Jakarta — Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Antonius Bunjamin OSC menyerukan agar seluruh peserta Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 menghayati semangat rendah hati dan kemurahan hati dalam setiap langkah sinodal Gereja. Seruan itu disampaikan dalam homili saat Ekaristi Pembukaan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 di Ballroom Hotel Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta Utara, Senin (03/11/2025).
Mengawali homilinya, Mgr Antonius menuturkan kisah simbolik tentang seorang sederhana yang diundang ke pesta pernikahan mewah. Orang itu tidak membawa hadiah maupun amplop. Setelah melalui berbagai pintu yang memisahkan tamu berdasarkan kemampuan memberi, ia justru berakhir di luar gedung. “Begitulah dunia sering menilai dari apa yang bisa diberikan secara material. Namun Allah mengundang tanpa pamrih,” katanya.
Mendengarkan Roh Kudus
Dalam konteks sinodalitas, Monsinyur Anton, begitu biasa disapa, menegaskan bahwa seluruh peserta SAGKI 2025 dipanggil untuk mendengarkan Roh Kudus sebelum berbicara. “Kita tidak bisa berbicara dengan baik jika belum mendengarkan,” ujarnya.
Ia mengutip Paus Fransiskus yang, saat membuka Sinode Para Uskup pada Oktober 2023, menegaskan bahwa pemeran utama sinode adalah Roh Kudus. “Demikian pula, pemeran utama dari Sidang Agung ini adalah Roh Kudus yang berbicara melalui kita semua tanpa kecualian,” lanjutnya.
Mgr Anton juga menekankan bahwa semua peserta — dari kardinal, uskup, imam, biarawan-biarawati hingga kaum muda — memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mendengarkan, berbicara, dan berpartisipasi aktif.
Jalan Menuju Damai Sejahtera
Mengutip pesan perdana Paus Fransiskus yang selalu menyerukan “Damai sejahtera bagi kamu semua”, Mgr Antonius mengingatkan pentingnya Gereja menjadi duta damai di tengah dunia yang dilanda konflik. “Damai sejahtera lahir dari hati yang mendengarkan dan terbuka terhadap penderitaan sesama,” ujarnya. Gereja, katanya, harus membangun jembatan melalui dialog dan pertemuan, terutama dengan mereka yang miskin dan tak diperhitungkan dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, maupun budaya.
Uskup Bandung ini mencontohkan teladan Paus Fransiskus yang mengundang delapan tunawisma untuk sarapan pada ulang tahunnya yang ke-80, serta menyelenggarakan makan siang bagi 1.200 orang miskin dan pengungsi di Vatikan. “Itulah kerendahan hati dan kemurahan hati yang bersumber dari belas kasih Allah,” katanya.
Gereja yang Relevan dan Signifikan
SAGKI 2025, menurut Mgr Anton, diharapkan menghasilkan kebijaksanaan Gereja yang relevan dan signifikan bagi umat dan masyarakat luas. Ia mengingatkan agar seluruh proses sidang tidak berhenti pada formalitas, tetapi berbuah pada keputusan yang berakar pada kasih dan keadilan.
“Sidang ini diharapkan menjadi harapan dan perdamaian bagi mereka yang tak punya, yang tak diperhitungkan, dan yang hidupnya bergantung pada harapan terhadap kita,” ujarnya.
Sebagai bagian dari dinamika sinodal yang terbuka, kata Mgr. Anton, SAGKI juga menjadi ruang bagi Gereja untuk mendengarkan berbagai pergulatan sosial di Indonesia. Dalam semangat itu, Uskup menegaskan pentingnya Gereja terlibat dan peka terhadap persoalan kemanusiaan yang dihadapi bangsa.
Menanggapi pertanyaan wartawan terkait isu kemanusiaan di Papua dan eksplorasi geotermal di Manggarai Timur, Mgr Anton juga menegaskan bahwa sidang terbuka untuk membahas segala persoalan kemanusiaan. “Kita tidak membatasi siapa pun berbicara tentang apa pun. Semua bergantung pada semangat mendengarkan Roh Kudus dan kepedulian terhadap sesama,” tegasnya.
Homili ditutup dengan ajakan agar seluruh umat Katolik, khususnya para peserta SAGKI, meneladani kemurahan hati Allah. “Mari kita bermurah hati seperti Bapa yang murah hati,” kata Mgr Antonius. Ia menambahkan, hanya dengan kerendahan hati Gereja dapat sungguh menjadi tanda harapan dan pembawa damai di tengah masyarakat.

Mantan Jesuit, Pendiri Sesawi.Net, Jurnalis Senior dan Anggota Badan Pengurus Komsos KWI

