Komisi Pendidikan KWI, Komdik KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, MPK, Majelis Pendidikan Katolik, MPK, MNPK, Majelis Nasional Pendidikan Katolik, Keuskupan Regio Sumatra, Regio Sumatrea, Sekretaris Eksekutif Komisi Pendidikan KWI, Romo Antonius Vico Christiawan SJ, Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Romo Dr Vinsensius Darmin Mbula OFM, Bapak L Manik

“Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera”

MIRIFICA.NET. Upaya memperkuat arah dan kualitas pendidikan Katolik di wilayah Sumatera kembali diteguhkan melalui Pertemuan Komisi Pendidikan (KOMDIK) dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan se-Regio Sumatera yang diselenggarakan pada 11–14 Maret 2026 di Wismalat Podomoro, Sukamoro, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Pertemuan yang berlangsung dalam wilayah pelayanan Keuskupan Agung Palembang ini mempertemukan sekitar 52 peserta yang berasal dari berbagai unsur pendidikan Katolik, mulai dari Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Komisi Pendidikan keuskupan-keuskupan di Sumatera, perwakilan MPK keuskupan, pimpinan perguruan tinggi Katolik, hingga perwakilan yayasan persekolahan keuskupan dan tarekat religius.

Mengusung tema “Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera,” pertemuan ini menjadi ruang perjumpaan sekaligus refleksi bersama bagi para pemangku kepentingan pendidikan Katolik untuk membaca situasi nyata pendidikan saat ini dan merumuskan langkah strategis bagi masa depan. Dalam semangat kebersamaan, para peserta diajak untuk semakin menyadari bahwa pendidikan Katolik bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari perutusan Gereja dalam membentuk pribadi manusia secara utuh yang berkembang dalam dimensi intelektual, spiritual, moral, dan sosial.

Kesadaran akan pentingnya perutusan tersebut menjadi latar belakang utama terselenggaranya kegiatan ini. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, lembaga pendidikan Katolik dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari tuntutan peningkatan mutu pendidikan, kebutuhan penguatan identitas Katolik, hingga persoalan konkret di lapangan seperti jumlah peserta didik, kompetensi guru, dan tata kelola lembaga pendidikan. Karena itu, sinergi antara Komisi Pendidikan dan Majelis Pendidikan Katolik di berbagai keuskupan menjadi semakin penting agar pengembangan pendidikan Katolik dapat berjalan secara terarah, terpadu, dan berkelanjutan.

Salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam pertemuan ini adalah ajakan untuk melakukan refleksi mendalam terhadap identitas dan arah pendidikan Katolik melalui Evaluasi Diri Sekolah Katolik (EDSK). Dalam sesi pemaparannya, Sekretaris Eksekutif Komisi Pendidikan KWI, Romo Antonius Vico Christiawan, SJ, menegaskan bahwa evaluasi diri tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai proses administratif, melainkan sebagai sebuah “laboratorium discernment” yang hidup, sebuah ruang rohani dan intelektual bagi komunitas sekolah untuk membaca realitas secara jujur, mengenali dinamika yang terjadi, dan meneguhkan kembali makna terdalam dari keberadaan sekolah Katolik. Evaluasi diri bukanlah ruang untuk menghakimi kekurangan, melainkan kesempatan reflektif untuk menemukan kembali jati diri dan panggilan perutusan, sehingga sekolah Katolik semakin teguh sebagai lembaga pendidikan yang berpusat pada Kristus, menghadirkan nilai-nilai Injil, serta berkomitmen pada pembentukan manusia seutuhnya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan membentuk pribadi yang berintegritas, peka secara sosial, terbuka dalam dialog, dan berjiwa solidaritas demi kesejahteraan bersama, terutama bagi mereka yang paling membutuhkan.

Untuk menopang proses tersebut, Romo Vico memperkenalkan Enam Pilar Evaluasi Diri Sekolah Katolik sebagai instrumen strategis dalam penguatan mutu, yang mencakup: identitas dan misi Kristosentris yang menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat seluruh dinamika pendidikan; iklim lingkungan dan budaya dialog yang menumbuhkan semangat kekeluargaan sekaligus menjamin perlindungan anak; peran pendidik dan tenaga kependidikan sebagai saksi iman; kurikulum yang mengintegrasikan iman, budaya, dan kehidupan termasuk edukasi ekologi dalam semangat Laudato Si’; kemitraan dan jejaring yang memperluas kolaborasi; serta tata kelola yang transparan dan akuntabel. Keenam pilar ini perlu dilengkapi dengan instrumen pendukung yang memadai, termasuk kebijakan safeguarding, demi terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan bermartabat. Romo Vico mengingatkan bahwa seluruh pilar tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan kekuatan pada satu aspek tidak dapat menutupi kelemahan pada aspek lainnya, melainkan harus dihidupi secara seimbang dan berkelanjutan.

Refleksi mengenai arah pendidikan Katolik semakin diperdalam melalui pemaparan Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Romo Dr. Vinsensius Darmin Mbula, OFM, yang mengangkat tema tentang “Implementasi Kurikulum Unggul Khas Katolik”. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa pendidikan Katolik memiliki kekuatan besar sebagai sarana transformasi masyarakat.

