oplus_34

Doa sederhana seorang perempuan muda menjadi awal dari sejarah panjang sebuah kongregasi. “Tuhan, apa yang harus saya perbuat bagi mereka dan Gereja-Mu?” Itulah pertanyaan yang terus bergema dalam hati dr. Anna Maria Dengel, seorang dokter asal Tirol, Austria, yang sejak kecil bercita-cita menjadi misionaris.

Pada tahun 1920, Anna hadir sebagai dokter perempuan pertama di Rawalpindi, Pakistan. Saat itu, adat istiadat setempat masih melarang dokter laki-laki merawat perempuan. Akibatnya, banyak ibu dan anak yang meninggal tanpa pertolongan medis. Kehadiran Anna menjadi jawaban kecil atas penderitaan besar yang ia saksikan. Dengan tekad baja dan iman yang mendalam, ia melayani ribuan pasien seorang diri selama tiga tahun di Rumah Sakit St. Catherine.

Namun, Anna menyadari sesuatu: semua jerih payahnya tidak akan cukup jika ia tetap seorang diri. Gereja kala itu bahkan masih melarang kaum religius menjalankan praktik medis. Di sinilah ia bergulat dengan panggilannya. Anna sempat berniat masuk biara yang sudah ada, tetapi pertemuan dengan seorang misionaris, Father Khun, serta proses retret rohani membuat arah hidupnya berubah. Ia diyakinkan bahwa Tuhan memanggilnya bukan sekadar untuk masuk sebuah kongregasi, melainkan untuk mendirikan yang baru—kongregasi yang akan mengabdikan diri bagi pelayanan kesehatan, khususnya bagi mereka yang tidak terjangkau.

Dengan semangat pantang menyerah, Anna mencari dukungan ke berbagai tempat. Akhirnya, dengan izin seorang uskup, ia mendirikan sebuah “perkumpulan saleh” bersama tiga perempuan lain: Joanna Lyons, Laetitia Flinger, dan Agnes Marie Ulbrich. Pada 30 September 1925, berdirilah Society of Catholic Medical Missionaries di Washington DC, yang kelak dikenal sebagai Medical Mission Sisters (MMS) atau dalam konteks Indonesia disebut Kongregasi Biarawati Karya Kesehatan (BKK). Sejak awal, kongregasi ini menghidupi spiritualitas: “Menjadi Tanda Kehadiran Aktif Yesus Sang Penyembuh.”

Jejak pelayanan BKK di Indonesia, berawal di Jakarta oleh lima misionaris Belanda pada tahun 1947. Sedangkan di Keuskupan Agung Semarang diawali dengan membuka balai pengobatan dan rumah bersalin kecil dengan enam tempat tidur pada 1949, yang kini berkembang menjadi RS Brayat Minulya, Solo. Meski pada akhirnya pengelolaan rumah sakit diserahkan kepada keuskupan, para suster tidak berhenti berkarya. Mereka membaca tanda-tanda zaman dan memperluas pelayanan ke tengah masyarakat kecil—di desa, pinggiran kota, keluarga miskin, narapidana, lansia, difabel, dan kelompok terpinggirkan lainnya.

Kini, BKK tidak lagi sekadar mengelola institusi kesehatan, melainkan hadir dalam pelayanan sosial pastoral seperti di Lembaga Daya Dharma (LDD) KAJ—khususnya Biro Pelayanan Penyandang Disabilitas—serta Panti Wredha Dharma Bakti, Surakarta. “Berani melepaskan dan memulai yang baru, itulah semangat pelayanan yang selalu kami hidupi,” tutur Sr. Bernadetta Rini Dwi Astuti, BKK, ketua panitia perayaan syukur 100 tahun kongregasi.

