Menggambar Peta Harapan Bersama: Pendidikan Tinggi Katolik sebagai Ruang Iman, Akal Budi, dan Tanggung Jawab Sosial dalam Menghadapi Kerapuhan Zaman”

Bandung-MN. Kongres Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) ke-43 diselenggarakan pada Kamis hingga Sabtu, 5–7 Maret 2026, bertempat di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung, Jawa Barat. Kongres yang mengusung tema “Menggambar Peta Harapan Bersama: Pendidikan Tinggi Katolik sebagai Ruang Iman, Akal Budi, dan Tanggung Jawab Sosial dalam Menghadapi Kerapuhan Zaman” ini dihadiri oleh 82 peserta. Para peserta terdiri dari pengurus APTIK, para Rektor atau perwakilan Perguruan Tinggi Katolik anggota APTIK, Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KOMDIK KWI), serta sejumlah undangan dan pemerhati pendidikan.

Kongres ini menjadi forum penting bagi APTIK untuk merefleksikan perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah masa depan pendidikan tinggi Katolik di Indonesia. Secara khusus, kongres ini bertujuan membahas dan menetapkan Rencana Strategis (Renstra) APTIK 2026–2031 serta melaksanakan serah terima kepengurusan APTIK periode 2026–2029.

Foto: Komdik KWI

Salah satu agenda utama kongres adalah pemaparan dan pembahasan Rencana Strategis APTIK 2026–2031 yang disusun sebagai sarana dan alat bantu tata kelola organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks, baik pada tingkat nasional maupun global. Renstra APTIK disusun dengan paradigma value based planning, yaitu perencanaan yang berlandaskan nilai, memperhatikan keterlibatan para pemangku kepentingan, serta berorientasi pada dampak dan perubahan nyata. Melalui renstra ini, APTIK berupaya menegaskan kembali jati diri organisasi, menentukan arah dan fokus pengembangan, mengoptimalkan sumber daya yang terbatas, serta meningkatkan akuntabilitas dan kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi Katolik.

Visi APTIK adalah menjadi asosiasi yang mampu merintis, memelihara, dan meningkatkan berbagai bentuk kerja sama antar yayasan anggotanya sehingga perguruan tinggi Katolik yang diselenggarakan masing-masing yayasan unggul dalam kualitas serta mampu memberikan kontribusi terbaik bagi kemanusiaan di tingkat nasional maupun internasional melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dengan tetap setia pada nilai-nilai Kristiani. Untuk mewujudkan visi tersebut, APTIK menjalankan dua misi utama. Pertama, merintis, memelihara, dan mengembangkan kerja sama di antara seluruh anggota APTIK guna meningkatkan pelaksanaan tridharma perguruan tinggi dengan menjunjung nilai-nilai Unggul, Transparan, Opsi kepada mereka yang miskin, dan Solidaritas (UTOS). Kerja sama ini juga diperluas dengan berbagai lembaga lain di tingkat nasional maupun internasional yang mendukung pencapaian visi APTIK. Kedua, menggerakkan anggota APTIK untuk menemukan kekhasan dan meningkatkan keunggulan institusinya demi keberlanjutan, menyempurnakan sarana pelaksanaan tridharma sesuai perkembangan masyarakat dan teknologi, serta menguatkan semangat Kristiani dalam kehidupan institusi, antara lain melalui semangat kasih, dialog, persaudaraan, cinta tanah air, disiplin, keadilan, perhatian kepada kaum miskin, dan kepedulian terhadap keutuhan ciptaan.

Foto: Komdik KWI

Renstra APTIK mengidentifikasi sejumlah isu strategis yang perlu mendapat perhatian bersama, antara lain penguatan tata pamong perguruan tinggi, pengembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan, penguatan tridharma perguruan tinggi, dinamika perguruan tinggi negeri berbadan hukum, serta peningkatan kolaborasi antar lembaga. Analisis terhadap potensi dan keunggulan institusi dilakukan menggunakan pendekatan VRIO (Valuable, Rare, Inimitable, Organized), yang membantu mengidentifikasi sumber-sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, renstra disusun berdasarkan kombinasi analisis kualitatif terhadap isu strategis serta pengukuran kuantitatif melalui berbagai alat analisis.