Menurutnya, kurikulum Katolik harus dipahami sebagai kurikulum yang holistik dan humanis, yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk hati nurani, spiritualitas, dan karakter peserta didik. Pendidikan Katolik dipanggil untuk menumbuhkan nilai-nilai Injili seperti kebenaran, keadilan, solidaritas, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian, lembaga pendidikan Katolik diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki komitmen untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi. Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa sekolah Katolik saat ini menghadapi berbagai tantangan nyata. Di beberapa tempat, jumlah peserta didik mengalami penurunan, sementara kompetensi dan kesejahteraan guru masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Selain itu, tata kelola lembaga pendidikan juga dituntut semakin profesional agar mampu menjawab tuntutan masyarakat yang semakin kompleks.

Refleksi mengenai kondisi konkret pendidikan Katolik diperkaya melalui pemaparan Bapak L. Manik yang menyajikan potret lembaga pendidikan Katolik (LPK) pada jenjang SMA berdasarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025. Data tersebut menegaskan bahwa penguatan identitas Katolik dalam kehidupan sekolah tetap menjadi fondasi penting yang perlu dijaga, sekaligus menuntut terbentuknya ekosistem pendidikan yang sehat, di mana guru, tenaga kependidikan, dan staf administrasi bekerja bersama mendukung proses pendidikan. Secara nasional, LPK menunjukkan efisiensi tinggi dalam penyerapan peserta didik. Meskipun jumlahnya hanya sekitar 1,1% dari total lembaga pendidikan nasional (5.948 dari 539.568), LPK mampu menampung sekitar 1,5% peserta didik nasional (935.843 dari 63.954.790). Dari sisi sebaran wilayah, Regio Nusa Tenggara memiliki jumlah LPK terbanyak, yakni 37,1% (2.206 sekolah), disusul Regio Jawa sebesar 26,5%. Mayoritas LPK berada di bawah naungan Yayasan Keuskupan (63,9%), diikuti Ordo/Tarekat/Kongregasi (24,0%). Di Regio Sumatera sendiri, Keuskupan Agung Medan menjadi wilayah dengan jumlah LPK terbanyak, yaitu 294 sekolah, dengan dominasi lembaga pada jenjang PAUD dan SD.

Hasil TKA 2025 pada jenjang SMA juga memperlihatkan capaian yang menggembirakan sekaligus menjadi bahan refleksi. Secara nasional, LPK swasta menunjukkan performa yang lebih tinggi dibandingkan sekolah negeri, sekolah swasta lainnya, maupun rata-rata nasional dalam tiga mata pelajaran utama: Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Namun demikian, LPK negeri justru menunjukkan capaian yang masih berada di bawah rata-rata nasional dan tertinggal dibandingkan LPK swasta. Data juga memperlihatkan bahwa sekolah di bawah binaan Ordo/Tarekat/Kongregasi secara konsisten meraih nilai tertinggi dibandingkan binaan Yayasan Keuskupan, Yayasan Awam, maupun Pemerintah; misalnya dalam Bahasa Indonesia, sekolah binaan Ordo/T/K mencapai skor 62,83, sementara binaan pemerintah hanya 49,61. Di sisi lain, beberapa wilayah masih memerlukan perhatian khusus, seperti Keuskupan Jayapura, Sanggau, Agung Merauke, dan Tanjung Selor yang dalam beberapa mata pelajaran menempati peringkat ketiga atau keempat dibandingkan sekolah lain di wilayahnya. Selain itu, variasi capaian yang cukup lebar pada LPK swasta (dengan standar deviasi 8,12) menunjukkan adanya kesenjangan kualitas antar sekolah Katolik yang perlu menjadi perhatian bersama.

Sementara itu, gagasan mengenai pembentukan Sentra Belajar Guru menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian khusus dalam pertemuan ini. Mantan Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Dr. Ferdinandus Hindiarto, S.Psi., M.Si., menegaskan bahwa gurumerupakan investasi paling berharga bagi lembaga pendidikan. Karena itu, pembinaan dan pengembangan profesional guru perlu dilakukan secara berkelanjutan. Melalui konsep Profesional Learning Community (PLC), para pendidik diharapkan dapat membangun komunitas belajar profesional yang memungkinkan mereka saling berbagi pengalaman, merefleksikan praktik pembelajaran, dan bersama-sama mencari cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pendekatan ini mendorong terbentuknya budaya belajar yang reflektif dan kolaboratif, sehingga proses pembelajaran di sekolah semakin bermakna bagi perkembangan peserta didik.

Selama empat hari pertemuan berlangsung, para peserta tidak hanya mengikuti paparan materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan refleksi bersama mengenai langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk memperkuat pendidikan Katolik di wilayah Sumatera. Langkah konkret untuk mengimplementasi hasil diskusi dan refleksi tersebut adalah dengan membentuk Tim Sentra Belajar Guru di tingkat Regio Sumatera yang dikoordinir oleh Romo Agustinus K.G. Faran, Pr. Tim yang terdiri dari Ketua Komdik dan MPK Keuskupan ini, membentuk penanggungjawab beberapa divisi, antara lain Divisi Formatio dan Spirituality (Identity and Mission), Divisi Inovasi Pedagogi dan PLC Baru, Divisi Tata Kelola dan Kesejahteraan, dan Divisi Ekosistem dan Kemitraan.  

Melalui pertemuan ini, diharapkan sinergi antara Komisi Pendidikan dan Majelis Pendidikan Katolik di berbagai keuskupan di Sumatera semakin kokoh. Dengan kerja sama yang semakin erat, pendidikan Katolik diharapkan mampu terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan relevan dengan tuntutan zaman, sekaligus tetap setia pada perutusannya dalam membentuk generasi muda yang beriman, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan bersama.*

*Ranti Marie, S.Pd.,M.Pd.__Staf Komisi Pendidikan KWI