Tantangan dan Harapan

Sr. Rini tidak menutup mata bahwa jumlah anggota BKK semakin terbatas. Namun, keterbatasan ini bukan penghalang. Justru, ia menegaskan, karisma BKK—menjadi kehadiran aktif Yesus Sang Penyembuh—akan selalu relevan menjawab penderitaan dunia. BKK ingin terus terlibat dalam pelayanan yang holistik: merawat tubuh, menenangkan jiwa, serta menguatkan hati masyarakat yang dilayani.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang, dalam ucapan syukurnya menegaskan: “Kita bersyukur kepada Allah yang Mahabaik atas penyelenggaraan-Nya yang penuh kasih, sehingga kongregasi BKK dapat memasuki usia 100 tahun.” Dalam homilinya, ia mengajak para suster untuk menjaga api karisma pelayanan penuh belas kasih, setia pada semangat pendiri, Anna Dengel, serta berani menjawab tantangan zaman dengan kreativitas.

Syukur 100 tahun BKK dirayakan dalam Ekaristi Kudus di Gereja St. Paulus, Sendangguwo, Semarang, yang dipimpin oleh Mgr. Rubiyatmoko bersama para imam. Perayaan ini juga menjadi momen syukur khusus: pesta emas hidup membiara Sr. Theresia Bueng Kareba, BKK; pesta perak Sr. Emiliana Rahankey, BKK; serta pengikraran kaul sementara Sdri. Julia Rumemba pada 2 Oktober 2025. Hadir pula Kardinal Julius Riyadi Darmaatmaja, SJ, para imam, bruder, suster dari berbagai kongregasi, dan umat dari berbagai daerah. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan ramah tamah di Berthier Hall.

Sr. Julia sendiri berbagi pengalaman panggilannya. Ia mengenal BKK dari pengalaman pribadi ketika datang dengan luka batin, lalu menemukan penyembuhan melalui para suster. “Saya penasaran bagaimana para suster bisa menyembuhkan luka saya. Itu yang membuat saya ingin mengenal lebih jauh dan akhirnya bergabung,” tuturnya. Empat tahun bersama BKK membuatnya merasa diterima, dilibatkan, dan diteguhkan dalam spiritualitas Yesus Sang Penyembuh—hingga ia berani menjawab panggilan Tuhan dengan kaul religius.

Dampak Nyata

Pelayanan BKK bukan hanya dirasakan di altar gereja, tetapi nyata dalam kehidupan banyak orang. Salah satunya adalah Gressia Carolina, seorang penyandang disabilitas netra. Sejak kecil ia putus sekolah, namun berkat pendampingan penuh kasih Suster Maria, BKK, ia berhasil menyelesaikan pendidikan kejar paket hingga SMA, lalu melanjutkan kuliah teologi. Tahun 2025, ia menjadi wisudawati penyandang disabilitas pertama yang lulus sebagai sarjana teologi dengan predikat terbaik. “Semua ini karena kasih karunia Tuhan yang mengutus Suster BKK sebagai saluran berkat,” ucapnya penuh syukur.

Pengalaman Gressia hanyalah satu dari sekian banyak kisah tentang sentuhan BKK. Bagi para karyawan LDD KAJ yang bekerja bersama para suster, mereka melihat BKK sebagai teladan pelayanan yang total, penuh kasih, tanpa membeda-bedakan agama, suku, maupun status sosial. Kehadiran mereka sederhana, tetapi dampaknya besar.

Seratus tahun perjalanan Kongregasi Biarawati Karya Kesehatan adalah kisah tentang kesetiaan, keberanian, dan cinta kasih yang diwujudkan dalam pelayanan. Dari Rawalpindi hingga Indonesia, dari rumah sakit hingga panti lansia, dari mendampingi ibu melahirkan hingga meneguhkan kaum difabel untuk meraih mimpi, karisma BKK tetap sama: menjadi tanda kehadiran Yesus Sang Penyembuh.

Perjalanan panjang ini menjadi undangan bagi para suster, sahabat, dan umat untuk terus berjalan bersama, menjaga api karisma, serta membuka diri pada bisikan Roh yang menuntun menuju pelayanan baru di masa depan.

Penulis : Skolastika Ariani