Beranda OPINI Editorial Kulihat Terang Walau Tak Benderang ……

Kulihat Terang Walau Tak Benderang ……

Sudah lama aku ingin mengumpulkan para pengemudi becak yang mangkal di depan gereja. Mereka selama ini setiap minggu mendapat makan murah. Dengan hanya membayar Rp 500 mereka dapat makan sepuasnya dengan menu yang sederhana meski bukan ala kadarnya. Aktifitas nasi murah sudah berlangsung sekitar 12 tahunan, tapi hanya itu saja. Mereka membeli makanan setelah itu selesai. Kadang kala ada pembagian hadiah kecil disaat masa Paskah atau Natal. Aku melihat hal ini kurang membantu para pengemudi becak.

Beberapa pengemudi becak sudah bertahun-tahun mangkal di depan gereja. Seorang pegemudi sudah mangkal selama 24 tahun yang lain sudah 10 tahun dan sebagainya. Bertahun-tahun mereka mangkal di depan gedung gereja, namun tidak pernah mereka masuk atau bersentuhan dengan para penghuni gedung itu. Beberapa kali memang aku pernah mengajak makan bersama dalam acara pesta rakyat. Atau menyapa beberapa orang ketika aku keluar dan masuk halaman gereja. Selain itu tidak ada lagi. Bahkan nama mereka pun aku tidak tahu.

Mengingat ini aku jadi malu sendiri. Aku katakan pada beberapa teman bahwa aku pasti akan masuk neraka, sebab tidak bedanya dengan orang kaya dalam kisah orang kaya dan Lazarus dalam Injil Lukas. Aku diam saja dan tidak peduli pada orang miskin yang ada di depanku. Mereka hanya makan remah-remah yang tercecer. Bukan makan dari pemberianku. Aku tidak pernah mempersilahkan mereka duduk makan bersamaku. Mengenal secara pribadipun tidak kulakukan. Padahal aku membantu anak-anak yang jauh dari gedung gereja. Mengapa aku peduli pada kemiskinan yang jauh di depan mata daripada yang ada di depan mata? Bagiku ini sebuah bentuk kesombongan pribadi.

Menyadari akan hal itu dan ketakutan masuk neraka, maka aku mengumpulkan para pengemudi becak. Ada 20 orang lebih yang kumpul. Kami minum kopi bersama di satu meja. Kami saling berkenalan. Betapa lamanya menunggu moment seperti ini. Duduk mengelilingi meja yang sama. Minum kopi yang sama. Merokok yang sama. Makan kue yang sama. Tidak ada beda antara aku dengan mereka. Kami bergurau seperti orang yang sudah mengenal lama. Saling mengolok tanpa menimbulkan sakit hati. Kami membicarakan masalah bersama.

Pembicaraan kami mengarah pada pembentukan koperasi. Apa yang disebut koperasi oleh mereka hanya sebuah tempat untuk menyimpan uang. Tidak ada aturan yang ribet seperti koperasi pada umumnya. Tidak ada iuran pokok atau wajib. Semua kami bicarakan bersama dan keputusan bersama. Aku lebih banyak mendengarkan apa keinginan mereka. Semula aku ingin komunitas ini berbentuk paguyuban saja, namun mereka menolak dengan alasan yang tidak masuk akal bagiku. Menurut mereka paguyuban bisa dianggap sebagai milik pemerintah padahal mereka tidak dibawah pemerintah. Semula aku tidak tahu bagaimana kaitan antara kata paguyuban dengan pemerintahan. Setelah berusaha bertanya-tanya akhirnya aku memahami hal itu. Beberapa dari mereka tergabung dalam paguyuban pengemudi becak dari sebuah partai. Maka bagi mereka kata paguyuban terkait erat dengan partai politik dan pemerintahan. Sebuah pemikiran sederhana yang harus aku ikuti.