Hal yang menarik dalam kongres kali ini adalah bahwa penyusunan Renstra dan program kerja telah diselesaikan sebelum pengesahan pengurus APTIK yang baru. Dengan demikian, arah dan prioritas program organisasi telah tersedia sebagai landasan kerja bagi kepengurusan berikutnya. Program-program APTIK ke depan juga diarahkan untuk memperkuat berbagai jejaring kerja sama antar perguruan tinggi anggota, sehingga kebutuhan bersama dalam pengembangan tridharma dan tata kelola dapat dijawab secara kolektif.

Selain pembahasan renstra, kongres juga memaparkan perkembangan penyusunan Pedoman Identitas dan Misi Perguruan Tinggi Katolik di Indonesia (PIM) yang disusun oleh Tim Gugus Tugas APTIK. Pedoman ini berangkat dari keyakinan bahwa perguruan tinggi Katolik lahir dari jantung Gereja, sebagaimana ditegaskan dalam Konstitusi Apostolik Ex Corde Ecclesiae. Karena itu, setiap perguruan tinggi Katolik diharapkan menampilkan identitas Katoliknya secara nyata dalam seluruh kehidupan akademik dan kelembagaan.

Foto: Komdik KWI

Pedoman tersebut bertujuan menegaskan identitas dan misi perguruan tinggi Katolik di Indonesia, memberikan arah dasar penyelenggaraan pendidikan tinggi Katolik, serta mendorong integrasi nilai-nilai Injil dalam tata kelola dan pelaksanaan tridharma. Dalam pedoman ini ditegaskan empat ciri hakiki perguruan tinggi Katolik, yaitu inspirasi Kristiani, refleksi ilmiah dalam terang iman, kesetiaan terhadap pewartaan Kristiani, serta komitmen untuk melayani Gereja dan masyarakat. Dalam implementasinya, penggerak utama penghayatan identitas dan misi ini adalah yayasan penyelenggara perguruan tinggi serta institusi perguruan tinggi itu sendiri. Yayasan diharapkan menjadi penggerak utama yang memastikan identitas dan misi Katolik terintegrasi dalam tata kelola lembaga, sedangkan perguruan tinggi bertanggung jawab menghidupi nilai-nilai tersebut dalam pelaksanaan tridharma serta dalam pembentukan budaya kampus.

Sebagai bagian dari implementasi pedoman tersebut, APTIK juga mengembangkan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang berfungsi sebagai sarana refleksi institusional untuk mengukur sejauh mana identitas dan misi Katolik sungguh dihidupi dalam kehidupan perguruan tinggi. Pendekatan IKU ini tidak dimaksudkan sebagai alat pemeringkatan, melainkan sebagai sarana refleksi yang menghargai keberagaman sejarah, spiritualitas pendiri, kapasitas sumber daya, serta konteks sosial budaya masing-masing perguruan tinggi anggota APTIK.

Foto: Komdik KWI

Dalam rangkaian kongres ini juga dilaksanakan serah terima kepengurusan APTIK. Proses pencarian dan pemilihan pengurus baru berlangsung cukup panjang karena mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kesibukan para calon, kesiapan untuk mengemban tanggung jawab organisasi, serta kondisi kesehatan. Pada akhirnya, kepemimpinan APTIK selanjutnya dipercayakan kepada Dr. Johanes Eka Priyatma, yang sebelumnya memimpin Tim Gugus Tugas Penyusunan Renstra APTIK 2026–2031. Penunjukan ini diharapkan dapat menjamin kesinambungan antara perencanaan strategis yang telah disusun dan pelaksanaan program-program organisasi ke depan.

Melalui Kongres APTIK ke-43 ini, perguruan tinggi Katolik di Indonesia kembali menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan pendidikan tinggi sebagai ruang perjumpaan antara iman, akal budi, dan tanggung jawab sosial. Di tengah berbagai kerapuhan zaman, pendidikan tinggi Katolik diharapkan tetap menjadi sumber harapan yang mampu membentuk generasi yang beriman, kritis, solider, serta berkomitmen pada kemanusiaan dan keutuhan ciptaan. *Ranti/Komisi Pendidikan

Foto: Komdik KWI