Di tengah gemerlap panggung pembukaan SAGKI 2025, perhatian umat ditujukan pada satu simbol sederhana namun sarat makna: sebuah salib kayu besar berdiri tegak di depan altar. Inilah Salib World Youth Day (WYD) yang telah menemani perjalanan iman kaum muda Katolik di berbagai belahan dunia, kini singgah di panggung SAGKI 2025 sebagai simbol persaudaraan dan semangat Gereja yang muda dan hidup.
Salib ini pertama kali diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1984 di Roma. Ia mempercayakannya kepada kaum muda Katolik dengan pesan yang kuat: “Bawalah salib ini ke seluruh dunia sebagai tanda kasih Kristus kepada umat manusia.” Sejak saat itu, salib ini telah mengembara dari satu negara ke negara lain, dari benua ke benua, menjadi saksi dari jutaan doa, air mata, dan harapan kaum muda di setiap perjumpaan iman dan dikenal sebagai Salib Pemuda atau Salib WYD. Salib ini dibawa ke berbagai negara menjelang WYD, juga ke tempat penderitaan, konflik, penjara, rumah sakit, dan kamp pengungsian.
Salah satu tim kerja WYD untuk Indonesia, Nathaniel Marvel menjelaskan bahwa salib tanpa corpus ini ingin menegaskan bahwa Yesus telah bangkit, yang ada hanyalah salib yang kosong. “Wartakanlah ke seluruh dunia sukacita Injil dan Yesus sudah bangkit,” tukasnya. Oleh karena itu, Paus meminta agar salib ini dibawa ke seluruh negara, terutama yang sudah pernah menjadi tuan rumah WYD. Di Asia baru Filipina dan tahun 2027 nanti di Korea. Kehadirannya di Indonesia, berawal dari tawaran tuan rumah WYD, Korea untuk mengarak salib ini ke negara-negara di Asia, salah satunya Indonesia.
Selain Salib, terpampang pula ikon Bunda Maria bersama dengan bayi Yesus. Hampir sama dengan salib WYD, ikon ini juga permintaan dari Yohanes Paulus II yang memiliki devosi penuh terhadap Bunda Maria. Beliau meminta agar ikon ini juga bergerak ke seluruh dunia untuk menunjukkan bahwa Bunda Maria senantiasa mendampingi anak-anaknya untuk mencintai Yesus secara lebih mendalam.
Tentunya, banyak persiapan yang dilakukan untuk mengirim Salib dan ikon Bunda Maria ini ke Indonesia yang hanya akan berlangsung selama 3 minggu. “Seminggu di SAGKI, seminggu di Universitas Katolik Atmajaya – sebagai lembaga pendidikan katolik, dan seminggu lagi akan diletakkan di Katedral Jakarta,” terang Nathan.
Nathan menegaskan bahwa kehadiran Salib dan Ikon Bunda Maria di SAGKI 2025 ini juga menjadi momentum yang hebat karena memberi pesan bahwa di gereja universal, orang muda memiliki peranan. Seperti yang tertuang dalam Christus Vivit, bahwa orang muda adalah masa kini dan masa depan. “Maka kehadiran Salib dan ikon Bunda Maria ini menjadi salah satu momentum penting dalam Gereja Katolik, apalagi di SAGKI, supaya semua orang tahu, bahwa orangmuda diperhatikan oleh gereja,” imbuhnya.


Freelance, Contributor for Dokpen KWI


