Uskup Agung Medan Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap, berfoto bersama delegasi dari Keuskupan Agung Medan di momen SAGKI 2025. Foto : Tim Pubdok SAGKI 2025.

Jakarta — Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, dalam homilinya pada Misa pagi hari kedua Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 menyerukan agar Gereja Katolik berani menjadi “Gereja yang keluar” — Gereja yang tidak menunggu orang datang, tetapi mencari dan menjangkau mereka yang jauh dari kasih Allah.

Homili tersebut disampaikan dalam perayaan Ekaristi di Ballroom Hotel Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta, Selasa (4/11/2025).

“Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia adalah momentum rahmat untuk menegaskan kembali jati diri kita sebagai umat Allah yang berjalan bersama: sinodal, misioner, dan pembawa damai,” ujar Mgr. Kornelius di awal homilinya. “Kita semua adalah peziarah pengharapan yang berjalan sambil mencari dan menantikan kepenuhan kasih Allah.”

Ia menegaskan bahwa Sabda Tuhan hari ini berbicara sangat kuat: “Pergilah ke jalan-jalan dan persimpangan kota, paksalah orang masuk, supaya rumahku penuh” (Luk 14:23).

Allah yang Mencari, Bukan Menunggu

Mengambil inspirasi dari Injil Lukas 14:15–24, Mgr. Kornelius menuturkan bahwa perumpamaan tentang perjamuan besar menggambarkan wajah Allah yang penuh kasih dan kemurahan.

“Ketika mereka yang pertama diundang menolak datang karena kesibukan dan urusan duniawi, sang tuan rumah tidak marah, tetapi memperluas undangan. Ia mengutus hambanya untuk pergi ke pinggiran, ke lorong-lorong kota, mencari siapa saja — orang miskin, cacat, buta, dan lumpuh — agar rumahnya penuh,” ujarnya.

Menurutnya, dari sini tampak wajah sejati Allah: Allah yang tidak menunggu, tetapi mencari; Allah yang tidak memilih, tetapi merangkul.

Mgr. Kornelius kemudian menegaskan, “Inilah makna terdalam dari Gereja sinodal dan misioner: bukan Gereja yang menunggu orang datang, tetapi Gereja yang berani pergi keluar — keluar dari zona nyaman, keluar dari lingkaran yang serba aman, dan masuk ke jalan-jalan, lorong-lorong, serta persimpangan kehidupan manusia.”

Ia mengutip pesan Paus Fransiskus: “Lebih baik Gereja yang terluka karena keluar ke jalan, daripada Gereja yang sakit karena menutup diri.”

“Misi kita adalah menghadirkan kasih Allah di tempat di mana harapan sedang sekarat, di mana damai digantikan oleh kebencian, dan di mana manusia merasa tidak diundang lagi oleh iman,” tambahnya.

Tubuh Kristus yang Bergerak Bersama

Mengulas bacaan pertama dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (Rm 12:5–16a), Uskup Agung Medan mengingatkan bahwa Gereja adalah satu tubuh dalam Kristus, dengan karunia dan panggilan yang beragam.

“Sinodalitas berarti mengakui dan memelihara perbedaan itu sebagai kekayaan, bukan ancaman,” jelasnya. “Kita berjalan bersama bukan karena sama, melainkan karena disatukan oleh kasih Kristus.”

Ia menegaskan bahwa Gereja yang sinodal adalah tubuh yang hidup dan bergerak bersama, yang membuka ruang bagi semua suara — termasuk mereka yang sering tidak terdengar: kaum miskin, perempuan, orang muda, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat.

“Dalam mendengarkan mereka, kita mendengarkan Roh Kudus yang berbicara dari pinggiran,” katanya.

Namun, menurutnya, berjalan bersama tidak cukup tanpa keberanian untuk melangkah keluar. “Langkah pertama buah SAGKI adalah keberanian melangkah keluar,” tegasnya.

Teladan Santo Carolus Borromeus

Mgr. Kornelius kemudian menghadirkan teladan Santo Carolus Borromeus sebagai cermin Gereja masa kini.

“Ia adalah Uskup Milan pada abad ke-16 yang hidup di tengah krisis besar: Gereja dilanda skandal moral, wabah penyakit, dan kemerosotan rohani,” katanya. “Ketika banyak orang melarikan diri untuk menyelamatkan diri dari wabah, Carolus justru tetap tinggal di Milan, mengunjungi orang sakit, mengatur bantuan untuk orang miskin, dan bahkan menjual harta pribadinya demi memberi makan mereka yang kelaparan.”

Ia mengutip kata-kata Carolus yang penuh keberanian: “Kristus tidak lari dari salib-Nya; bagaimana mungkin aku melarikan diri dari domba-dombaku?”

Menurut Mgr. Kornelius, teladan Carolus mengajarkan bahwa misi Gereja selalu lahir dari keberanian kasih — kasih yang tidak takut kotor, tidak takut letih, tidak takut terluka, dan tidak takut dicemooh.

“Gereja yang sinodal dan misioner tidak berhenti pada pertemuan dan dokumen, tetapi diwujudkan dalam langkah konkret: menyembuhkan yang terluka, memulihkan yang tersisih, dan menegakkan martabat manusia di tengah dunia yang terkoyak oleh ketidakadilan,” katanya lagi.

“Gereja yang berjalan bersama tidak menutup diri di balik tembok rumah ibadat, tetapi hadir di persimpangan kota — tempat manusia bergumul, menangis, berteriak, dan mencari arti hidup,” tambahnya.

Gereja yang Membawa Damai dan Harapan

Mgr. Kornelius mengajak seluruh umat untuk menyadari bahwa Gereja Indonesia yang sedang berjalan dalam Sidang Agung ini dipanggil menjadi tanda pengharapan dan perdamaian.

“Kita semua diundang untuk menjadi pelayan misi itu — baik sebagai uskup, imam, religius, maupun awam,” ujarnya. “Kita tidak hanya berbicara tentang perdamaian, tetapi mewujudkannya: dengan memelihara keutuhan ciptaan, dengan membangun dialog lintas agama, dengan memerangi kemiskinan dan korupsi, dan dengan menanamkan nilai-nilai kasih dalam keluarga dan masyarakat.”

Menurutnya, pengharapan itu menjadi nyata bukan sekadar konsep, tetapi kekuatan yang menumbuhkan kehidupan.

Panggilan untuk Pergi

Menutup homili, Mgr. Kornelius menegaskan kembali seruan Injil hari itu sebagai panggilan bagi Gereja untuk keluar dan mengundang dunia masuk dalam pesta kasih Allah.

“Gereja yang misioner tidak menutup pintu bagi siapa pun, karena Allah sendiri tidak pernah menutup hati-Nya,” katanya.

Ia mengajak umat untuk menjadi hamba-hamba yang diutus ke jalan-jalan dan persimpangan hidup manusia: menjangkau yang jauh, memulihkan yang terluka, dan menyatukan yang tercerai.

“Sebab hanya Gereja yang berjalan bersama, yang mau kotor karena kasih, yang akan sungguh menjadi tanda pengharapan dan alat perdamaian bagi dunia,” ujarnya.

Mengakhiri homilinya, Uskup Agung Medan mengajak seluruh umat meneladani Santo Carolus Borromeus dengan doa sederhana namun mendalam: “Aku akan pergi, Tuhan, ke jalan-jalan dan persimpangan hidup, agar rumah-Mu penuh dengan kasih dan damai.”

Tari-tarian dalam seremoni pembukaan SAGKI 2025 di Ballroom Hotel Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta, Senin (03/11/2025). Foto : Tim Pubdok SAGKI 2025.