Hari Kamis, Pekan Biasa XXIV
St. Yosef dari Copertino
St. Yohanes Makias
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: 1 Timotius 4:12-16
Awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu; dengan demikian engkau menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius:
Saudara terkasih, jangan seorang pun menganggap dirimu rendah karena engkau masih muda. Jadilah teladan bagi orang-orang beriman, dalam perkataan dan tingkah laku, dalam kasih, kesetiaan dan kesucianmu. Sementara itu, sambil menunggu kedatanganku, bertekunlah dalam membaca Kitab Suci, dalam membangun dan mengajar. Janganlah lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang diberikan oleh penumpangan tangan Sidang penatua disertai nubuat. Perhatikanlah semuanya itu dan hiduplah di dalamnya, supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 111:7-8.9.10; R:2a
Agunglah karya Tuhan.
- Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh; Perintah-Nya lestari untuk selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.
- Ia memberikan kebebasan kepada umat-Nya, Ia menetapkan perjanjian untuk selama-lamanya; kudus dan dahsyatlah nama-Nya!
- Pangkal kebijaksanaan adalah takut akan Tuhan, semua orang yang mengamalkannya memiliki budi bahasa yang baik; dia akan disanjung sepanjang masa.
Bacaan Injil: Lukas 7:36-50
Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu ketika seorang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa. Ketika mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hati, “Seandainya Dia ini nabi, mestinya Ia tahu, siapakah dan orang apakah wanita yang menjamah-Nya ini; semestinya Ia tahu, bahwa wanita ini adalah orang yang berdosa.”
Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.” “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka hutang kedua orang itu dihapuskannya. Siapakah di antara mereka akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku sangka, yang mendapat penghapusan utang lebih banyak!” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu!” Dan sambil berpaling kepada wanita itu, Yesus berkata kepada Simon, “Engkau melihat wanita ini? Aku masuk ke dalam rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku; tetapi wanita ini membasahi kaki Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk, ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu, ‘Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih!”
Lalu Yesus berkata kepada wanita itu: “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang makan bersama Yesus berpikir dalam hati, “Siapakah Dia ini, maka Ia dapat mengampuni dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada wanita itu, “Imanmu telah menyelamatkan dikau. pergilah dengan selamat!”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Seorang pemuda kaya yang memiliki segala yang terbaik yang ditawarkan dunia, yaitu harta kekayaan dan keamanan, datang kepada Yesus karena ia merasa kurang satu hal. Ia menginginkan kedamaian dan kebahagiaan abadi yang tidak dapat dibeli dengan uang, yang dalam bahasa Injil disebut ”hidup kekal”. Sayangnya, jawaban Yesus sama sekali bukanlah yang dia inginkan.
Sebagai seorang Yahudi, sejak kecil ia telah menjalankan perintah Taurat. Sekalipun baik, Yesus tahu ada masalah berat dalam hatinya yang dapat menghalangi dia untuk sampai kepada Allah, yaitu kelekatan terhadap harta miliknya. Ia lebih percaya dan menaruh pengharapan dan keamanannya pada apa yang dia miliki. Ketika Yesus menantang dia untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya milik dan harta yang sejati, ia menjadi kecewa.
Hal yang paling kita inginkan adalah harta tertinggi kita. Tuhan sendiri sebenarnya harta terbesar kita. Meninggalkan segala sesuatu yang lain untuk memiliki Tuhan sebagai harta kita seharusnya bukanlah kesedihan, melainkan sukacita terbesar. Menjual semua yang kita miliki dapat berarti banyak hal, seperti kenalan dan teman kita, gaya hidup kita, apa yang kita lakukan saat waktu luang kita. Yesus menantang orang muda itu karena hatinya posesif. Ia takut memberi kepada orang lain karena takut kehilangan apa yang telah ia peroleh. Allah memberkati kita dengan kekayaan rohani yang jauh lebih besar daripada kesenangan sesaat dari kekayaan material. Apakah kita bersedia untuk berpisah dengan apa pun yang dapat menghalangi kita untuk mencari sukacita sejati bersama Yesus?
Tuhan, hanya Engkau yang dapat memuaskan kerinduan terdalam di hati kami. Jauhkanlah kami dari sikap posesif dan tidak puas serta berikanlah kami sukacita karena hanya Engkaulah satu-satunya harta dan warisan kami, amin.
HUT Tahbisan Uskup Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC (Uskup Agung Merauke)

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