Kami membicarakan soal pinjaman. Apakah mereka berhak meminjam? Ternyata semua menolak, sebab pinjaman bisa memecah mereka. Ada kekuatiran bahwa ada orang yang pinjam lalu tidak mau membayar dan pergi begitu saja. Maka keputusannya adalah mereka boleh meminjam dibawah uang tabungan. Semula aku sudah merencanakan bahwa mereka boleh meminjam dua kali dari tabungan, ternyata ideku ditolak. Ketika kutanya bagaimana bila ada keluarga yang sakit dan membutuhkan uang yang cukup banyak? Apakah mereka tidak boleh pinjam melebihi tabungan? Ternyata mereka tetap tidak setuju. Jalan keluar yang dipilih oleh mereka adalah bila ada keluarga yang sakit dan membutuhkan biaya banyak, maka mereka wajib urunan ala kadarnya untuk membantu. Mendengar ini aku jadi terharu. Betapa besar solidaritas diantara mereka.

Pengemudi becak ini rata-rata umurnya sudah lanjut. Memang jarang sekali anak muda yang menjadi pengemudi becak. Mereka semuanya miskin. Mereka tidak berpikir bahwa mereka sudah tua dan harus menyimpan sebanyak mungkin untuk persiapan masa depannya. Ternyata hal itu tidak ada dalam benaknya. Bagi mereka cukuplah apa yang mereka peroleh saat ini. Soal nanti tua itu terserah pada Tuhan. Sebuah keyakinan yang sangat menganggumkan. Semua orang Kristen pasti pernah membaca tentang janji Tuhan bahwa Dia tidak akan meninggalkan hambaNya. Burung pipit yang tidak menanam saja dapat makan mengapa kita kuatir? Masih ada beberapa ayat lain yang menyatakan agar kita tidak kuatir akan hari esok. Tapi sungguhkah kita tidak kuatir? Ternyata para pengemudi becak ini, yang tidak tahu akan ayat itu, dapat menjalaninya.

Aku juga kagum akan rasa solidaritas yang ada dalam diri mereka. Dalam kemiskinan mereka masih berani untuk berbagi dengan sesamanya. Aku sering juga datang ke komunitas yang kaya maupun menengah. Beberapa kali aku datang dalam pembentukan koperasi atau apapun namanya. Namun baru kali ini ada solidaritas yang sungguh. Dalam koperasi yang mendasarkan tata aturannya pada solidaritas, ternyata tidak sampai berpikir seperti ini. Begitu pula ada perkumpulan kaum yang lebih mapan, tidak pernah ada keputusan bahwa kalau ada anggota yang sakit maka semua anggota urunan untuk membantu. Solidaritas yang sesungguhnya baru kutemukan disini. Pada orang sederhana yang sering dianggap tidak berpendidikan dan cap buruk yang lain.

Gereja awali dalam Kisah Para Rasul digambarkan sebagai komunitas yang solider. Mereka bahkan menghapuskan milik pribadi. Tidak lagi ada milikku, sebab semua sudah menjadi milik bersama. Akibat perkembangan dan kekayaan akhirnya semangat itu hilang. Bukan memudar, sebab sudah tidak ada sisanya. Anggota Gereja saling memupuk kekayaan dan tidak ada lagi semangat untuk berbagi penuh dengan sesamanya. Bahkan lembaga-lembaga Gereja pun sama saja. Tidak pernah terdengar bahwa sebuah paroki yang kaya mau berbagi penuh dengan paroki yang miskin. Bahwa kekayaan mereka adalah kekayaan bersama. Sebaliknya ada kecenderungan untuk saling menyembunyikan kekayaannya masing-masing. Mereka lebih senang menumpuk kekayaan daripada menghidupkan semangat Gereja awali. Ternyata semangat Gereja awali aku temukan di tengah pengemudi becak yang miskin. Apakah Gereja harus miskin dulu baru mampu solider seperti Gereja awali?

