Home BERITA Rektor Seminari Wacana Bhakti : Para Pastor Perlu Mengerti Ilmu Psikologi

Rektor Seminari Wacana Bhakti : Para Pastor Perlu Mengerti Ilmu Psikologi

MIRIFICA.NET – Seorang imam atau pastor perlu mengetahui ilmu-ilmu psikologi sehingga dapat membantu para seminaris menghadapi masalah-masalah yang berkenaan dengan psikologi. Di tahap pendidikan teologi, ilmu psikologi sedikit disinggung. Karena itu belum sepenuhnya membantu para seminaris menghadapi problem-problem yang menjadi bagian dari kota metropolitan. Demikian disampaikan Rektor Seminari Wacana Bhakti, Jakarta Romo Andy Gunadi Pr di Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November.

Sebagai Doktor Psikologi dari Universitas Atma Jaya Jakarta yang disertasinya meneliti tentang “Tahapan Proses Individuasi Imam Diosesan: Kajian Arketip melalui Spiritualitas, Kompetensi Dasar, dan Kesejahteraan Psikologis dalam Pelayanan Pastoral-Teritorial di Regio Jawa”, Rm. Andy menyatakan bahwa masalah utama dalam pendidikan calon imam bukan dari sisi pengetahuan atau pada kedalaman kerohaniannya namun pada masalah psikologi.

“Pendidikan seminari mengandaikan bahwa orang yang masuk Seminari sudah baik dari sisi manusiawinya namun kenyatannya berbeda. Sisi itu ternyata belum sempat diolah atau bahkan tidak diolah di dalam pendidikan,”ujar Andy di Jakarta, Kamis (25/11/2021)

Kota metropolitan, kata Andy memberi pengaruh besar bagi psikologi para calon imam (seminaris). Berbagai masalah termasuk persoalan keluarga menjadi bagian penting dalam mempengaruhi karakter para calon imam. Perselisihan seperti pertengkaran keluarga (orangtua), minimnya perhatian orangtua pada anak karena kesibukan kerja, depresi akibat pekerjaan, dan kondisi ekonomi yang tidak stabil, menurut Andy, berdampak sekali pada pembentukan karakter dan sisi manusiawi seminaris.

Karena itu, kata Andy, aspek psikologi diharapkan dapat memberikan sumbangan tersendiri. Ini karena pelayanan pastoral-teritorial yang baik membutuhkan kedewasaan pribadi seorang imam (diosesan). Berbeda dengan imam religius yang menghayati hidup rohani berdasarkan semangat, kharisma, dan spiritualitas tokoh pendiri tarekatnya, seorang imam diosesan ditugaskan untuk mengabdi di wilayah administratif tertentu berdasarkan pembagian wilayah keuskupan.

Karena itu, selanjutnya hasil penelitian Andy diharapkan dapat menjadi kontribusi cabang ilmu psikologi dalam memetakan pelayanan pastoral-teritorial seorang imam diosesan di berbagai keuskupan di Regio Jawa, terutama dengan memahami kedewasaan pribadi melalui proses individuasinya.

“Seorang Imam Diosesan selama melalui proses pendidikan dan pembinaan yang panjang menuju tahbisan imamat, setidaknya delapan sampai sepuluh tahun setelah Sekolah Lanjutan Atas. Ini tidak sebentar. Karena itu, perbaikan dan peningkatan terus diperlukan seiring kendala dan tuntutan zaman,”ujar Andy.

Kontributor : Vinsensia Enggar Larasati

Previous articleBacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Minggu, 05 Desember 2021
Next articleKardinal Suharyo Memberkati dan Meresmikan Frans Seda Collection