Umur empat setengah tahun, Sunarman Sukamto sudah bisa berlari dan bermain seperti anak lainnya. Hingga suatu hari, panas tinggi menyerangnya selama enam bulan. “Step kedua membuat saya tidak sadar, tidak bisa buka mata dan mulut, seperti mati suri,” kenangnya. Sejak saat itu, ia hanya terbaring di amben. Setahun kemudian, ketika sadar, dokter menyatakan ia terkena polio. Sejak itulah Sunarman menjadi penyandang disabilitas.

Menurut hasil pemeriksaan rehabilitasi medik, kekuatan kaki kanan dan kirinya kini masing-masing tinggal 80% dan 60%. Namun, bukan angka itu yang mengukur semangat hidupnya.

Awalnya, Sunarman tidak disekolahkan. Tapi rasa ingin tahunya besar. “Saya lihat kakak-adik saya punya banyak cerita seru di sekolah, saya jadi ingin punya cerita juga,” ujarnya. Meski harus menghadapi anak-anak nakal yang mengejeknya, ia tidak gentar. “Saya disebut pekok, tapi saya pikir, kalau saya di rumah saja, saya tidak punya cerita. Jadi saya tetap sekolah,” katanya sambil tersenyum.

Ia menempuh pendidikan dasar di madrasah, lalu melanjutkan ke SMP Sanjaya, SMA di Solo, dan sempat kuliah di bidang hukum serta keguruan, meski keduanya tidak sempat diselesaikan. “Saya dulu ingin jadi romo,” ungkapnya, “karena saya lihat di kitab suci, Yesus melakukan banyak mujizat. Saya ingin jadi romo yang bisa menyapa teman-teman difabel.” Namun harapannya sempat pupus karena tidak pernah melihat satu pun romo yang difabel.

Pertemuan dengan tokoh gereja yang memiliki anak difabel mengubah cara pandangnya. Ia mulai memahami bahwa menjadi difabel bukanlah penghalang untuk berkarya. “Menjadi difabel itu tidak masalah ketika lingkungan menerima dan mendukung,” ujarnya tegas.

Kesadaran baru itu menuntunnya bergabung dalam gerakan difabel di Solo. Ia bersama delapan mahasiswa lainnya membentuk Himpunan Mahasiswa Difabel Solo, wadah untuk saling menguatkan. Dari situlah perjalanannya sebagai aktivis inklusi dimulai.

Sejak tahun 2008, Sunarman menjabat sebagai Direktur di lembaga Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RPM), gerakan yang ia rintis bersama rekan-rekannya. “Gerakan ini kami sebut deklarasi kesehatan untuk Semua. Kami ingin memastikan semua layanan kesehatan tersedia di kota dan bisa diakses siapa pun, termasuk difabel,” jelasnya.

Ia menyoroti bahwa kursi roda, alat bantu, atau fasilitas medis saja tidak cukup. “Kursi roda tidak akan membuat saya mandiri dan bermartabat kalau rumah saya sendiri tidak ramah kursi roda,” katanya. Baginya, tantangan terbesar bukan pada tubuh, melainkan pada mindset masyarakat, kultur diskriminatif, dan infrastruktur yang belum inklusif.

RPM bekerja dengan pendekatan komunitas: melatih keluarga, lingkungan, bahkan tokoh masyarakat agar lebih memahami kebutuhan difabel. “Kita ingin mereka ikut membuat kebijakan, bukan hanya jadi penonton,” ujarnya.

Pada tahun 2022, RPM menggelar Festival Hak Asasi Manusia (HAM) yang dihadiri perwakilan Komnas HAM. Acara itu menjadi bukti bahwa gerakan yang dimulai dari Solo kini bergema hingga tingkat nasional dan Asia-Pasifik. “Kami aktif di jaringan Asia-Pacific Community-Based Rehabilitation,” kata Sunarman. Hal ini memberi bukti bahwa perjuangan Sunarman dan rekan-rekan sudah diakui, meski masih panjang perjalanannya.

Harapan untuk Gereja dan Dunia

Meski banyak kemajuan, Sunarman masih menyimpan harapan besar. Ia ingin gereja lebih ramah difabel, mulai dari arsitektur bangunan hingga cara pandang umatnya. “Bangunan fisik gereja harus mendukung kami yang difabel,” tegasnya. Ia juga menyerukan agar sekolah-sekolah Katolik membuka ruang pendidikan inklusif dan pengusaha Katolik memberi kesempatan kerja bagi difabel.

Bagi Sunarman, keberadaan difabel bukanlah beban, melainkan bagian dari keutuhan kemanusiaan. “Kami tidak butuh dikasihani,” katanya lembut, “kami hanya ingin diakui dan diberi ruang untuk berkontribusi.”

Dari seorang anak kecil yang nyaris kehilangan kesadaran hingga menjadi pemimpin gerakan inklusi, kisah Sunarman Sukamto adalah perjalanan tentang keberanian untuk hidup sepenuhnya, melampaui batas fisik, dan menyalakan harapan bagi banyak orang.