SELASA PEKAN BIASA XV
Santo Fransiskus Solanus
Santo Kamillus dari Lellis
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I – Yesaya 7:1-9
Jika kalian tidak percaya, niscaya kalian tidak teguh jaya.
Bacaan dari Kitab Yesaya:
Dalam zaman Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, maka Rezin, raja Aram, dengan Pekah bin Remalya, raja Israel, maju ke Yerusalem untuk berperang melawan kota itu. Namun mereka tidak dapat mengalahkannya. Lalu diberitahukanlah kepada keluarga Daud, “Aram telah berkemah di wilayah Efraim.” Maka hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin.
Bersabdalah Tuhan kepada Yesaya, “Baiklah engkau keluar menemui Ahas, engkau dan Syear Yasyub, anakmu laki-laki, ke ujung saluran kolam atas, ke jalan raya pada Padang Tukang Penatu, dan katakanlah kepadanya, “Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dari Aram dan anak Remalya. Sebab Aram dan Efraim dengan anak Remalya telah merancang yang jahat atasmu, dengan berkata: Marilah kita maju menyerang Yehuda dan menakut-nakutinya serta merebutnya. Lalu kita mengangkat anak Tabeel sebagai raja di tengah-tengahnya.
Beginilah sabda Tuhan Allah, ‘Hal itu tidak akan sampai terjadi, sebab ibu kota Aram adalah Damsyik, dan kepala Damsyik adalah Rezin. Ibu kota Efraim adalah Samaria, dan kepala Samaria adalah anak Remalya. Dalam enam puluh lima tahun Efraim akan pecah, tidak menjadi bangsa lagi. Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya’.”
Demikanlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan – Mazmur 48:2-3a.3b-4.5-6.7-8 – Refren:9d
Allah menegakkan kota-Nya untuk selama-lamanya.
- Agunglah Tuhan dan sangat terpuji di kota Allah kita! Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi;
- Gunung Sion, pusat kawasan utara, itulah kota Raja Agung. Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri sebagai benteng.
- Lihat, raja-raja datang bersekutu, dan maju serentak menyerang. Demi melihat kota itu, mereka tercengang-cengang, kacau-balau, lalu lari kebingungan.
- Kegentaran menimpa mereka di sana; mereka mengerang seperti perempuan yang hendak melahirkan. Tak ubahnya seperti angin timur yang menghancurkan kapal-kapal Tarsis.
Bait Pengantar Injil – Mazmur 95:8ab
Hari ini janganlah bertegar hati tetapi dengarkanlah sabda Tuhan.
Bacaan Injil – Matius 11:20-24
Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, meskipun di sana Ia melakukan paling banyak mujizat. Ia berkata, “Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah Kulakukan di tengah-tengahmu, pasti sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.’
Dan engkau, Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak! Engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Maka Aku berkata kepadamu, ‘Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu’.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Injil hari ini berkisah tentang teguran keras Yesus kepada kota-kota yang telah menyaksikan banyak mukjizat-Nya, namun mereka tetap tidak bertobat. Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum telah melihat kuasa Allah secara langsung, namun hati mereka tetap keras. Yesus bahkan mengatakan bahwa nasib Tirus dan Sidon, kota-kota kafir yang terkenal kejahatannya, akan lebih baik pada hari penghakiman daripada mereka.
Teguran Yesus ini menyentil kita tentang bahaya kebiasaan rohani, tanpa adanya perubahan hati. Melihat dan mendengar tentang kebaikan Tuhan tidak otomatis membuat kita menjadi lebih baik. Justru, semakin besar terang yang kita terima, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk merespons dengan pertobatan dan perubahan hidup. Jangan sampai kita menjadi seperti kota-kota itu, yang dekat dengan sumber berkat, namun tetap jauh dari hati Tuhan. Kesempatan demi kesempatan diberikan, namun penolakan akan membawa konsekuensi yang serius. Marilah kita senantiasa memeriksa hati kita agar tidak menjadi tumpul terhadap panggilan kasih Tuhan.
Ya Tuhan, ampunilah kami karena hati kami sering kali keras dan lalai terhadap kebaikan-Mu. Lembutkan hati kami agar senantiasa terbuka terhadap panggilan-Mu dan menghasilkan buah pertobatan yang sejati. Jangan biarkan kami menjadi orang orang yang dekat dengan terang-Mu, namun jauh dari hati-Mu, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

