Sepanjang perhelatan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025, aula utama selalu dipenuhi semangat kaum muda dari berbagai keuskupan. Tak hanya menggetarkan ruang, tetapi juga hati, melalui lagu-lagu yang mengiringi setiap sesi. Di balik irama dan gerakan yang ditampilkan, tersimpan kisah kebersamaan dan kerja lintas batas yang luar biasa dari tim animasi.

Lintas Keuskupan, Satu Irama

Tim animasi yang bertanggung jawab atas penampilan dan lagu-lagu selama SAGKI 2025 bukan kelompok dari satu wilayah tertentu. Mereka datang dari berbagai keuskupan di seluruh Indonesia, Padang, Pangkal Pinang, Bandung, Malang, Tanjung Selor, Jakarta, dan beberapa lainnya. Mereka merupakan bagian dari KMKI (Karya Misioner Kepausan Indonesia), yang dalam kegiatan ini diamanahkan langsung oleh Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX, Direktur Nasional KMKI sekaligus Ketua Panitia Pelaksana SAGKI 2025.

Seperti dituturkan oleh Frater Sirilus Anantha Deva Hexanno, atau yang kerap disapa Frater Deva, Romo Alfons melihat bahwa kegiatan yang mengundang kaum muda tidak seharusnya hanya berisi rapat dan sesi formal. Ia menginginkan sesuatu yang lebih hidup, lebih segar, dan lebih “muda”. Dari sinilah tim animasi dibentuk, sebagai wujud kreativitas pastoral, yang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menghidupkan semangat sinodalitas melalui musik dan animasi.

Proses Panjang di Balik Theme Song

Salah satu karya paling mencolok dari tim animasi adalah theme song resmi SAGKI 2025. Lagu ini lahir dari proses kolaboratif yang tidak mudah di tengah keterbatasan waktu. Frater Deva mengisahkan bahwa pembuatan lagu dan liriknya dilakukan sepenuhnya oleh tim animasi sendiri. Semua ide dikumpulkan secara virtual, melalui grup whatsapp dan pertemuan zoom, karena para anggota tersebar di berbagai keuskupan

“Awalnya kami hanya punya lirik dan melodi dasar,” ujarnya. “Kami mendengarkan hasil aransemen secara online, lalu mendiskusikan bagian demi bagian sampai terasa pas.”

Menariknya, gerakan animasi untuk lagu ini baru dibuat sehari sebelum perekaman video resmi, tepatnya pada 28 Oktober. Keesokan harinya, pada 29 Oktober pagi, video itu direkam dan kini telah tayang di kanal resmi Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI.

Proses tersebut menunjukkan semangat improvisasi dan gotong royong. “Mungkin terlihat lucu-lucu karena kami baru bertemu langsung di hari itu,” tambahnya. Namun justru di sanalah kekuatan mereka dalam spontanitas yang lahir dari semangat kebersamaan.

Lirik theme song SAGKI 2025 tidak disusun secara sembarangan. Para animator mengawali dengan merenungkan tema besar acara, yaitu “Sinodalitas: Berjalan Bersama sebagai Umat Allah.” Mereka mencoba memahami makna dari konsep-konsep seperti simultaneitas dan communio, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa musikal yang mudah diingat dan menyentuh hati.

“Awalnya bentuknya seperti puisi,” kenang Frater Deva. “Kami menulis potongan-potongan kalimat yang menggambarkan perjalanan bersama dari Sabang sampai Merauke, lalu perlahan kami padukan hingga menjadi lirik yang utuh.”

Dari proses ini lahirlah lagu yang bukan hanya indah didengar, tetapi juga menjadi refleksi iman kolektif, bahwa Gereja dipanggil untuk berjalan bersama, saling mendengarkan, dan saling menguatkan.

Lebih dari Sekadar Lagu

Selain theme song, tim animasi juga mempersiapkan sekitar 20 lagu animasi lainnya yang berasal dari berbagai keuskupan di Indonesia. Lagu-lagu ini sebelumnya telah digunakan oleh para animator dan animatris setempat, dan kini dibawa ke panggung nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap karya lokal.

Dengan demikian, tim animasi tidak hanya menjadi penghibur, tetapi juga representasi dari Gereja Indonesia yang beragam namun bersatu. “Melalui musik dan gerak, kami ingin menunjukkan bahwa Gereja itu hidup, penuh warna, dan tumbuh dari umat sendiri,” kata Frater Deva.

Refleksi: Gereja yang Bergerak Bersama

Bagi tim animasi, keterlibatan dalam SAGKI bukan sekadar tampil di depan peserta, tetapi juga menjadi wujud nyata dari prinsip berjalan bersama sebagai satu tubuh. Mereka berharap agar semangat ini terus bergema setelah SAGKI berakhir, agar Gereja tidak berhenti pada seremoni, melainkan terus hidup dalam kebersamaan dan kolaborasi.

“Yang kami harapkan, SAGKI tidak hanya jadi acara besar, tetapi menjadi pengalaman berjalan bersama yang sungguh nyata antara para uskup, imam, dan umat,” tutup Frater Deva.

Tim Animasi SAGKI 2025

  1. Maria Vestina Zai (K.Padang)
  2. Catrine Gelu Hengky (K.Tanjung Selor)
  3. Margareta Nicken (Pangkalpinang)
  4. Sirilus Anantha Deva Hexanno (Malang)
  5. Kristofora Wiwi Daruwika Dewi (Bandung)
  6. Fransiska Endah Permata Sari (K. Jakarta)
  7. Timothy Putra Ludovicus (Malang)
  8. Kenny Stevanus Pangemanan (Manado)