Hari Biasa, Pekan Biasa XXI
PW Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir
Warna Liturgi: Merah
Bacaan I: Yermia 1:17-19
Sampaikanlah kepada Yehuda segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka.
Bacaan dari Kitab Yeremia:
Sekali peristiwa, Tuhan berkata kepadaku, Yeremia, “Baiklah engkau bersiap! Bangkitlah dan sampaikanlah kepada
umat-Ku segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sungguh, pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imam dan rakyat negeri lain. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17
Bersukacitalah dalam Tuhan, hai orang benar.
- Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskan dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!
- Jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri; sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku. ya Allah, luputkanlah aku dari tangan orang fasik. “Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.
- Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari-Mu, sebab aku tidak dapat menghitungnya. Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.
Bait Pengantar Injil: Matius 5:10
Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Bacaan Injil: Markus 6:17-29
Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Beberapa waktu sesudah kedatangan Malaikat Gabriel, berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di Pegunungan Yehuda. Lalu ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab pada saat salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana.” Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang yang rendah. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa. Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan bersama dengan Elisabet, lalu pulang ke rumahnya.
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan
Peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga merupakan sebuah misteri besar dalam kehidupan umat beriman Kristiani. Sebab peristiwa ini memberi kita harapan pada masa depan. Bunda Maria diangkat ke surga memberikan semangat kepada kita untuk menjalani kehidupan sebagai orang Kristiani. Sebab, pada akhirnya, kita juga akan mengalami peristiwa mulia seperti Bunda Maria, diangkat ke surga dan hidup dalam kebahagiaan kekal bersama Allah. Namun, lebih daripada itu, peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga menunjukkan bahwa hidup kekal bersama Allah pertama-tama tidak diperuntukkan bagi mereka yang memiliki hak istimewa, kekayaan berlimpah, atau kekuasaan yang besar saat hidup. Bahkan, orang sederhana dan tidak terkenal pun memiliki jaminan kehidupan kekal. Bukankah Bunda Maria adalah perempuan desa yang bernama Nazaret, yang hidup sederhana dalam semangat kerendahan hati? Hal yang membuat dirinya diangkat ke surga adalah kesetiaan dan ketaatan dalam menjalankan kehendak Allah di dunia, yaitu menjadi ibu Yesus.
Dalam Kidung Magnificat, Bunda Maria telah mengatakan dengan jelas janji Allah ini, “Ia menurunkan orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang yang rendah. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar.” Bunda Maria adalah orang pertama yang mengalami kemuliaan bersama Allah setelah kenaikan Putra-Nya ke surga. Seperti Bunda Maria, kita juga berharap untuk mengalami peristiwa diangkat sebagaimana yang dia alami.
Lantas, apa yang perlu kita perbuat? Hiduplah sebagaimana Bunda Maria, Bunda kita dahulu hidup. Seperti Bunda Maria yang selalu memuliakan Allah karena Ia telah memerhatikan dirinya yang rendah, kita pun perlu bersyukur dan memuliakan Allah setiap saat dalam hidup kita. Seperti Bunda Maria yang menyadari rahmat Allah yang selalu tercurah dalam hidupnya, kita pun perlu menyadari bahwa Allah tidak pernah berpaling dari kita, asalkan kita menyembah-Nya dengan ketulusan hati. Di dalam diri Bunda Maria, yang diangkat ke surga, umat beriman telah melihat jalan kehidupan setelah kematian: jaminan akan kebahagiaan penuh dalam kemuliaan ilahi. Jaminan inilah yang akan mendukung peziarahan hidup kita setiap hari di dunia ini.
Bunda Maria adalah guru kehidupan kita. Dengan memandang dia, kita lebih memahami makna sesungguhnya dari panggilan Kristiani kita, yaitu menjalani kehendak Allah dengan taat dan setia dalam tugas dan hidup harian kita masing-masing. Apakah hidup kita sudah seperti hidup Bunda Maria?
Tuhan, tolonglah kami untuk sungguh-sungguh menjalankan kehendak-Mu dengan kerendahan hati seperti Bunda Maria. Teguhkanlah dalam diri kami pengharapan akan kehidupan kekal, dan kobarkanlah hati kami dengan kasih kepada-Mu, amin.

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

