Ratusan Uskup Asia Akan Kunjungi Terowongan Silaturahmi, FABC 2026, FABC Jakarta, Sidang Raya XII Federation of Asian Bishops Conferences (FABC) 2026 di Jakarta, FABC Jakarta 20-26 Juli 2026, Katolik Inonesia, KWI, FABC 2026 Indonesia, Katolik Indonesia, Katolik Asia, Uskup Indonesia, Uskup Asia, Gereja Katolik Asia, Gereja Katolik Indonesia, Kardinal Asia, Kardinal Indonesia, Utusan FABC, Sidang Pleno FABC XII Jakarta
Uskup Samson Shukardin merupakan salah satu tokoh terkemuka dalam memperjuangkan kebebasan beragama, hak asasi manusia, dan keadilan sosial di Pakistan. Sejak 2015, ia memimpin Keuskupan Hyderabad dan kini menjabat sebagai Presiden Konferensi Waligereja Katolik Pakistan. (Foto: Radio Veritas Asia)

Sosok yang dikenal luas sebagai pejuang kebebasan beragama, hak asasi manusia, dan keadilan sosial di Pakistan, Uskup Samson Shukardin memimpin Keuskupan Hyderabad sejak tahun 2015. Ia juga menjabat sebagai Presiden Konferensi Waligereja Pakistan.


Menjelang berlangsungnya Sidang Pleno XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) di Indonesia pada 20–26 Juli 2026, Radio Veritas Asia (RVA) mewawancarai Uskup Samson mengenai harapannya terhadap sidang tersebut, pentingnya dialog antaragama, serta pengalaman Gereja di Pakistan yang dapat menjadi sumbangan berharga bagi Gereja di Asia.

Berikut petikan wawancaranya:

RVA: Yang Mulia, apa harapan utama Anda terhadap Sidang Pleno FABC yang akan berlangsung di Indonesia?

Uskup Samson: Harapan terbesar saya adalah agar Sidang Pleno ini menjadi momentum yang sungguh menghadirkan solidaritas dan semangat saling mendengarkan di tingkat Asia. Bagi Gereja yang menjadi minoritas seperti kami di Pakistan, FABC merupakan wadah yang sangat penting untuk semakin terhubung dengan Gereja Katolik di seluruh Asia.

Saya berharap pertemuan ini semakin mempererat hubungan antarkonferensi waligereja di kawasan, sehingga kita dapat saling berbagi pengalaman pastoral, menghadapi tantangan bersama, serta memperbarui komitmen kita dalam mewartakan Injil di tengah situasi sosial dan politik Asia yang semakin kompleks.

RVA: Isu-isu apa yang paling Anda harapkan menjadi perhatian dalam sidang tersebut?

Uskup Samson: Saya sangat berharap Sidang Pleno memberi perhatian serius pada meningkatnya intoleransi beragama, perlindungan terhadap komunitas-komunitas minoritas yang rentan, serta pemberdayaan kaum muda di Asia.

Selain itu, persoalan kerentanan ekonomi masyarakat dan dampak perubahan iklim—yang sangat dirasakan negara-negara seperti Pakistan—juga merupakan tantangan pastoral yang mendesak.

Kita juga perlu menghadapi dampak revolusi digital yang berkembang sangat cepat. Sebagaimana ditegaskan Paus Leo XIV dalam ensiklik sosial terbarunya, Magnifica Humanitas, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat memperparah dehumanisasi dan memperbesar kesenjangan ekonomi, terutama bagi kelompok masyarakat yang paling rentan, apabila tidak disertai dengan pedoman moral yang jelas.

Karena itu, Sidang Pleno perlu membahas bagaimana Gereja dapat secara nyata menjaga martabat manusia, baik dalam menghadapi ketidakadilan sosial yang telah lama ada maupun perubahan besar akibat perkembangan teknologi, sehingga mampu menghadirkan harapan bagi keluarga-keluarga yang hidup dalam diskriminasi struktural dan kemiskinan.

RVA: Kontribusi khusus apa yang dapat diberikan Gereja di Pakistan bagi Gereja di Asia?

Uskup Samson: Gereja di Pakistan membawa kesaksian tentang daya tahan iman serta pengalaman berharga dalam membangun apa yang kami sebut sebagai “dialog kehidupan”.

Meskipun kami merupakan komunitas kecil, Gereja tetap hidup dan berkembang melalui pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan yang terbuka bagi seluruh warga tanpa memandang agama. Kami juga terus membangun kerja sama di tingkat akar rumput dengan para cendekiawan Muslim yang memiliki semangat moderat dan terbuka.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa Gereja yang hidup sebagai minoritas tetap dapat menjadi kekuatan yang efektif dalam membangun perdamaian. Kami ingin berbagi kesaksian tentang iman yang tetap teguh sekaligus menawarkan model hidup berdampingan secara harmonis dengan umat beragama lain, bahkan dalam situasi yang penuh tantangan.

RVA: Sidang Pleno kali ini mengangkat tema “pertobatan sinodal” dan “membangun jembatan”. Bagaimana tema tersebut berkaitan dengan kehidupan Gereja di Pakistan?

Uskup Samson: Di Pakistan, kedua tema tersebut bukan sekadar konsep teologis, melainkan kenyataan pastoral yang kami jalani setiap hari.

Pertobatan sinodal berarti para imam, biarawan-biarawati, dan umat awam berjalan bersama untuk mendampingi keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi maupun kerentanan sosial, terutama di daerah-daerah pedesaan seperti Sindh.

Sementara itu, membangun jembatan sudah menjadi cara kami hidup dan melayani. Setiap hari kami membangun jembatan melalui lembaga-lembaga pendidikan, pelayanan sosial, serta jaringan advokasi hak asasi manusia. Kami berusaha mengikis prasangka dengan membuka ruang perjumpaan dan mengingatkan bahwa kita semua memiliki martabat kemanusiaan yang sama.

RVA: Ke depan, hasil konkret apa yang Anda harapkan dari Sidang Pleno bagi Gereja di Asia?

Uskup Samson: Saya berharap Sidang Pleno ini menghasilkan arah pastoral bersama yang jelas dan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya berhenti pada pernyataan-pernyataan.

Secara khusus, saya berharap lahir jaringan kerja sama yang lebih kuat antarkonferensi waligereja di Asia, berkembangnya program-program regional untuk pembinaan kaum muda dan calon pemimpin Gereja, serta hadirnya suara Gereja Katolik Asia yang semakin kuat dan bersatu dalam memperjuangkan hak asasi manusia serta kebebasan beragama di tingkat global.*  

*[Wawancara ini ditulis oleh Yousaf Benjamin, seorang kontributor dan frelancer Majalah Katolik Pakistan, ditayangkan di Website Radio Veritas Asia, dialihbahasakan oleh Gabriel Abdi Susanto, Jurnalis dan anggota Badan Pengurus Komsos KWI]

Sumber: “Bridge-Building is Our Default Mode of Operation,” says Pakistan’s Top Prelate | RVA