Hari Biasa, Pekan Biasa XXII
B. Ludovikus Yosef Francois, Yohanes Gruyer dan Petrus Renatus Raquel, ImMrt.
Warna Liturgi Hijau
Bacaan I: 1 Tesalonika 5:1-6.9-11
Kristus telah wafat untuk kita, agar kita hidup bersama Dia.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika:
Saudara-saudara, tentang zaman dan masa kedatangan Tuhan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kalian sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri di waktu malam. Bila orang mengatakan, bahwa semuanya damai dan aman, maka tiba-tiba kebinasaan menimpa mereka seperti seorang wanita hamil ditimpa oleh sakit bersalin. Maka pasti mereka takkan terluput! Tetapi saudara-saudara, kalian tidak hidup dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kalian seperti pencuri, karena kalian semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu janganlah kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadarlah! Sebab Allah menetapkan kita bukan untuk mengalami kemurkaan, melainkan untuk memperoleh keselamatan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Kristus telah wafat untuk kita, supaya kita tetap hidup bersama Dengan dia, entah kita berjaga entah kita tidur. Maka dari itu hendaklah kalian saling menasihati dan saling membina, sebagaimana memang sudah kalian lakukan.
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 27:1.4.13-14
Aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang hidup.
- Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?
- Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.
- Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!
Bait Pengantar Injil: Luk. 7:16
Seorang nabi besar telah muncul di tengah kita, dan Allah mengunjungi umat-Nya.
Bacaan Injil: Lukas Lukas 4:31-37
Aku tahu siapa Engkau: Engkaulah Yang Kudus dari Allah.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa Yesus turun ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat yang najis dan ia berteriak dengan suara keras, ”Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Yesus membentaknya, ”Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun mengempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, ”Alangkah hebatnya perkataan ini! Dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan
Injil Lukas mengisahkan orang yang kerasukan setan secara unik. Pertama, kerasukan setan itu terjadi di rumah ibadat dan pada hari Sabat. Kita dapat bertanya bagaimana di tempat yang suci, tempat orang berdoa, mendengarkan firman dan menyembah Tuhan, masih ada kuasa setan di sana? Bukankah tempat ibadat adalah tempat yang paling aman karena Tuhan hadir di sana? Bukankan hari Sabat adalah hari yang dikuduskan untuk Allah? Tampaknya, kisah ini mau menunjukkan bahwa setan tidak hanya hadir di tempat- tempat yang angker, tetapi juga bisa hadir dan menunjukkan dirinya dalam rumah ibadat; tidak hanya pada malam Jumat Kliwon (menurut perhitungan orang Jawa), tetapi juga pada hari Sabat.
Kedua, mengapa bisa memanifestasikan diri? Kejadian seperti ini kadang kita jumpai ketika kita sedang mengikuti retret. Firman Tuhan mengusik hati orang dan kuasa kegelapan tidak tahan, lalu mengungkapkan dirinya. Dalam kondisi wajar, tampaknya kita baik-baik saja ketika kita berbuat dosa. Namun, begitu Sabda Tuhan bergema di hati kita, Sabda Tuhan itu membersihkan hati dan pikiran kita dari kuasa kegelapan.
Ketiga, kita disadarkan bahwa ternyata setan juga mengenal Yesus sebagai ”Yang Kudus dari Allah”. Sementara orang-orang yang di sekitar itu mungkin hanya mengenal Yesus sebagai orang Nazaret. Perbedaan mendasar antara setan dan kita adalah bahwa setan mengenal Yesus, tetapi tidak beriman kepada-Nya. Sementara kita berada dalam proses untuk terus mengenal Dia dan mengimani-Nya sebagai Guru dan Tuhan.
Di balik ketiga keunikan ini, yang terpenting adalah Yesus tidak membiarkan setan berbicara dan mengusirnya dari diri orang ini. Tuhan menggunakan kuasa untuk mengusir setan dan membersihkan orang dari kuasanya. Kuasa Tuhan mengatasi segala tempat suci dan hari suci. Artinya, Yesuslah tempat di mana kuasa kegelapan tidak berkuasa dan kuasa setan dikalahkan.
Ya Bapa, semoga kami dikuatkan dalam melawan pengaruh dan kuasa kegelapan yang menyerang
kehidupan kami saat ini, amin.

Sumber: Renungan Ziarah Batin 2025, Penerbit OBOR
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

