JAKARTA – Sinodalitas adalah aspek penting dalam karya misi gereja. Gereja yang memiliki semangat sinodal akan mampu menjawabi berbagai persoalan yang mendera dunia saat ini. Dalam gelaran iman ini SAGKI 2025 menghadirkan semangat tersebut dengan mengundang berbagai tokoh lintas agama. Dalam ruang perjumpaan tersebut mereka membagikan pengalaman hidup, refleksi kritis serta perjuangan menciptakan ruang harmoni lintas iman dalam keberagaman.
Salah satunya adalah Budi S. Tanuwibowo (Ketua Umum Matakin – Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia). Dalam sharingnya yang menggelitik penuh humor, Budi menyampaikan pengalaman pribadinya melintasi berbagai agama.
Berjalan sendiri dalam keramaian
Budi mengungkapkan bahwa masa kecilnya di Tegal terasa sepi karena dia adalah anak tunggal. Perjalanan hidupnya membawanya memiliki seorang istri yang merupakan anak tunggal juga. Sekarang pun pasangan ini hanya memiliki satu anak. Namun, rasa sepinya itu pada akhirnya membawanya ke dalam perjalanan bersama yang ramai bersama umat lintas agama.
Sejak kecil dia telah menganut berbagai agama, mulai dari Prostestan hingga akhirnya mendarat sebagai penganut Konghuchu. Diawali masa kecilnya yang hidup di dekat gereja Pentakosta, ia menjadi anggota gereja tersebut. Kemudian dalam peristiwa 1965 memaksanya untuk pindah sekolah di lingkungan yang mayoritas Islam.
“Pada waktu kecil rumah kami bersebelahan dengan gereja Pentakosta, jadi saya masuk ke sana. Kemudian, karena saya memiliki kakak angkat yang beragama Katolik, saya sering ikut misa mingguan di Gereja Hati Kudus Yesus, Tegal,” ungkapnya.
Kemudian, akibat peristiwa 1965 anak-anak Tionghoa itu yang semula berada di satu sekolah dasar akhirnya dipisah-pisah. Budi kecil mendaftar paling akhir sehingga mendapat sekolah dasar negeri dengan murid yang mayoritas Islam.
“Jadi selama SD itu agama saya tiga. Walaupun saya sendiri, tapi tetap ramai. Saya tidak pernah didiskriminasi oleh teman-teman saya yang berbeda agama. Apakah teman sekolah yang Islam, teman sekampung yang Kristen Protestan, maupun teman di gereja Katolik,” jelasnya.
Tiba-tiba entah datang dari mana pada pertengahan tahun 1972 ada aktivis MATAKIN (Majelis Agama Konghucu Indonesia) ke Tegal. Dia mengajaknya untuk ikut serta dalam kegiatan MATAKIN. Dari keterlibatan bersama teman-teman Konghucu akhirnya Budi masuk menjadi bagian dari mereka.
Namun, pada pertengahan 1978 muncul Surat Edaran Menteri Dalam Negeri yang mengatakan bahwa di kolom KTP hanya ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha. Budi pun akhirnya hijrah menjadi pemeluk agama Budha. Hal ini terekam dalam ijasazah SMAnya.
“Petualangan” spiritualnya tidak berhenti di sini. Pada masa penelitian kuliahnya di IPB, Fakultas Teknik Jurusan Tanah dan Air, dia mengambil proyek penelitian di Mengwi, Bali selama enam bulan. Pada masa inilah dia belajar agama Hindu dan menjadi penganut Hindu.
Meskipun demikian, ada masa di mana dia juga tidak beragama atau malah berganti-ganti agama di KTP sebagai bentuk protesnya.
“Kadang Islam, kadang Hindu, kadang Kristen, Katolik. Pokoknya seenaknya lah sebagai bentuk protes aja gitu. Tergantung pacarnya pada waktu itu agamanya apa.,” demikian selorohnya disambut gelak tawa peserta.
Dunia Tanpa Unsur Perusak Tidak Akan Maju
Di dalam refleksinya selama menjalani penelitian sekaligus memperdalam agama Hindu, Budi merenungkan tentang peran Dewa Siwa yang dianggap sebagai Dewa Perusak. Padahal menurutnya justru ada Siwa maka terjadi pertumbuhan dan kemajuan karena dunia tanpa unsur perusak tidak akan tumbuh dan berkembang.
“Setelah merenung-renung saya baru sadar kalau orang selama ini menganggap Siwa sebagai perusak. Padahal justru Siwa ini sebenarnya yang membuat dunia bisa bertumbuh. Bayangkan, gedung ini katakanlah ada 10 lantai. Fondasinya bisa untuk 10 lantai. Kalau gedung ini mau ditinggikan menjadi 20 lantai, tidak mungkin hanya 10 ditambah 10, akan ambruk. Maka harus dibongkar. Di situlah peran Siwa. Maka, dunia tanpa unsur perusak tidak akan maju,” tegasnya.
Ajaran Hindu tersebut tertanam dalam jiwanya. Hal itu dianggapnya tepat karena menurutnya realitas kehidupan harus seperti itu. Dibutuhkan keberanian untuk membongkar segala sesuatu yang rusak atau sudah usang dan membangunnya kembali menjadi sesuatu yang lebih baik.
Budi meyakini bahwa manusia itu baik bukan karena agamanya, etnisnya, atau apa pun, tetapi manusia menjadi baik karena dia sungguh beriman dan berbudi luhur.
Menjadi Agama Yang Berdaya Ubah
Dalam situasi dan kondisi kebangsaan sekarang ini, menurut Budi, para tokoh agama harus berani menyuarakan kebenaran dalam perdamaian. Para tokoh agama perlu berjuang bersama untuk membongkar hal-hal yang tidak benar dan menjadi teladan moral bangsa di tengah situasi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja ini.
Ia juga berharap agar Gereja Katolik dapat mewakili suara-suara para tokoh agama karena mempunyai kekuatan di Indonesia saja, tetapi juga mempunyai susunan hierarki yang kokoh dan jaringan yang kuat di dunia. Sementara untuk NU dan Muhammadiyah diharapkannya dapat memunculkan para pemimpin bangsa yang sungguh amanah untuk membawa bangsa ini menuju Indonesia emas, bukan Indonesia cemas apalagi berkemas alias gagal.

Freelance, Contributor for Dokpen KWI

