilma melihat bahwa warga yang aktif dan berkomitmen untuk terus bergerak secara konsisten hampir seluruhnya adalah perempuan. Menurutnya, peran perempuan dalam tata kelola rumah tangga memiliki otoritas besar, khususnya dalam menyelesaikan masalah sampah serta untuk membangun ketahanan pangan.

Melalui program HAKKA (Harta Kampung Kota Kita), warga urban diajak dan didorong untuk membangun resiliensi untuk ketahanan pangan. Mereka dilatih untuk mencari dan menemukan aneka tanaman lokal yang bisa ditanam dan dijadikan bahan pangan. Dari situ akhirnya warga mengenal berbagai jenis tanaman layak makan yang selama ini hanya diabaikan dan tidak dirawat.
Dari pengalaman tersebut di atas Wilma sangat berharap bahwa apa yang telah dilakukan para perempuan yang terlibat dapat menginspirasi kotanya untuk melihat kemungkinan perluasan gerakan dan mereka yang terlibat bisa menjadi aktor-aktor penting transformasi kota.

“Kota tanpa sampah hanya bisa lahir dari perubahan kecil dalam komunitas terkecil rumah tangga yang mendorong perubahan besar dan sistematis, termasuk agama. Pertobatan ekologis adalah awal dari setiap doa kita: terjadilah di atas bumi seperti di dalam surga,” pungkasnya.