JAKARTA – Setelah dipersiapkan secara maraton lebih kurang selama tiga bulan, forum perjumpaan iman yang digelar dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 akhirnya dibuka sore ini (3/11/2025) di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta. Selama sepekan ke depan 374 orang dari 38 keuskupan dan satu keuskupan TNI/POLRI akan mengikuti perjumpaan iman yang berlangsung setiap lima tahun sekali, kecuali pada 2020 ditiadakan karena pandemi Covid-19.
Sidang Agung dimulai dengan Misa Pembukaan dan diikuti oleh seluruh peserta dan panitia, serta tamu undangan yang hadir pada sore ini. Lagu ‘Gereja Bagai Bahtera’ yang dinyanyikan oleh para siswa dan siswi SMA Santa Angela, Bandung dengan penuh semangat mengiringi langkah para uskup dan imam menuju altar.
Suasana misa tampak khidmat, megah sekaligus meriah dalam balutan warna-warni pakaian adat yang dikenakan baik oleh para peserta maupun panitia. Hal ini menunjukkan keberagaman sebagai warga bangsa Indonesia maupun Gereja lokal. Bahkan, doa umat pun didaraskan dalam berbagai bahasa yang ada di nusantara ini, antara lain Bahasa Bali, Surabaya dan Manado. Demikian pula, para pembawa persembahan juga memakai pakaian adat dari berbagai daerah. Gereja sinodal yang misioner ditampakkan dalam perbedaan-perbedaan cara berpakaian, budaya dan adat istiadat umat. Keberagaman tersebut menunjukkan Gereja Ktolik yang berakar dalam budaya Indonesia.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh selebran utama Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), didampingi oleh konselebran para Uskup serta para imam dari seluruh Indonesia, dan diikuti oleh seluruh peserta, tamu undangan, serta panitia yang seluruhnya berjumlah sekitar 540 orang.
Dalam kata pengantar di awal misa Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas perkembangan Gereja Katolik Indonesia dan atas berlangsungnya SAGKI kelima yang mengusung tema “Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian. Uskup Agung Semarang ini mengajak seluruh umat yang hadir untuk memohon anugerah Roh Kudus agar para peserta dan panitia seluruhnya sungguh dibimbing dan diarahkan oleh-Nya sehingga pada akhirnya dapat berkiprah lebih nyata untuk perdamaian bangsa.
Selanjutnya, dalam homilinya Mgr. Anton menegaskan bahwa salah satu unsur penting dalam proses SAGKI 2025 ini adalah sikap saling mendengarkan agar peserta dapat berpartisipasi dalam setiap pembiacaraan secara pas dan pantas sebagai peziarah pengharapan.
“Kita diajak untuk mendengarkan Roh Kudus yang menjadi pemeran utama dari sidang ini, yang berbicara melalui kita, tanpa kecuali. Semua peserta SAGKI adalah setara, baik yang termuda (21 tahun) maupun yang paling senior (80 tahun) ada di dalam SAGKI. Ada kardinal, uskup, imam, frater, bruder, suster, awam, orang muda, semuanya setara sebagai peserta SAGKI dan memiliki hak dan kewajiban yang sama,” jelas Ketua KWI.
Selain itu, diungkapnya juga bahwa partisipasi aktif dalam SAGKI membutuhkan kerendahan hati dan kemurahan hati untuk berbagi dalam dan untuk Gereja. “Gereja dalam arti yang mungkin tidak bisa memberi balasan apa pun secara material, namun secara spiritual dapat meneguhkan supaya kita menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah, serta menjadi harapan perdamaian terutama kepada mereka yang paling membutuhkan, yang menggantungkan harapan dan hidupnya kepada kita,” ungkapnya.
Kesetaraan yang dikatakan oleh Uskup Bandung ini ditampakkan dalam cara di mana para peserta duduk. Mereka duduk di dalam round table, berbaur satu sama lain tanpa sekat-sekat status, jabatan maupun usia sebagai tanda keragaman dalam kesatuan, kebersamaan dalam sinodalitas, serta kesetaraan dalam martabat. Demikian juga, semarak aneka warna pakaian daerah yang dipakai oleh para peserta maupun panitia melambangkan kebinekaan asal mereka dari ujung barat Sumatera hingga ujung timur Papua. Mereka berjalan bersama dalam kesatuan untuk menemukan arah pastoral Gereja dalam lima tahun ke depan.
Setelah Misa Pembukaan dilanjutkan dengan seremoni pembukaan resmi. Para wakil keuskupan se-Indonesia membawa panji mereka masing-masing dalam prosesi perarakan.
Selain seluruh elemen Gereja yang terdiri dari kardinal, uskup, imam, biarawan-biarawati dan awam, acara pembukaan dihadiri pula oleh Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Republik Indonesia, Mgr. Pierro Pioppo, dan Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Drs. Suparman, SE, M.Si. Sementera itu, dalam pesan videonya Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar menyampaikan rasa sukacitanya atas pembukaan SAGKI 2025 serta mengharapkan melalui sidang agung ini akan ikut menemukan solusi berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapi gereja dan bangsa.
.


Freelance, Contributor for Dokpen KWI