Dalam pertemuan dengan pengemudi becak itu aku dapat belajar banyak sekali. Semula aku datang untuk menawarkan ide-ideku, ternyata disini aku harus belajar kembali dari mereka. Memperbaharui diri dan meniru semangat mereka yang sederhana dan rela berbagi. Terkadang banyak orang cerdik pandai dan mapan datang ke kelompok orang sederhana dengan membawa ide-ide mereka. Mereka menawarkan bahkan tidak jarang menjejalkan ide mereka. Seolah-olah ide merekalah yang benar dan dapat dijalankan. Dari pengalaman dengan para pengemudi becak ternyata ada ide dan budaya yang baik dalam orang yang dianggap miskin dan tidak berdaya.

Kemiskinan belum tentu membuat orang semakin mementingkan diri sendiri. Aku melihat bahwa sering kali semakin kaya seseorang semakin dia tidak peduli pada sesamanya. Semakin berat untuk berbagi. Dulu aku pernah bersama beberapa orang ingin membuat sebuah perusahaan lilin untuk anak jalanan. Kami berhitung segala dana yang harus dikeluarkan dan prediksi keuntungan yang dapat kami peroleh. Dari gambaran keuntungan itu kami mulai membagi-bagi. Porsi terbesar untuk anak-anak miskin. Setelah berhitung dengan cermat, seorang teman mengatakan bahwa apa yang tertulis ini memungkinkan sebab masih di atas kertas. Tapi apakah jika sudah berujud uang kita tidak berpikir ulang? Pertanyaan itu seolah membangunkan kami dari impian. Seorang teman lain yang juga seorang pengusaha mengatakan bahwa memang ketika mengawali sebuah usaha biasanya ada ide yang kuat untuk saling berbagi. Tapi setelah usaha ini berjalan dengan baik, maka mulai timbul pertengkaran disebabkan pembagian hasil yang tidak merata atau dianggap kurang oleh pihak lain. Di atas kertas lain dengan ketika uang itu sudah tampak di depan mata. Apakah para pengemudi becak itu tidak mempunyai uang yang cukup sehingga mereka masih rela berbagi? Apakah ketika mereka mempunyai uang yang cukup banyak juga masih berani berbagi?

Hal lain yang aku pelajari selama duduk bersama dengan para pengemudi becak adalah rasa keakraban yang kuat. Mereka berbicara spontan. Gurauan mereka begitu bebas. Tidak ada basa basi atau sopan santun yang semu. Aku dapat menikmati bergurau dengan mereka. Mereka tampak suka cita meski situasi hidup mereka sangat memprihatinkan. Adanya kegembiraan dalam situasi pahit membuat orang tetap bersemangat. Banyak orang sudah kehilangan kegembiraannya. Mereka tenggelam dalam aneka masalah yang dihadapinya. Aku yakin para pengemudi becak mempunyai aneka masalah yang rumit. Namun sikap gembira inilah yang membuat mereka mampu bertahan dalam situasi hidup yang sangat tidak berpihak.

Dengan demikian sebetulnya para pengemudi becak ini tanpa sadar sudah berusaha membangun komunitas mirip Gereja awali. Komunitas yang berani berbagi, solider, dan penuh suka cita. Pertengkaran dan perbedaan pendapat pasti ada dalam. Tidak mungkin mereka bisa terus menerus rukun dan damai. Dalam Gereja awali pun ada pertengkaran. Paulus beberapa kali mengecam Petrus dan teman-temannya. Tapi mereka tetap berusaha dengan penuh semangat untuk membangun komunitas yang rukun, solider dan suka cita. Para pengemudi becak pun berusaha membangun komunitas seperti itu. Dari sini aku banyak bercermin. Komunitas-komunitas dalam Gereja tidak jarang saling sodok dan tegang. Dalam pertemuan lingkungan sering terasa kering dan kaku. Tidak ada suka cita. Sebaliknya timbul gosip dan kritik yang tidak membangun. Mengapa para pengemudi becak ini lebih mampu melaksanakan semangat Gereja awali daripada Gereja sendiri? Inilah yang perlu dijawab dan dicari penyebabnya.

salam,

gani

Satu tubuh satu Roh satu iman satu pengharapan…. damai di bumi untuk mewujudkan Kerajaan Allah.