Komsos Banjarmasin, Keuskupan banjarmasin, Pelatihan Digital AI Banjarmasin, Komsos KWI, Sekretaris Komsos KWI RD Agoeng Noegroho

MIRIFICA.NET-KOMSOS, KEUSKUPAN BANJARMASIN – Pelatihan Pembuatan Konten Kreatif dengan Memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) di media sosial dilaksanakan selama tiga hari, pada tanggal, 1–3 Mei 2026, bertempat di Wisma Shikar Banjarbaru. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari 17 paroki di Keuskupan Banjarmasin (Katedral, Kelayan, Veteran, Landasan Ulin, Banjarbaru, Paramasan, Pelaihari, Sungai Danau, Sebamban Raya, Batulicin, Mandam, Gendang, Kotabaru, Tanjung, Suriyan, Halong, Karang Liwar), setiap paroki mengutus dua orang perwakilan dari bidang Komsos, serta utusan dari berbagai komisi di Keuskupan Banjarmasin. Para peserta tampak antusias dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal baru di dunia digital.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para admin Komsos paroki dalam memanfaatkan AI untuk pembuatan konten media sosial. Pada hari pertama, peserta diperkenalkan dengan spiritualitas Komsos yang disampaikan oleh Ketua Komsos Keuskupan Banjarmasin, RD. Ignatius Allparis Freeanggono. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa penggunaan AI dalam pembuatan konten tetap harus dilandasi semangat Roh Kudus, sehingga pesan yang disampaikan dapat menghadirkan kasih dan menjadi sarana pewartaan Allah.

Sesi berikutnya dibawakan oleh RD. Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo yang mengulas pesan Paus Leo XIV dalam Hari Komsos Sedunia ke-60 dengan tema “Menjaga Wajah dan Suara Manusia di Era Kecerdasan Buatan.” Dalam materi tersebut ditegaskan bahwa teknologi hadir untuk membantu manusia, bukan menjadi tuan atas manusia. Manusia adalah ciptaan Allah yang serupa dan segambar dengan-Nya. Disampaikan juga bahwa kecerdasan buatan memiliki potensi ancaman terhadap kemanusiaan, karena segala sesuatu dapat disimulasikan oleh sistem, sementara manusia membutuhkan relasi nyata dengan sesama dan dengan alam ciptaan. AI juga dapat mengikis kemampuan berpikir kritis manusia dan menjadikannya konsumen pasif. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu diarahkan pada inovasi digital dengan berpegang pada tiga pilar utama: tanggung jawab, kerja sama, serta pendidikan dan literasi.

Komsos Banjarmasin, Keuskupan banjarmasin, Pelatihan Digital AI Banjarmasin, Komsos KWI, Sekretaris Komsos KWI RD Agoeng Noegroho
Foto: Komsos Banjarmasin

Memasuki hari kedua, materi disampaikan oleh Priscilla Panti Meyrina dengan tema “Konten Media Sosial.” Ia menekankan pentingnya media sosial sebagai sumber informasi bagi umat, baik terkait kegiatan maupun jadwal misa di paroki. Setiap paroki diharapkan memiliki akun resmi yang dikelola dengan baik, dilengkapi deskripsi yang jelas, serta tidak dalam mode privat. Dalam pengelolaannya, terdapat struktur kerja yang melibatkan pimpinan, tim media sosial, hingga pengelola akun, serta perlunya analisis konten sebelum dipublikasikan.

Peserta juga diperkenalkan dengan teknik komunikasi seperti STP (Segmenting, Targeting, Positioning) serta teknik A-B-C (Attention, Body Text, Call to Action) dalam pembuatan konten. Ditekankan bahwa ide kreatif tidak selalu mudah muncul, namun dapat ditemukan melalui refleksi pengalaman sehari-hari. Di tengah kebiasaan masyarakat yang cenderung menghabiskan waktu dengan menscroll media sosial, manusia tetap memiliki keunggulan dibanding AI, yakni kemampuan merasakan empati dan menciptakan makna.

Selain itu, dibahas juga berbagai jenis konten yang dapat dikembangkan, seperti quotes, katekese, informasi, infografis, serta ucapan (greetings). Dalam pembuatan video, peserta diajak memahami pentingnya unsur audio dan visual, serta tiga tahap utama produksi: konsep, judul yang menarik, dan penulisan naskah (script). Materi ini juga dilengkapi dengan pembahasan mengenai keamanan dalam bermedia sosial.

Sebagai bagian dari praktik, peserta dibagi ke dalam kelompok untuk membuat video berdurasi satu menit dengan tema “Bulan Maria” dan “Hari Komsos.” Suasana pelatihan menjadi semakin hidup karena setiap kelompok berusaha menghasilkan karya terbaik. Hasil video yang ditampilkan menunjukkan kreativitas yang tinggi, didukung oleh kerja sama tim yang baik. Pada sesi malam, peserta belajar proses editing menggunakan AI, yang menuntut mereka untuk berpikir lebih kritis dan inovatif agar hasil yang diperoleh maksimal.

Pada tanggal 3 Mei, kegiatan ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo sebagai konselebran utama, bersama RD. Ignatius Allparis Freeanggono dan RD. Albert Slamet.

Setelah perayaan Ekaristi, dilanjutkan dengan makan siang bersama dan diakhiri dengan perpisahan yang penuh kehangatan, para peserta kembali ke tempat masing-masing, membawa semangat baru untuk terus berkarya dalam pelayanan di Paroki.*

* Penulis : Sr. Fatima Asni Soares, SCMM