(Kiri ke kanan) Josie Susilo Hardianto, Wartawan Senior Harian Kompas yang pada September 2024 lalu ikut lawatan apostolik Paus Fransiskus dari Vatikan, Francisca Christy Rosana jurnalis Tempo yang juga meliput kunjungan Paus, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen) Fajar Riza Ulhaq, dan Ignatius Kardinal Suharyo, dalam diskusi refleksi kunjungan Paus Fransiskus dan peluncuran buku Faith, Fraternity, and Compassion di Gedung KWI Lantai 4, Jumat (03/01/2025). Foto : Abdi S/Komsos KWI

JAKARTA — Proyek penerbitan buku foto kenangan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia akhirnya rampung. Buku berjudul Faith, Fraternity and Compassion ini resmi diluncurkan pada Jumat (3/01/2025) di Media Center Gedung KWI Lantai 4, Jakarta, setelah sempat tertunda hampir satu tahun. Buku ini merupakan inisiatif panitia media kunjungan Paus dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas bekerjasama dengan Konferensi Waligereja Indonesia.

Setelah rangkaian kunjungan Paus Fransiskus berakhir pada September 2024, panitia media mulai mengumpulkan dokumentasi dari berbagai sumber, sebagian besar berasal dari foto-foto Harian Kompas. “Inisiatif awal muncul dari teman-teman panitia media. Kami kemudian menyepakati untuk menerbitkannya melalui Penerbit Buku Kompas,” ujar Romo Steven Lalu, mantan Sekretaris Eksekutif Komsos KWI yang berperan penting dalam proses kurasi dan pemilihan foto.

Bersama tim media Kompas, proses kurasi foto dan penyusunan narasi berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tokoh-tokoh Gereja, termasuk kardinal dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), turut diminta memberikan kata pengantar. Layout buku diselesaikan pada akhir 2024, dan semula direncanakan diluncurkan pada Desember 2024.

Namun, kata Steven, peluncuran tertunda karena panitia menilai belum ada momentum yang tepat. Upaya memanfaatkan peringatan satu tahun kunjungan Paus pada 3–5 September juga urung dilakukan. “Setelah beberapa kali pembahasan dengan Penerbit Buku Kompas, dan KWI, termasuk konsultasi langsung dengan Sekjen dan Ketua KWI, barulah kami sepakat menentukan tanggal peluncuran,” ujarnya.

Panggilan Agar Dekat dengan Tuhan
Ketua KWI Mgr Anton Subianto menyebutkan bahwa kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024 merupakan kesempatan langka. Ini bukan sekadar momen yang layak dikenang sepanjang masa, melainkan panggilan agar kita semakin dekat dengan Tuhan, semakin menghidupi iman, dan tidak terjebak pada hal-hal yang justru membuat kita jauh dari semangat Injil. Kesempatan seperti ini, menurut Anton, bagaikan sebuah undangan istimewa untuk memperbarui hidup, untuk bertobat, karena sesungguhnya Kerajaan Allah sudah dekat.

“Sebagai bentuk nyata dari semangat ini, lantas disusun sebuah buku yang memuat pesan-pesan Paus. Buku ini lahir dari kerja keras para kontributor yang dengan penuh ketekunan merangkainya. Begitu buku ini ditawarkan, kami (KWI) segera memesan sebanyak 2.000 eksemplar. Jumlah ini dipersiapkan agar buku tersebut bisa dibagikan ke seluruh paroki di Indonesia,”ujar Uskup.

Menurut Anton, buku ini bukan sekadar koleksi, melainkan sebuah sarana untuk menyebarkan pesan utama dari Paus Fransiskus, yaitu tentang Faith (Iman), Fraternity (Persaudaraan), dan Compassion. Melalui buku ini, kata Anton, kita semua diajak untuk semakin menghidupi iman, membangun persaudaraan sejati, dan menumbuhkan semangat kepemimpinan yang berlandaskan Injil. “Ini bukan sekadar dokumentasi, tetapi sarana pertobatan sosial. Siapa pun yang membaca dan melihat kembali momen bersama Paus diharapkan semakin dekat dengan Tuhan dan sesama,” katanya.

Tidak Mudah
Wakil Pemimpin Umum Kompas Tri Agung Kristianto yang juga menjadi panitia kunjungan menyebutkan, proses penyusunan buku ini tidak mudah. Pria yang kerap disapa dengan nama Tra ini menyebutkan, buku ini pada dasarnya buku foto. Mengapa foto? Karena gambar memiliki kekuatan yang besar untuk menyampaikan pesan. Namun, justru karena itu pula tantangan yang dihadapi menjadi lebih kompleks.

Panitia, kata Tra, harus memilih dari ratusan ribu foto yang terkumpul. Foto-foto ini berasal dari berbagai sumber: panitia sendiri, para fotografer, hingga media seperti Kompas. Dari sekian banyak foto, dipilihlah yang paling kuat kesannya, yang mampu menangkap makna dan semangat peristiwa. Proses ini memakan waktu cukup lama, yakni sekitar 13 bulan.

Setelah foto dipilih, tantangan berikutnya adalah membuat keterangan (caption). Tidak semua fotografer, kata Tra, menyediakan keterangan yang lengkap, sehingga panitia harus bekerja keras untuk menelusuri informasi. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan pengantar-pengantar. Ada satu pengantar yang sebenarnya ditunggu, namun karena tidak kunjung datang, akhirnya panitia memutuskan untuk melanjutkan tanpa menunggu lagi, demi kelancaran penerbitan.

Tra bercerita, pertarungan besar terjadi ketika menentukan desain sampul (cover). Para fotografer memiliki preferensi masing-masing. Awalnya ingin dipilih foto saat Imam Besar Masjid Istiqlal (yang sekarang Menteri Agama) mencium kepala Paus. Namun foto itu dianggap sudah banyak beredar dan pesan sudah dipahami oleh khalayak di media sosial. Akhirnya, diputuskan foto yang menggambarkan kebersamaan-lah yang dipilih sebagai desain sampul.

Peluncuran buku diperdalam dengan refleksi atas kunjungan Paus bersama beberapa tokoh antara lain Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen) Fajar Riza Ulhaq, Kardinal Ignatius Suharyo, wartawati Tempo Francisca Christy Rosana dan dimoeratori oleh wartawan kompas Josie Susilo Hardianto yang ikut meliput kunjungan Paus. Hadir pula dalam peluncuran buku Wakil Ketua Panitia Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus di Indonesia Muliawan Margadana, Ketua KWI Mgr Anton Bunyamin, Dirjen Bima Katolik Suparman, Wakil Pemimpin Umum Kompas Tri Agung Kristianto, dan Sekretaris Eksekutif KWI Rm Siswantoko Pr.