Hari Minggu Biasa XXIV
Pesta Pemuliaan Salib Suci
St. Yohanes Gabriel Dufresse
Warna Liturgi: Merah
Bacaan I: Bilangan 21:4-9
Setiap orang yang dipagut ular, jika memandang ular tembaga, ia akan tetap hidup.
Bacaan dari Kitab Bilangan:
Ketika umat Israel berangkat dari Gunung Hor, mereka berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom. Bangsa itu tidak dapat menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa, “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air! Kami telah muak akan makanan hambar ini!
Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel itu mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata, “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.”
Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, “Buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut ular, jika ia memandangnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38; R:7b
Jangan melupakan perbuatan-perbuatan Allah.
- Dengarkanlah pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut untuk mengatakan amsal, aku mau menuturkan hikmah dari zaman purbakala.
- Ketika Allah membunuh mereka, maka mereka mencari Dia; mereka berbalik dan mendambakan Allah; mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu mereka, dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.
- Tetapi mulut mereka tidak dapat dipercaya, dan dengan lidah mereka membohongi Allah. Hati mereka tidak berpaut pada-Nya, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.
- Akan tetapi Allah itu penyayang! Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan amarah-Nya, dan tidak membangkitkan keberangan-Nya.
Bacaan II: Filipi 2:6-11
Yesus merendahkan diri, maka Allah sangat meninggikan Dia.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi:
Saudara-saudara, Yesus Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk-lututlah segala yang ada di langit, dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui “Yesus Kristus adalah Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan.
Bacaan Injil: Yohanes 3:13-17
Anak Manusia harus ditinggikan.
Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya”
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan
Pengosongan diri (kenosis) Kristus yang diungkapkan dalam Kidung Filipi sangat menyentuh hati kita. Pengosongan diri total dari kemuliaan yang setara dengan Allah sampai pada salib, wafat sebagai seorang yang menerima hukuman yang paling keji. Keutamaan pengosongan diri ini membuat Kristus dengan sukarela meninggalkan ”kemuliaan-kemapanan-Nya” dan taat, bahkan sampai wafat di salib. Dengan ”sama seperti manusia”, kecuali dalam hal dosa, Kristus mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup berkenan di hadapan Allah.
Pengosongan diri Yesus ini hendaknya juga menjadi teladan kerendahan hati bagi kita. Kadang-kadang kita jatuh dalam kesombongan karena status, kekayaan, pangkat-jabatan, atau kenalan atau karena keahlian dan kemampuan kita. Kita ingin dihormati, diistimewakan dan merasa berhak atas banyak hal. Kita merasa direndahkan ketika orang lain tidak memperlakukan kita sesuai dengan apa yang kita banggakan. Musuh pengosongan diri bukanlah penghargaan dari orang lain, melainkan kesombongan dalam diri kita sendiri.
Keutamaan kerendahan hati ini dapat kita pelajari dalam keluarga melalui hal-hal yang sederhana: kesederhanaan hidup, kemauan untuk bergaul dengan orang sederhana, kerja tangan dan saling membantu dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari, serta membaur bersama dengan saudara-saudari dan tetangga kita.
Ya Bapa, Putra-Mu Yang Agung telah memberikan teladan pengosongan diri. Semoga kami, sebagai murid-Nya, mau mengikuti teladan pengosongan diri-Nya, amin.

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

