Beranda KWI Pedoman Singkat Memahami dan Memaknai Masa Prapaskah

Pedoman Singkat Memahami dan Memaknai Masa Prapaskah

Abu di dahi - Dua suster dengan abu di dahi mereka/Foto: cantualeantonianum.com

DALAM Ritus Romawi Gereja Katolik, masa Prapaskah dimulai dengan perayaan Rabu Abu. Ini adalah hari ketika orang Katolik dengan penuh semangat pergi ke Gereja untuk menerima abu di dahi mereka.

Guna memahami makna spiritual di balik perayaan Rabu Abu, berikut ini kami bagikan sebuah  pedoman singkat untuk memahami masa Prapaskah:

1. Rabu Abu merupakan sebuah pesta liturgi kuno yang memiliki akar biblis.

Sebagaimana ditulis Romo William P. Saunders  dalam Yesaya .indocel.net, Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Sebagai contoh, dalam Buku Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1). Ayub (yang kisahnya ditulis antara abad ketujuh dan abad kelima SM) menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6). Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3). Dalam abad kelima SM, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6). Contoh-contoh dari Perjanjian Lama di atas merupakan bukti atas praktek penggunaan abu dan pengertian umum akan makna yang dilambangkannya.

Yesus Sendiri juga menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21)*

Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya “De Poenitentia”, Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu.” Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya “Sejarah Gereja” bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Juga, dalam masa yang sama, bagi mereka yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akan mengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan.

Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, “Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?” Yang mana akan dijawab orang tersebut dengan, “Saya puas.” Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelas makna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.

Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) menyambut Paskah. Ritual perayaan “Rabu Abu” ditemukan dalam edisi awal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad kedelapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric menyampaikan khotbahnya, “Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa Prapaskah.” Setidak-tidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah, kita ingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita.

Dalam liturgi kita sekarang, dalam perayaan Rabu Abu, kita mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Sementara kita memasuki Masa Prapaskah yang kudus ini guna menyambut Paskah, patutlah kita ingat akan makna abu yang telah kita terima: kita menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa kita. Kita mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Kita memperbaharui janji-janji yang kita ucapkan dalam pembaptisan, yaitu ketika kita mati atas hidup kita yang lama dan bangkit kembali dalam hidup yang baru bersama Kristus. Dan yang terakhir, kita menyadari bahwa kerajaan dunia ini segera berlalu, kita berjuang untuk hidup dalam kerajaan Allah sekarang ini serta merindukan kepenuhannya di surga kelak. Pada intinya, kita mati bagi diri kita sendiri, dan bangkit kembali dalam hidup yang baru dalam Kristus.

Banyak teks di dalam Alkitab menjelaskan praktik seputar Rabu Abu. Ayub, misalnya, berkata, “Aku bertobat dengan debu dan abu” (Ayub 42: 6). Kitab Ester, yaitu Ester 4:1, 3) dan  Mazmur 102:10 menjelaskan pernyataan tobat dan penyesalan dengan “memakan abu”: “Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.” Kitab 2 Samuel 11-12 sering kali digunakan sebagai bacaan pada hari Rabu Abu, tentang zinah oleh Raja Daud dan pertobatannya.

2. Masa PraPaskah berlangsung selama 46 hari setelah Rabu Abu.

Enam hari Minggu di masa Prapaskah tidak dianggap sebagai bagian dari “puasa” resmi (setiap hari Minggu merupakan peringatan khusus akan Kebangkitan Kristus), sehingga apabila dikurangi dengan 6 dari 46 maka hanya ada 40 hari masa Prapaskah yang dikenal.

3. Masa berpuasa dan berpantang.

Sesuai Peraturan yang dikeluarkan oleh Keuskupan Agung Jakarta tentang Puasa dan Pantang disebutkan bahwa  berpantang dan berpuasa itu dilaksanakan oleh Umat Katolik pada hari Rabu 14 Februari dan Jumat Suci, 30 Maret 2018. Sedangkan, pada hari jumat lainnya dalam masa Prapaska hanya berpantang saja.

  • Yang diwajibkan berpuasa menurut hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK, k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapan belas tahun (KHK k. 97.1).
  • Puasa artinya makan kenyang satu kali sehari
  • Yang diwajibakn berpantang adalah semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252)
  • Pantang yang dimaksud di sini adalah tiap keluarga, kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, , pantang rokok.

Keuskupan-keuskupan di Indonesia memiliki kebiasaan khusus, yakni mengangkat tema tertentu pada masa Prapaska sebagai bahan refleksi. Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Bogor, misalnya, mengangkat tema Pertobatan Ekologis. Di Jakarta, umat Katolik diajak untuk ambil bagian dalam gerakan pantang plastik dan stayrofoam. Di Bogor, umat Katolik diajak untuk tidak merusak lingkungan hidup, “Tidak memperkosa bumi” seperti dibacakan pada Minggu kemarin.

4. Makna Spiritual Abu

Dengan begitu ringkas dan mendalam, St. Yohanes Paulus II menulis makna di balik abu. Ia menulis demikian:

“Jadikanlah hatiku bersih, ya Tuhan, … janganlah Engkau ambil daripadaku Roh Kudus.” Kami mendengar permohonan ini bergema di dalam hati, sementara itu kami  mendekati altar-Mu untuk menerima abu di dahi kami sesuai dengan tradisi yang sangat kuno. Tindakan ini dipenuhi dengan kiasan spiritual dan merupakan pertanda penting untuk pertobatan dan pembaharuan batin. Dianggap dengan sendirinya, ini adalah ritus liturgis yang sederhana, namun sangat mendalam karena makna pemberitaannya: dengan itu Gereja mengingatkan manusia, orang percaya dan orang berdosa, tentang kelemahannya ketika berhadapan dengan berbagai tindakan kejahatan dan terutama ketergantungan totalnya pada keagungan Allah yang tak terbatas.

Selamat memasuki masa Prapaskah 2018.

 

Catatan: Tulisan di atas diramu dari beberapa sumber antara lain:  aleteia.org,yesaya .indocel.net, dan wikipedia.